Dhamma Talk
![]()
Pertanyaan-Pertanyaan Super dan Jawaban-Jawaban Super
1. Didalam vipasana yg pernah saya baca, disebutkan begini : mengamati mental secara langsung sangat susah, tapi tekniknya adalah mengamati keluar masuknya nafas sebagai salahsatu manifestasi mental lebih mudah.
Mengamati keluar masuknya napas, disebutkan bisa membersihkan memori-memori buruk alam bawah sadar. bagaimana pendapat bapak?
2. Melihat segala sesuatu dalam hidup ini sebagaimana adanya atau apa adanya, mengamati segala sesuatu secara pasif, lalu tidak bolehkah kita mengubah sesuatu dalam hidup ini?? Misalkan saya dalam keadaan menganggur, saya sadar saya mengganggur, lalu bukankah tindakan saya selanjutnya harus berupaya keras mencari pekerjaan?? Apakah sy harus berhenti pada tingkat saya sadar sedang menganggur, kemudian tidak melakukan apa2??
3. Apakah kita perlu selalu berpikir positif pak?? Atau jika muncul pikiran negatif, cuma hanya di sadari saja?
4. Apakah dalam kehidupan sehari2, kita perlu mengendalikan pikiran atau mengendalikan diri?? Atau pikiran tdk di kendalikan tetapi melihat semuanya yang kebetulan di lihat oleh mata sebagaimana adanya saja, begitu pak?
5. Bagaimana aplikasi vipassana dalam kehidupan sehari2, misalkan dalam kehidupan sehari2 kita selalu di hadapkan pilihan, begitu pagi bangun tidur kita sdh di hadapkan pilihan, padahal didalam pemilihan mengandung konflik, bagaimana sebaiknya kita sehari2, apakah memilih atau tidak memilih???
6. Apakah ada hubungan pak, antara kearifan dg misalkan kesejahteraan, kesuksesan pribadi??? Tampaknya jika meditasi tdk berdampak secara positif terhadap peningkatan kwalitas hidup, kesejahteran, kebahagiaan, bukankah meditasi di jaman ini bisa tdk laku?
7. Apa yang disebut Pikiran terlatih dan pikiran tak terlatih.
8. Kenapa Metta disebut lokiya dhamma, apa arti lokiya dhamma?
9. Mana yang sebaiknya kita lakukan dalam menuju pembebasan, Vipassana Bhavana Atau Samatha Bhavana?
10. Darimana seseorang memulai latihannya saat ia pertamakali masuk Agama Buddha?
11. Saya mengikuti sebuah kelas meditasi, dimana gurunya mengajar agar cukup sekedar mengawasi pikiran. Misal, saat senang, pikiran itu diawasi. Saat marah, diawasi, dst.Pertanyaan saya, ketika pikiran berhenti apa kesadaran tetap ada?
12. Apa yang dimaksud melihat ke dalam diri, yang sering dianjurkan oleh para bijak?
13. Menurut saya diri itu ada. Yaitu Diri Sejati, cuma itu tak tampak. Bahkan Tuhan pun Diri juga.
———————————————————————————————
1. “mengamati mental secara langsung sangat susah, tapi tekniknya adalah
mengamati keluar masuknya nafas sebagai salahsatu manifestasi mental lebih mudah.”
Kata siapa susah? Orang yang ngomong itu malas saja melakukannya. mengamati mental adalah bagian dari cittanupasana dan vedananupassana, sedang mengamati nafas adalah bagian dari kayanupassana.
Jika guru Anda berkata bagian mental susah, bagian fisik mudah, berarti guru Anda bukan seorang bhikku yang benar.
“Mengamati keluar masuknya napas, disebutkan bisa membersihkan memori-buruk alam bawah sadar. bagaimana pendapat bapak?”
Benar juga sih, soalnya kita menjadi tak ada waktu untuk melekat pada indra-indra. Tapi sebenarnya latihan-latihan Vipassana yang lain juga membersihkan bawahsadar. Dan sebenarnya lagi, bukan bawahsadar buruk saja dibersihkan, tapi juga yang baik.
Vipassana itu sebenarnya cara melihat dunia sebagaimana seharusnya, sehingga tak menjadi dunia, melainkan menjadi Nibbana.
Cuma dengan kosongnya bawahsadar, seseorang bisa ke Nibbana.
Metode manusia dalam berilmu adalah, serap dari indra, dipikir, lalu disimpan di bawahsadar, lalu keluar dalam bentuk pikiran/ucapan/perbuatan.Metode Buddha adalah, cukup dengan menyadari semua ke anatta an, lalu akhirnya buahnya adalah dicerahkan oleh ke anatta an, dan berilmu langsung dari kosmos. bukan dari bawahsadar lagi.
2. “Melihat segala sesuatu dalam hidup ini sebagaimana adanya atau apa adanya, mengamati segala sesuatu secara pasif“
Salah Anda. Melihat hidup seperti apa adanya bukan berarti mengamati secara pasif. Lagipula terlepas dari itu, tak ada sesuatu yang disebut “mengamati secara pasif”. Mana ada manusia yang pasif. Setiap manusia, apapun agamanya, setinggi apapun kesadarannya, entah malas atau rajinnya ia, tetap saja tak mungkin disebut pengamat pasif. Saya rasa ‘meditator’ yang mengajari Anda pastilah orang gila, atau minimal setengah gila. Ngomong-ngomong, Anda sudah tahu kan arti “mengamati segala sesuatu sebagaimana apa adanya”? artinya memperhatikan tanpa membiarkan diikuti oleh perasaan, yg mengakibatkan diikuti lagi oleh keinginan – Nivarana Pahana Vagga An 1.2
“Melihat segala sesuatu dalam hidup ini sebagaimana adanya atau apa adanya, mengamati segala sesuatu, lalu tidak bolehkah kita mengubah sesuatu dalam hidup ini“
Tolol sekali Anda. Mengamati apa adanya bukan berarti Anda tak melakukan perubahan apapun. Justru dengan berlatih mengamati apa adanya, Anda telah melakukan perubahan besar dalam hidup Anda. Goblok.
“mengamati segala sesuatu, lalu tidak bolehkah kita misalkan saya dalam keadaan menganggur, saya sadar saya mengganggur, lalu bukankah tindakan saya selanjutnya harus berupaya keras mencari pekerjaan?? Apakah sy harus berhenti pada tingkat saya sadar sedang menganggur, kemudian tidak melakukan apa2??”
Vipassana memang latihan untuk kaum bhikku saja. Kok baru sadar sekarang.
Kalau pekerja harian gak mungkin Vipassana. Vipassana itu non-siklus.
Jika setiap pagi Anda makan, amati “makan”, amati “buka pintu mobil”, “bernafas”, “sampai di kantor”, dst. Setiap hari seperti itu, mana mungkin jadi Buddha. Bahkan itu bukan Vipassana, karena menahan perkembangan mental Anda sendiri. “ya.. ya… begini terus… sebagai pekerja yang spiritualist banget”.Vipassana itu cuma untuk orang yang tak terikat dengan rutinitas duniawi kok. Bukan untuk kaum awam seperti Anda.Misalkan saja, perkembangan latihan Vipassana selanjutnya akan membuat orang tak melakukan seks lagi. Karena jika melakukan seks, berarti tak melihat tubuh wanita seperti apa adanya, melainkan melihat dengan membiarkannya diikuti perasaan, yang membuahkan keinginan, lalu membuahkan kemelekatan, yaitu nafsu bersetubuh.
3. “Apakah kita perlu selalu berpikir positif pak??”
Siapa bilang Buddha pernah menyuruh kita berpikir positif?
Buddha tak pernah memotivasi orang.Buddha tak pernah mentoleransi orang.
Buddha tak pernah menyuruh berpikir positif.
Jika menurut Anda Saya salah, tunjukkan argumen Anda, disertai sutta yang relevant (ada sutta mengandung kata “toleransi”, itu adalah kesalahan penterjemahan).
“Apakah kita perlu selalu berpikir positif pak?? Atau jika muncul pikiran negatif, cuma hanya di sadari saja?”
Jika ada pikiran positif, jangan memihak padanya.
Jika ada pikiran negatif, jangan memihak padanya.
Itu baru Vipassana (melihat apa adanya), itu baru Upekkha (mental seimbang).
4. Mengendalikan diri dan mengendalikan pikiran itu sama saja. Bukan berarti diri itu artinya pikiran, melainkan itu cuma kata panggilan dari Buddha untuk menyebut 5 kelompok tubuh. Melihat apa adanya itu salah satu pengendalian diri juga. Tapi jika Buddha yang bicara seperti itu, dalam konteks buddhism, tentunya tak sebetas Vipassana atau meditasi saja. Melainkan seluruh tatacara buddhism, seperti pelaksanaan sila misalnya.
5. Tak ada itu. Anda cuma terpengaruh bacaan-bacaan religious yang dibuat orang barat yang merupakan topeng orang Hindu India.
Tak ada istilah “dihadapkan pada pilihan”. Tak usah didengar, karena nanti hidup Anda buruk akibat ajaran yang salah dan buruk.
Yang benar adalah “dihadapkan pada keputusan”. Jadi, hidup ini adalah keputusan. Keputusan tepat menghasilkan kehidupan tepat. Begitu saja.
6. Tentu. Pertanyaan anda ini bagus. Karena banyak orang yang dianggap bijak, tapi saat dipukul tersungkur. Percuma. Yang sebenar-sebenarnya kebijakan sebetulnya bisa berbuah pada kesuksesan dalam kehidupan di segala bidang. Ngomong-ngomong, bhikku-bhikku di jaman Buddha kurus-kurus sekali, tapi mereka daya supernatural sangat optimal akibat Dhamma sudah sempurna. Mereka gak bisa dibandingkan dengan bhikku-bhikku loyo jaman sekarang.”Siapa yang masuk agama buddha ia akan mendapat segalanya” – Abhisanna Sutta. Itu jawaban untuk pertanyaan Anda.
Jadi, kalo benar-benar bijak, seharusnya hidupnya memang sukses.Meski untuk kesuksesan duniawi sekalipun.
7. Pikiran terlatih = pikiran yang bergerak sendiri menghindari rangsangan-rangsangan yang bisa menimbulkan salah satu dari kebodohan, kebencian, ketamakan.
Pikiran tak terlatih = pikiran yang melekat setiapkali bertemu kenyamanan dan tersiksa saat bertemu ketaknyamanan.
8. Lokiya Dhamma = ilmu yang berguna untuk kehidupan sehari-hari para makhluk 3 alam besar ini.
Lokuttara Dhamma = ilmu yang dapat membebaskan para makhluk 3 alam besar ini.
Metta termasuk dalam Lokiya Dhamma, karena dengan mempraktekkan Metta, seseorang belum tentu menjadi Buddha. Karena cinta tak ada hubungannya dengan pembebasan. Seseorang menjadi baik bukan karena ia menambah metta dalam bawahsadarnya, tapi karena ia selalu konsentrasi memperhatikan segala sesuatu sebagaimana apa adanya. Metta adalah salah satu sarana agar terlahir kembali sebagai manusia, atau di alam yang lebih tinggi.
9. Menurut Saya mereka saling mendukung. Yaitu, vipassana dulu, lalu bhavana, lalu vipassana lagi, barulah jadi Buddha. Seperti yang dikatakan Buddha dalam Sutta Tapak Buddha dari Agama Buddhi:
“Dengan memiliki ariya sila, ia merasakan dalam dirinya kebahagiaan yang tak tercela. Ia menjadi orang yang melihat bentuk melalui matanya, menyadari tanpa bayangan dan keistimewaan, bila ia membiarkan matanya tak terjaga, maka akusala dhamma seperti keserakahan dan pikiran jahat akan menyerangnya. Ia menjaga indera mata, ia menahan diri dengan indera mata. Sewaktu mendengar dengan telinga …. sewaktu mencium dengan hidungnya … sewaktu mengecap dengan lidahnya … sewaktu menyentuh dengan badannya … sewaktu mengerti Dhamma dengan pikirannya … ia menahan diri dengan indera pikiran. Dengan memiliki ariya sila, ia merasakan dalam dirinya kebahagiaan yang tak tercela. Ia meninggalkan keserakahan duniawi (abhijjha loka), ia hidup dengan pikiran yang bebas dari keserakahan, ia menyucikan pikiran dari keserakahan. Ia meninggalkan kebencian dan dendam (byapadapadosa), ia hidup tanpa pikiran membenci, mengharapkan kesejahteraan semua makhluk ia membebaskan pikiran dari benci dan dendam. Ia meninggalkan kelesuan dan rasa ngantuk (thinamiddha), ia hidup tanpa kelesuan dan ngantuk, menyadari sinar, berkesadaran penuh, ia membebaskan pikiran dari kelesuan dan ngantuk. Ia meninggaikan rasa takut dan kekhawatiran (uddhaccakukkucca), ia hidup tanpa rasa takut dan kekhawatiran, ia membebaskan pikiran dari rasa takut dan cemas. Ia meninggalkan keragu-raguan (vicikiccha), ia hidup tanpa keragu-raguan dan tidak meragukan kusala dhamma, ia membebaskan pikiran dari keragu-raguan. Setelah meninggalkan lima rintangan (pancanivarana), pikiran kurang sempurna yang melemahkan kebijaksanaan, cukup dapat menahan diri dari nafsu indera, dapat menjauhi diri dari akusala dhamma ia mencapai dan berada dalam Jhana I yang diikuti oleh ‘usaha pikiran untuk menangkap obyek’ (vitakka) dan ‘pikiran telah menangkap obyek’ (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) yang muncul karena ketenangan (viveka).”
Jadi, sesudah orang itu punya ketrampilan dalam mengatasi gejolak mental dan ketrampilan dalam menangani obyek pikiran, barulah ia masuk ke jhana 1.Sang Buddha sendiri memulai dari bervipassana, lalu bermeditasi hingga mengetahui dhamma, lalu ia bervipassana lagi hingga menjadi Buddha.
10. Saat seseorang masuk Agama Buddha, ia melatih munculnya 5 moral/sila pada dirinya. Guna sila, adalah memutuskan hendak memperlakukan seperti apa setiap ilmu yang datang padanya sewaktu ia belajar dan berprakti nanti.
Dalam perjalanan waktu, timbul panna/kebijakan pada dirinya.Kebijakan ini lalu digunakan untuk bisa berkonsentrasi/samadhi.
Sila – Panna – Samadhi adalah nafas dari kedelapan ruas jalan mulia. Dikatakan Buddha sebagai magga sacca (jalan menuju lenyapnya penderitaan).
Jadi, seseorang tak bisa begitusaja latihan Vipassana, jika ia non-buddhist. Meski mengikuti pelatihan Vipassana sekalipun. Karena tanpa sila, ia tak bisa menahan arus informasi agar menetap pada otaknya, dengan demikian ia tak bisa membangun panna. Dan dengan sendirinya ia tak punya samadhi.
Tanpa Samadhi, seseorang tak bisa jadi Buddha, karena samadhi adalah salah satu dari 8 faktor yang membantu seseorang agar tercerahkan.
11. Anda sudah mengikut pada guru yang salah.
Bukan begitu meditasi yang diajarkan Sang Buddha.
Bahkan tak mungkin pikiran bisa berhenti.
Itu bahkan bukan meditasi, melainkan cuma kelas Vipassana. Dan ‘vipassana’ yang diajarkan guru Anda pun salah pula.Vipassana bukanlah mengawasi pikiran saat ia marah, senang, dsb.
Apa pernah Buddha menginstruksikan begitu?
Buddha menginstruksikan begini, “saat marah ia mengetahui ia sedang marah, saat senang ia mengetahui sedang senang”. Tujuan bervipassana seperti ini, gak berhenti di tahap melihat seperti itu, tapi saat sadar, langsung ia menjadi tak marah, menjadi tak senang, dst… dst yang baik-baik.. hingga tercapai 19 Nyana dan tercerahkan.
Sekarang, guru Anda itu pasti mengajarkan, “saat marah ia menyadari ia sedang marah, saat senang ia menyadari sedang senang”, dan saat anda menyadari pikiran anda sedang marah, yang menyadari itu disebut kesadaran, sedang pikiran yang sedang marah itu disebut pikiran. bukankah begitu? Inilah yang menyesatkan banyak orang.
Karena saat Anda sedang marah atau sedang senang mana mungkin kalimat “sadarilah saat anda marah” menjadi relevan? Mana mungkin, karena kesadaran anda justru sedang lenyap di saat anda senang dan marah tersebut.
Jadi kalo sedang marah, ya berarti vipassana sedang gak ada pada saat itu, entah karena lupa, atau karena masih putus-putus mengerjakannya. Kalo sedang marah, sedang senang, berarti vipassana sedang gak ada, kesadaran sedang gak ada. pikirannya ada, pikiran yang tak terlatih, karena jalan ke sana kemari tanpa dikendalikan. menjadi marah, senang, dsb.
Kalo sedang menyadari pikiran, maka gak pernah ada marah, dsb. Marah anda dan kesadaran Anda gak mungkin pernah ketemu. Karena itu ajaran “sadarilah di saat anda sedang marah”, menjadi tak revelan. Bahkan sama sekali tak pernah diajarkan sang Buddha di sutta manapun.
12. Melihat ke luar: Melihat dengan pikiran tak terlatih.
Contoh: Melihat dada cewek woahh senang, melihat orang bijak wooahh bagus, dsb.
Melihat ke dalam: Melihat dengan pikiran terlatih.
Contoh: Melihat dada cewek sebagai dada cewek, melihat orang bijak sebagai orang bijak, dsb.
Orang yang melihat ke luar cenderung untuk menjadi.
Orang yang melihat ke dalam sedang menuju kebudhaannya.
13. Jika Kita sendiri adalah Diri, maka kita bisa bicara, “Saya mau alam ini begini begitu”.
Jika Allah itu Diri, maka kita bisa bicara, “Allah, Saya mau alam ini begini begitu”
Jika Tuhan itu Diri, kita tak perlu kerja. Tinggal bicara, “Tuhan, Saya mau alam ini begini begitu.”
Jika pikiran kita sendiri adalah Diri, maka kita bisa bicara “Saya mau alam ini begini begitu”
Jika ada sesuatu yang tak tampak yang kita sebut Diri Sejati dengan kata topeng “Kesadaran”, maka kita tak perlu melakukan pergolakan batin, tak perlu meditasi, tak perlu berusaha menujuNya, dan bisa berkata “Saya mau alam ini begini begitu”.
Mahavatar berkata
Hehe… Tak usah bingung melihat ketangkasan Saya dan kecerdikan Saya dalam berpendapat.
Maklum, Saya satu-satunya Buddha yang ada di dunia saat ini.
Hehehe…
Mahavatar berkata
Hartono bertanya:
1. Apakah kata “disadari” bisa diganti dengan “dipikirin”?
2. Apakah kata “disadari” bisa diganti dengan “diketahui”?
3. Saat kita menyadari pikiran kita sedang marah, yang menyadari itu disebut kesadaran, sedang pikiran yang sedang marah itu disebut pikiran. Betulkah begitu?
4. Apa beda memikirkan sesuatu dengan menyadari sesuatu?
5. Apa beda agama buddha dan agama buddhi?
Vamabuddha menjawab:
1.Bisa saja. Cuma, artinya beda.
Disadari = diketahui oleh pikiran entah karena adanya emosi atau persepsi.
Dipikirin = diketahui. Bisa sesudah disadari, atau sebelum disadari.
2. Tak bisa. Artinya kan beda.
Disadari = diketahui oleh pikiran entah karena adanya emosi atau persepsi.
Diketahui = entah dilihat, entah didengar, dsb.
3. Salah.
Yang betul adalah:pikiran yang marah itu disebut pikiran tak terlatih.
pikiran yang melihat/mengetahui saat hampir marah disebut pikiran terlatih.
Dan pertanyaan Anda itu tak mungkin ada. Karena tak ada orang yang sadar saat ia sedang marah. Cuma 2 hal bisa terjadi:
a. Jika sudah marah berarti terlambat sadar.
b. Jika sadar, berarti marahnya sudah lewat beberapa saat. Jadi, bukan sadar diwaktu marah, karena itu tak bisa terjadi.
Jadi, Vipassana, adalah menggunakan pikiran terlatih untuk memperhatikan pikiran tak terlatih.
Sesudah pikiran tak terlatih itu diubah menjadi pikiran terlatih, pikiran yang mengerti/memahami semuanya ini disebut kesadaran.
4. memikirkan sesuatu = mengetahui sesuatu dengan pikiran.
menyadari sesuatu = mengetahui sesuatu dengan pikiran terlatih.
5. agama buddha adalah agama yang fokus pada usaha-usaha/latihan-latihan/metode pencapaian menjadi buddha.
agama buddhi adalah agama yang berkembang pada tataran buddhi/kesadaran. yang kemudian bisa bicara apa saja, tentang islam, kristen, hindu, dan buddha.
Mahavatar berkata
Ani bertanya:
Di komunitas buddhist, sering digunakan salam penutup “semoga seluruh makhluk berbahagia”. Apakah mungkin untuk menerapkan ucapan yang tampaknya seperti lip service ini?
Vamabuddha menjawab:
Orang-orang agama buddha yang ada sekarang salah. Karena itulah saya membangun Agama Buddhi yang lebih benar.
Buddha tak pernah berkata begini:
“Sore ini saya mau ceramah di desa sebelah. Sekarang Saya pamit dulu. Semoga seluruh makhluk berbahagia”
Tak pernah.
Karena sewaktu Sang Buddha masih hidup, itu bukanlah salam, apalagi untuk dijadikan affirmasi positif.
Buddha cuma mengucapkan kalimat itu jika waktunya tepat dan ada relevansinya dengan ucapannya sebelumnya.
Misalnya saja, baru mengucap hizib/paritta cukup lama, lalu saat selesai Ia mengucap “semoga seluruh makhluk berbahagia”.
Maksudnya adalah, berbahagia karena ucapan-ucapan dan pengajaran-pengajarannya tadi.
Jadi, bukan cuma sekedar di tempel di penutup surat atau dialog.
Hehe.
Mahavatar berkata
Banyak yang salah di agama buddha. Misalnya saja, apa yang disebut ‘meditasi cinta kasih’.
Cuma karena Sang Buddha pernah berkata “ia akan duduk. lalu ia akan memancarkan cintakasihnya ke selatan, timur, barat.” lalu ucapan ini diconvert oleh bhikku-bhikku tolol sebagai ‘meditasi cinta kasih’ agar setelah itu timbul cinta, tak menjadikan itu betul-betul sebagai meditasi cinta.
Buddha tak pernah mengajarkan meditasi cinta dilakukan dengan pengulangan kalimat “semua mahluk berbahagia” seperti yang diajarkan bhikku-bhikku jaman sekarang. Melainkan dengan cara memasang orang yang kita benci sebagai obyek meditasi kita lalu mulai bermeditasi sampai kita tak benci lagi padanya.
Mahavatar berkata
Buddha tak pernah punya proyek-proyek visualisasi, affirmasi, dan segala bentuk ajaran motivasi lainnya.
Silahkan ajukan sutta yang bertentangan dengan klaim Saya jika ada.
Pengetahuan murni “anatta-sammassana-nana” (bahwa sesuatu tanpa aku).
Seseorang tak akan berpikir “dunia ini aku. aku bertanggungjawab atas dunia. aku bisa membuat dunia begini begitu dengan aku begini begitu”.
Jadi, tak benar jika Anda berkata, “semoga seluruh dunia bahagia” maka dunia akan betul-betul bahagia.
Karena Anda bukanlah Atta/diri nya dunia.
Mahavatar berkata
Saat Sang Buddha sebagai nabi mendapat wahyu dari Brahma Sahampatti untuk mengajar pada dunia. Ia cuma mampu mengajar yang bibit kammanya sudah matang untuk menjadi muridnya, sebagaimana kata Brahma sendiri, “meski banyak yang bodoh, kan ada juga di antara mereka yang sudah pintar. Sudah siap untuk diajari.”
Mahavatar berkata
Sang Buddha tak mampu mengubah dunia.
Mahavatar berkata
Orang-orang baik yang bermunculan akibat diajarkan Dhamma adalah karena memang buah perbuatan baiknya sendiri di masalalu yang mengakibatkan di jaman sekarang bisa bertemu Buddha dan Dhamma.
Mahavatar berkata
“Satu-satunya temanmu adalah kamma baikmu. Satu-satunya musuhmu adalah kamma burukmu” – Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.
Mahavatar berkata
Karena itulah Sang Buddha berkata, “orang yang sendiri jauh lebih baik daripada berteman dan berkeluarga“.
Mahavatar berkata
Karena teman dan keluarga tak menyumbang apapun bagi peningkatan mental. Selain dari keterikatan demi keterikatan.
Mahavatar berkata
“Jikapun kamu tetap mau berteman, pertemanan religius jauh lebih baik daripada pertemanan gossip” – Buddha.
Mahavatar berkata
“Jangan berteman dengan orang bodoh” – Buddha.
“Daripada berjalan dengan orang bodoh, jauh lebih baik berjalan sendiri” – Buddha.
Mahavatar berkata
Berarti, jika mau menyadarkan orang bodoh, kamu harus jadi master dulu. Baru bergaul dengannya untuk jadi gurunya. Bukan temannya.
Mahavatar berkata
Keke bertanya:
MO NANYA NIH …. KALAU SAYA AMATI, KENAPA YA PARA BIKSU DAN PANJENENGAN KOK MENGHINDARI “KENIKMATAN” DUNIA, PADAHAL KENIKMATAN TERSEBUT BISA DIPEROLEH DENGAN CARA LEGAL / HALAL.
SEOLAH MEMANG TIDAK MENGINGINKAN PRODUK DUNIA INI …. APAKAH HIDUP DIDUNIA INI MEMANG HARUS MENDERITA / MENGHINDARI KENIKMATAN DUNIA ???, ATAU HANYA SEBAGAI UPAYA BIAR BISA MENGENDALIKAN RASA / KEINGINAN / NAFSU ….
APA ADA YANG SALAH DENGAN PRODUK DUNIA INI ….
Vamabuddha menjawab:
Pertanyaan Anda itu baik dan bagus, karena memang sudah sesuai dengan tingkat evolusi pikiran Anda. Bukan pertanyaan yang dibuat-buat dalam rangka mengedepankan agama Anda.
Jawaban Saya adalah, seluruh buddhist memang diajarkan Sang Buddha berbuat seperti itu.
Dan Sang Buddha pun tak pernah berkata, “ini cuma untuk bhikku saja. Untuk kaum awam tak perlu”.
Buddha tak pernah memilah ajaran menjadi ajaran awam dan ajaran bhikku.
Buddha cuma mengajar “Buddhism itu ya seperti ini. Kalau sanggup jadi pengikut Saya/bhikku/buddhist, kalau tak ya jadi penonton/puthujana saja”.
Para penonton atau puthujana inilah yang belum sanggup seperti itu. Cuma para buddhist/bhikku saja yang sanggup.
Pertanyaan Anda akan Saya jawab di kotak komentar sesudah ini.
Mahavatar berkata
“KENAPA YA PARA BIKSU DAN PANJENENGAN KOK MENGHINDARI “KENIKMATAN” DUNIA, PADAHAL KENIKMATAN TERSEBUT BISA DIPEROLEH DENGAN CARA LEGAL / HALAL.”
Kenikmatan dihindari karena setiap pikiran memenuhi satu kenikmatan akan memberi sinyal padanya bahwa “kenikmatan bisa dipenuhi”, dan itu adalah hidup. Bukan kebhikkuan. Sedang jika Anda bertanya pada bhikku, maka akan dijawab, “dikarenakan setiap satu kenikmatan akan mengundang satu bentuk penjadian/bhava”. Nah, penjadian inilah yang kita coba hindarkan sebagai buddhist, dikarenakan itu adalah salah satu mata rantai samsara, yang mengikat kita dari kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Lanjutan penjelasan Saya akan Saya tulis di kotak komentar berikutnya.
Mahavatar berkata
Jadi, ada kenikmatan, ada pemenuhan, ada penjadian. ada hidup. Nah, orang-orang buddhist pada gak mau hidup dan mati lagi. Makanya kami gak mau nikmat.
Mahavatar berkata
Selain gak mau nikmat kami juga gak mau susah. Nah, susah ini pun ada karena penolakan dan harapan akan nikmat itu muncul kembali. Jadi, nikmat justru memancing susah di masadepan. Sekalipun bagi para motivator ternama, tetap saja mereka susah.
Karena ilmu mereka adalah untuk jadi pemenang, untuk mengalahkan susah, untuk nikmat terus. Untuk bisa menulis di akhir atau awal buku mereka:
“di tengah-tengah keramaian orang, ada seorang lelaki segar yang tenang dengan keluarganya. dengan tenang ia membimbing keluarganya naik mercy, lalu bersiap untuk berlibur ke hawaii. lelaki itu adalah saya. dahulu, 10 tahun yang lalu saya tak begitu.. saya adalah… dst… dst…”
Ilmu-ilmu seperti ini bukanlah ilmu kebahagiaan, tapi ilmu untuk jadi peraih nikmat.
Y.M. Dhammaraja Mahavatar Buddha Vama berkata
“Selain gak mau nikmat kami juga gak mau susah.”
Jika buddhist tak mau menikah, akan dikatakan “kok gak mau nikmat?” Padahal gak mau susah belakangannya. “Jangan masuk pada sesuatu yang tumbuh dan menjadi” – Muni Sutta.
Jika buddhist tak mau makan saat sudah malam karena sedang puasa, akan dikatakan “kok gak mau nikmat?” Padahal gak mau susah karena meditasi gak ada kemajuan.
Jika buddhist tak mau ketawa saat dengar humor, akan dikatakan “kok gak mau nikmat?” Padahal gak mau susah karena pikiran belum juga berevolusi ke tingkat IV.
Jika buddhist tak mau goyang-goyang kaki saat dengar koleksi musik, akan dikatakan “kok gak mau nikmat?” Padahal gak mau susah karena belum juga dapat Ilmu Telinga Buddha.
Jika buddhist tak mau wisata kuliner, akan dikatakan “kok gak mau nikmat?” Padahal gak mau susah karena terlahir lagi garagara saat sekarat mikirin sate enak.
Jika buddhist tak mau dengan gaulnya berkata “hehe, hidup ini lucu ya?” saat menutup komentar ini, akan dikatakan “kok gak mau nikmat?” Padahal gak mau susah karena dikatain mahavatar sebagai sok alim/spiritulalit.
Mahavatar berkata
“APAKAH HIDUP DIDUNIA INI MEMANG HARUS MENDERITA / MENGHINDARI KENIKMATAN DUNIA ???, ATAU HANYA SEBAGAI UPAYA BIAR BISA MENGENDALIKAN RASA / KEINGINAN / NAFSU”
“apa hidup memang harus menderita?” bukanlah termasuk pertanyaan super. nah, kali ini Anda sedang turun kepintarannya. Tapi, tak apa Saya jawab.
Itu adalah pertanyaan dari orang yang memandang latihan kebhikkuan adalah latihan yang menyiksa diri. Padahal latihan kebhikkuan sudah latihan jalan tengah, yang berada antara hedonism yang dianut islam, kristen, dan ekstremism yang dianut hindu.
jadi, menderita itu bagi anda. bukan bagi kami.
karena anda manja dan pemalas.
hehe.
Mahavatar berkata
“ATAU HANYA SEBAGAI UPAYA BIAR BISA MENGENDALIKAN RASA / KEINGINAN / NAFSU”
Kalau kali ini tak mau Saya jawab, karena nanti ujung-ujungnya sok sudah alim, dan akan tergolong sebagai kaum spiritulalit. Tak mau saya.
Kalau mau sok alim bukan di sini tempatnya. Dasar tahi.
Mahavatar berkata
“APA ADA YANG SALAH DENGAN PRODUK DUNIA INI”
Salah benar adalah salah satu fenomena benda-benda alam. Yang penting seorang Buddha tak mengidentifikasi dirinya dengan benda-benda itu (Mulapariyaya Sutta).
Saya adalah seorang yang suka seks.
Saya adalah seorang yang tak suka seks.
Kedua-dua hal ini harus ditinggal/lepas, karena tak akan menjadikan kita seorang Buddha. Ingat ajaran Saya: “Seni Agar Tak Positif“.
Mahavatar berkata
“Anda sudah berjiwa positif? Itupun lepaskan” – Buddha.
“Gaklah, kan sudah tanpa diri” – Bhikku.
“Lepaskan, biar cepat maju” – Buddha.
(dialog dalam Alagaddupama Sutta).
Mahavatar berkata
Mangle bertanya:
“Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang amat sukar dicari.“ – Dhamapada 160.
Jika masih membutuhkan agama seperti Buddha berarti Anda tak berpikir sendiri.
Vamabuddha menjawab:
Terima kasih Simon.
kata “Buddha” adalah hasil pikiran sendiri. Begitupula “Dhamma” dan “Sangha”.
Berlindung pada Buddha, Dhamma, Sangha sudah dalam cakupan berlindung pada diri sendiri. Karena itu semua adalah hasil keputusan sendiri.
Hehe.