Agama Buddhi

Ciwabuddha.

Arsip untuk ‘Kemasyarakatan’ Kategori

Hiri dan Otappa (II): Sila

Ditulis oleh Mahavatar di/pada September 8, 2009

topten

 

Lanjutan tulisan Hiri dan Otappa.

Untuk selanjutnya, kemunculan Dhamma Hiri dan Otappa ribuan tahun sebelum Shakyamunibuddha ini menyebabkan munculnya dhamma sila.

Sebab munculnya sila adalah Hiri dan Otappa, sedang guna melakukan sila adalah:
- Menyebabkan seseorang memiliki harta kekayaan yang melimpah.
- Mendatangkan nama baik.
- Menimbulkan rasa percaya diri dalam lingkungan pergaulan dengan golongan sosial manapun.
- Menyebabkan kelahiran-kembali ke alam-alam surga.

 
5 Sila buddhist (tingkat dasar) non-bhikku:

1. Tak dengan sengaja membunuh makhluk hidup.
- Jangan memelihara hewan yang untuk memeliharanya kita harus membunuh hewan lain untuk makanannya.
- Jangan mencari kebahagiaan melalui penderitaan hewan, misalnya membunuh nyamuk agar tidur nyenyak/ memerangkap lalat agar makanan bersih. Utamakan sanitasi diri dan lingkungan daripada membunuh. Tak menghalalkan membunuh demi kenyamanan. Sebisa mungkin tak membunuh.
 
2. Tak mengambil barang yang tak diberikan.
- Tak menaikkan harga jual terlalu tinggi dari kesepakatan pasar.
- Tak mengambil uang atau barang yang diperkirakan masih milik seseorang.
- Tak meminta jatah baik berupa uang atau barang yang bukan haknya untuk dipinta. Misalnya minta THR.

3. Tak melakukan perbuatan sex yang tak benar.
- Berzina, yaitu berhubungan seks dengan pasangan yang bukan haknya:
  a. Anak di bawah umur (15 tahun ke bawah).
  b. Kekasih orang lain.
  c. Orang hukuman.
  d. Saudara kandung.
  e. Samanera dan bhikku.
 Bagi yang melanggar ini, maka ia akan terlahir sebagai orang yang memiliki DNA gay, lesbian, banci.
- Menjadi gay, lesbian, banci.
Berhubung gay, lesbian, banci adalah sisa kamma buruk karena itu tak boleh dimanjakan, melainkan harus disembuhkan dengan berwirid “Bud dha… Bud dha… Bud dha..” untuk meluruskan syaraf otak yang bengkok.

4. Tak menipu.
5. Tak mabuk.

 
8 sila buddhist (tingkat lanjut) non-bhikku:
1. Tak dengan sengaja membunuh makhluk hidup.
2. Tak mengambil barang yang tidak diberikan.
3. Tak berbuat yang tak suci.
4. Tak menipu.
5. Tak mabuk.
6. Tak makan antara jam 12 siang – 12 malam.
7. Tak menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk memperindah tubuh.
8. Tak menggunakan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah).

(Diambil dari kitab Anguttara Nikaya.)

“Ikatan pernikahan memang baik, tapi ada yang lebih baik dari itu yaitu ikatan Dhamma” - Buddha saat diminta berceramah di upacara pernikahan.

Seorang bhikku dilarang mengucapkan “selamat …” atas semua bentuk pandangan salah.

Yang perlu untuk diketahui, sila bukan tujuan akhir buddhism, dan bukanlah lokuttara dhamma, melainkan masih lokiya dhamma. yaitu dhamma sekedar untuk bertahan di alam-alam dunia saja. Dhamma tertinggi adalah Vipassana Bhavana, dan tujuan tertinggi agama buddha adalah Nibbana (bebas dari menjadi).

Ditulis dalam Kemasyarakatan | 2 Komentar »

Kebenaran, Makanan Apa Itu?

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 27, 2009

Kebenaran bukanlah kenyataan.
Kebenaran tetap sesuatu yang sifatnya sementara. Bahkan kebenaran kosmos sekalipun.

Kebenaran adalah langkah menemukan kenyataan. Dimana akhirnya kenyataan membuahkan Dhamma/Ajaran Benar.

Ditinjau dari sisinya, ada dua sisi kebenaran:
1. Kebenaran tentang satu kebaikan.
2. Kebenaran tentang satu keburukan.

Ditinjau dari jenisnya, ada dua jenis kebenaran:
1. Kebenaran sehari-hari.
2. Kebenaran kosmos.

Menurut Buddha, kebenaran taklah dapat ditemukan dengan iman semata, namun “iman yang terbaik adalah iman berdasarkan pemahaman” – buddha.

Kebenaran tak bisa ditemukan cuma karena:
- sesuatu yang sudah merupakan tradisi
- sesuatu yang didesas-desuskan
- tertulis di dalam kitab-kitab suci
- sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka
- sudah direnungkan dengan seksama
- cocok dengan pandanganmu
- ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu

Dan hendaklah kamu menolak satu hal jika hal itu mengandung satu dari 4 hal di bawah ini:
1. Hal ini tidak berguna.
2. hal ini tercela.
3. hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana.
4. hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan.

Cara mencari kebenaran? Ya, bagaimana cara mencari kebenaran? Lihat, bagaimana cara Siddharta Gotama mencari kebenaran. Yaitu dengan hidup dalam kenyataan. Cuma dengan hidup dalam kenyataan kita bisa mendapatkan kebenaran.

Inilah 8 tingkat kenyataan:
Meditasi lv 1: Vitakka, Vicara, Piti, Sukkha, Ekaggata.
Meditasi lv 2: Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi lv 3: Sukkha, Ekagatta.
Meditasi lv 4: Ekagatta (manunggaling kawulo gusti) karena adanya Upekkha (bukan menyakitkan bukan menyenangkan).
Meditasi lv 5: Alam Tak Terbatas.
Meditasi lv 6: Kesadaran atas Alam Tak Terbatas.
Meditasi lv 7: Kekosongan.
Meditasi lv 8: Kesadaran atas Kekosongan (bukan persepsi bukan pula non persepsi).
Meditasi final lv: Lenyapnya Persepsi dan Perasaan.

Di level 4, terdapat kebenaran sehari-hari.
Di level 8, terdapat kebenaran kosmos.
Dan di level 9, Anda jadi Buddha (Sang Maha Benar).

_____________________________________________________________________

 

Dalam setiap hal, selalu ada dua sisi pandang, dimana yg satu adalah lawan dari yang lain.

misalnya, saudara ketabrak.
sisi buruk, ketabraknya. tapi sisi baik, adalah jika dia tak ketabrak sekarang,
besok ketabrak lebih parah lagi, karena merasa “ah ini kan sudah biasa, paling-paling cuma keserempet sedikit”.

contoh lain, cewek cantik.
sisi baik, cantiknya.
sisi buruk, mulai ada usaha baru yg sebelumnya tak ada ada, yaitu mempertahankannya.

pokoknya dalam segala hal selalu ada dua sisi pandang, dimana satu sisi adalah lawan dari lainnya. islam belum tahu ajaran ini. paling banter kita cuma diminta tabah, atau dibuat-buat.

saya baru menerapkan pemrograman supersadar saat baru masuk wc kotor.
yaitu,
satu sisi, sisi buruk, wc itu kotor.
satu sisi, sisi baik, saya gak kebelet lagi.
maka saya dengan menggunakan ajaran buddha, memilih persepsi tentang sisi baik dari pengalaman di wc itu.
sebenarnya bisa lebih jauh lagi, yaitu dengan meninggalkan moment itu, dan langsung jalan ke moment aktifitas berikutnya. inilah yang disebut Upekkha/emosi netral.

jadi upekha bukanlah “ya sudahlah, gak usah dipikir.” bukan itu, melainkan cukup sekedar tak tinggal di moment itu/tak mengkoleksi moment itu sebagai bagian bawahsadar.

karena selalu ada dua sisi pandang dalam semua hal. (sebuah kebenaran, bukan philosophy semata), maka tak ada alasan untuk bersedih dalam menjalani semua moment kehidupan.

misalnya: lahir pincang.
sisi baik: pincang, sehingga utang kamma selesai sebagian.
masih sisi baik: masih ada kehidupan mendatang, sehingga peluang si pincang ini untuk dapat cewek seksi sama dengan orang normal lainnya.
sisi buruk: dipermalukan, dihina, direndahkan orang, minder dengan cewek.
sisi buruk: susah dapat kerja.

Dengan ajaran buddha, seseorang dapat memilih persepsi yang baik, atau seorang bhikku buddhist memilih melanjutkan moment vipassana berikutnya.

kalo islam belum sampai ini. paling banter, cuma disuruh bilang “kakiku lima hehehe”

lalu saat sedang sendiri, sedih lagi. sama saja.

Jadi, apa itu Kebenaran? Makanan apa itu?
Jawabannya bisa ditemukan di sini.

 

butterfly

Ditulis dalam Kemasyarakatan, Meditasi | 20 Komentar »

Perbedaan Mahayana dan Theravada

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 26, 2009

sex_taoist

Kekosongan
Mahayana: makhluk-makhluk dianggap ilusi dan tak nyata, karena yang ada cuma kosong.
Theradava: makhluk-makhluk tetap nyata dan bukan ilusi, karena dianggap kosong cuma karena tak ada intinya.

Pencapaian tertinggi
Mahayana: Menolong orang baru menolong diri sendiri.
Theravada: Menolong diri sendiri baru menolong orang.

Interpretasi
Mahayana: Cenderung tak seimbang dan hasil pemikiran tak terlatih.
Theravada: Selalu seimbang dan hasil pemikiran terlatih.

Dasar asli manusia
Mahayana: Zat Buddha.
Theravada: Bodoh, tamak, benci.

Vegetarian
Mahayana: Mengatakan Buddha menyuruh menjadi vegetarian.
Theravada: Mengatakan Buddha tak menyuruh menjadi vegetarian.

Kebahagiaan
Mahayana: Banyak ceria dan menolong orang.
Theravada: Ketaktergangguan.

Diri
Mahayana: Dibagi menjadi diri kecil, yang diartikan “pikiran yang mementingkan kepentingan sendiri” (sama seperti filsafat psikology barat) dan diri besar yaitu zat Buddha.
Theravada: Tak ada, selain kebenaran yang bersifat duniawi tentang panggilan terhadap lima aggregat. Selain itu tak ada lagi Diri Besar.

Kosmos
Mahayana: Ada tiga tubuh.
Theravada: Tak ada pembagian tubuh. Sang Buddha cuma pernah menyebut dirinya sebagai tubuh Dhamma.

Perbuatan tertinggi
Mahayana: Kasih.
Theravada: Vipassana.

Buddha sesudah Nibbana
Mahayana: Masih ada entah dimana.
Theravada: Tak ada lagi, selain kekosongan itu sendiri.

Buah latihan
Mahayana: Filsuf dan bhikku-bhikkuan.
Theravada: Bhikku dan Buddha.
Dalam rangka berat sebelah pada ide akan kebaikan (berhubung ketiadaan upekkha) para bhikku keduabelah pihak lalu bersama-sama berkumpul mencari kesamaan. Misalnya, sama-sama punya dua mata, dua telinga, dst.

Ditulis dalam Kemasyarakatan | 43 Komentar »

Pilih Jadi Puthujana atau Bhikku?

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Februari 4, 2009

buddhist_disciples

 

Tak jarang ummat Buddha yang mengalami kebimbangan, bingung menentukan pilihan hidup, apakah mau hidup berumah-tangga, atau menjadi Bhikkhu ? Dari kebimbangan itu, ada pula yang mempunyai solusi alternative, yaitu, menempuh kehidupan selibat ( tidak menikah dan berkeluarga ) namun tidak bergabung menjadi anggota Sangha.

Haruskah menjadi Bhikkhu ? Burukkah menjadi sekedar “ummat-awam” ? Bermanfaatkah menempuh hidup ke-Bhikkhu-an ?

Menjadi seorang Bhikkhu memang merupakan sebuah karma baik,bahkan bisa disebut sebagai “hal-terbaik” bagi seorang ummat Buddha, sebab menjadi Bhikkhu adalah hal bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi semua ummat manusia.

Akan tetapi, seseorang tidak dapat memaksakan diri menjadi Bhikkhu, jika itu belum menjadi buah karmanya. Sebab, bila ia memaksakan dirinya, maka, secara mental ia tidak akan “tahan” dalam menjalani hidup ke-Bhikkhu-an yang penuh dengan aturan-aturan ( vinaya ) yang sangat ketat, yang bertolak belakang dengan kehidupan sebagai ummat awam / perumah-tangga.

Sehingga, seorang ummat Buddha tidak perlu malu-malu untuk hidup sebagai ummat awam jika memang karma dan buah karmanya belum matang untuk kesana. Sebaliknya, seseorang yang sudah masak buah karmanya, tidak pula dapat dihalang-halangi tekadnya untuk menjadi Bhikkhu atau mencapai kesempurnaan. Pangeran Siddhatta Gotama, karena telah masaknya kesempurnaan yang beliau pupuk sejak empat (4) Asankheyya dan seratus ribu ( 100.000 ) Kappa yang lampau, tidak dapat dicegah oleh keluarganya saat beliau hendak pergi meninggalkan istana, tahta, harta, istri, selir-selir, dan semua kemewahan yang beliau miliki saat itu, demi merealisasi ke-Buddha-an.

Kalo sedang terkenal gak mau jadi bhikku, karena mau berorganisasi dulu.
Kalo sedang hina gak mau jadi bhikku, karena mau jadi ‘orang’ dulu.
Kalo sedang miskin gak mau jadi bhikku, karena mau kaya dulu.
Kalo sedang kaya gak mau jadi bhikku, karena masih kaya.
Kalo sedang sendiri gak mau jadi bhikku, karena ingin punya pacar/istri dulu.
Kalo sudah berkawan gak mau jadi bhikku, karena masih sibuk ngurus istri.
Kalo sedang terganggu gak mau jadi bhikku, karena nyaman saja belum gimana mau vipassana.
Kalo sudah nyaman gak mau jadi bhikku, karena sudah punya tv kabel, rumah mewah, uang banyak, cewek-cewek cantik, dsb.

Dalam peraturan Agama Buddha, seseorang yang belum berumur 16 tahun harus meminta izin ortu dulu sebelum jadi Bhikku. Tapi jika sudah lewat 16 tahun tak perlu minta izin. Peraturan ini dibuat Buddha, sejak Buddha mentahbiskan Rahula sebagai bhikku, lalu membuat Raja Sudhodana sedih, dan meminta Buddha agar membuat peraturan bagi anak di bawah 16 tahun hendaknya perlu izin ortu dulu.

Kembali ke soal tadi. Perlu atau tak menjadi bhikku?
Jawabannya: Tergantung matangnya buah kamma.

Sebenarnya orang beragama itu bukanlah soal keinginan, tapi soal buah kamma. Dulu Saya pernah berkata, semua orang pernah merasa neraka. Karena orang cuma bisa ke surga jika sudah pernah merasa neraka. Begitupula orang cuma mau benar jika sudah pernah salah.

Jika memang orang beragama itu karena keinginan, tentu dari dulu kita sudah langsung ke agama Islam, Hindu, Buddha, dsb. Tapi kenapa harus lahir berkali-kali. Kadang-kadang sebagai kristen, lalu sebagai Hindu, lalu sebagai, Buddhist? Ini semua karena perjalanan mental membutuhkan kamma-kamma yang sesuai untuk bisa mendapatkan keinginan yang dikehendaki.

Ditulis dalam Kemasyarakatan | 7 Komentar »

Anatta, Anicca, Dukkha

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Januari 30, 2009

buddha_anatta_anicca_dukkha

Anatta (sabbe dhamma anatta)
Atta adalah saat dimana kita merasa ada kekuatan untuk berdiri sendiri tanpa tergantung dengan kondisi lain.
Saat seseorang merasa enaknya memandang gunung-gunung indah, ada atta di situ.
Saat seseorang merasa enaknya musik dan bagaimana ia akan selalu mendengarnya, ada atta di situ
Saat seseorang merasa uang adalah kunci segala persoalan dan pembantu semua persoalan, ada atta di situ.
Saat seseorang merasa ada Tuhan, dan Tuhanlah yang akan menolongnya lepas dari semua bencana, ada atta di situ.
Saat seseorang merasa kesadarannya sangat mulia, dan mampu menjawab semua persoalan, ada atta di situ.
Tuhan bukan atta karena semua harus kita kerjakan sendiri di dunia ini, itupun terbatas/sementara.
Dewa-dewa bukan atta karena kita harus shalat, puasa, dsb untuk bisa untung. Itupun terbatas/sementara.
Atta cuma bisa diterima ada jika ada sesuatu yang bisa melakukan semua hal untuk kita dalam waktu tak terbatas, sehingga kita bisa mengatakan, “inilah Aku yang sejati, inilah Diri yang sejati”.

Anicca (sabbe sankhara anicca)
Ketidakadaan Diri membuat terjadinya perubahan-perubahan pada kesadaran/dunia kita, sehingga tak memungkinkan untuk sesuatu yang disebut Free will/kehendak bebas. Apa yang dianggap sebagaian orang sebagai free will sesungguhnya cuma sisa kamma sebelumnya yang masih bisa diolah. Apa yang Anda rasa sebagai wishlist/daftar hal-hal yang bisa Anda lakukan/dapatkan sebenarnya cuma hasil kamma sebelumnya, yang memungkinkan Anda mampu menyusun wishlist itu.
Misalnya saja, tak semua orang bisa punya wishlist terlahir saat ada seorang Sammasambuddha di kehidupan berikutnya. Karena Sammasambuddha tak selalu ada di dunia. Dan seseorang belum tentu sesudah terlahir lagi akan berjumpa Sammasambuddha. Karena itu, ia tak mampu membuat keinginan yang seperti itu. Dan dengan sendirinya membuktikan, wishlist juga ditentukan pencapaian-pencapaian sebelumnya, dan freewill itu tak ada.

Dukkha (sabbe sankhara dukkha)
Bagi yang tak menyadari ketiadaan Diri, dan merasa ada Diri, maka atta yang diyakininya ada akan bentrok dengan Dhamma Anatta, dan menderitalah ia karena apa yang terjadi tak sesuai dengan yang diharapkan oleh ia yang merasa punya Diri untuk melindunginya.
Misalnya, orang yang merasa uang itu sangat berguna baginya, dan baginya solusi bagi semua persoalannya, maka ia harus bekerja untuk mencarinya. Dalam bekerja ia harus menahan cuaca dan sakit, sesudah mendapat, ia harus berjuang untuk mengamankan uangnya.

Ditulis dalam Kemasyarakatan | Leave a Comment »

Sembah Sujud Untuk Para Tipitakadhara

Ditulis oleh Mahavatar di/pada September 10, 2008

 

tipitakadhara

 

Tipitakadhara=Penjaga Tipitaka (‘Hafalan oleh murid2)
Tipitakawida= Penjaga Tipitaka (lisan dan yg tertulis)
Maha Tipitakawida= Lulus ‘yg lisan” dan ‘yg tertulis dengan pembedaan Dhammabhandagarika(penjaga Harta Dhamma)

Gelar diatas diberikan kepada Bhikkhu yg sukses ke luar sebagai pemenang dari 400,000 anggota Perserikatan Sangha Myanmar jika calon dapat menceritakan 7983 halaman(16000 pali myanmar)ttg Ajaran Buddha, yaitu Tipitaka, dan juga melewati pengujian tertulis(ditambah Kitab Komentar dan Kitab Sub komentar).

Pengujian pemilihan Tipitakadhara adalah yg luas dan menyeluruh, paling dalam dan sulit serta tertinggi. Tak seorangpun lulus kategori yg manapun di tahun 1948 ketika pertama dilaksanakan di Rangoon(sekarang (Yangoon) hanya setelah negeri ini memperoleh kemerdekaan dari Inggris hal ini dapat terwujud. Tujuan pengujian adalah utk mempromosikan kemunculan kepribadian yg termuka bagi siapa yg dapat menghafal dan menceritakan keseluruhan Tipitaka(7983 halaman atau 2,4 juta kata-kata pali myanmar).

Ini adalah pengujian yg terpanjang di dunia dan keseluruhan pengujian terbagi dalam 5 tahun.

Di tahun pertama dan tahun kedua,calon diuji ttg Vinaya Pitaka(2260 halaman) total waktu 20 hari.(3 hari masing2 utk 5 volume ditambah 5 hari utk bagian yg tertulis yg mencakup kitab komentar dan kitab sub komentar).

Ditahun yg ketiga calon diuji 3 volume Sutta Pitaka(779 halaman). Ditahun kempat dan tahun yg kelima, diatur pengujian atas yg 5 bagian pertama(1390 hal) dan yg dua bagian terakhir(3597 halaman) dari tujuth volume Abhidhamma Pitaka. Total panajangnya pengujian yg digunakan menjadi 4 tahun sebelumnya.

Calon sukses yg pertama kali adalah Venerable U Vicittasarabhivamsa, yg kemudian dikenal sebagai Mingun Sayadaw. Beliau lulus pengujian bagian Vinaya tahun 1950. Tahun 1953 beliau menyelesaikan bagian terkahir pada waktu itu Pathika Vagga Sutta Pitaka dan menjadi yg pertama pernah meraih gelar ‘Tipitakdhara’ di Myanmar pada usia 42 tahun dan prestasinya telah dicatat dalam Guinness Book Of Record. Sejak itu, semakin banyak biawaran terkemuka telah diberikan Gelar Penuh utk ingatan(memori yg menakjubkan yg mereka miliki). Figur statistik yg mengagumkan sebagai berikut:

1 = Tipitakadhara
2=Tipitakwida
3= MahaTipitakawida
4= Dahmmabhandagarika

Pemegang Gelar                  Gelar                    Tahun                    Umur mendapatkan gelar

Ven. Vicittasarabhivamsa           1,3,4                     1953                       42 tahun
Ven. Nemainda                         1,2,4                    1959                        32 tahun
Ven.Kosala                              1,2,4                    1963                        36 tahun
Ven. Sumingalalankara               1,2                      1973                        27 tahun
Ven. Sirindabhivamsa                 1,2                     1984                         42 tahun
Ven. Vayameindabhivamsa          1,2                     1995                         39 tahun
Ven. Kondana                           1,2                     1997                         32 tahun
Ven. Silakandhabhivamsa            1,2                     1998,2000                  40 tahun
Ven. Vamsapalalankara               1,2                     2001                          45 tahun
Ven. Sundara                           1,2                      2001                          45 tahun
Ven Eindipala                           1,2                      2001                          41 tahun

Didunia  dalam kurun waktu kurang lebih 60 tahun hanya tercetak 11 Tipitakadhara dan yg telah meninggal ada 4 org. Sehingga yg tersisa tinggal 7 Orang. Dan yg baru2 ini mengunjungi Indonesia adalah Bhikkhu Ven .Sundara dan Bhikkhu Ven.Eindipala.

Patutlah kita menghargai jerih payah para Bhikhu dalam menjaga kemurnian Ajaran Sang Buddha dan praktek mereka dalam menjalankan Dhamma. Marilah kita bercermin pada diri sendiri, APA AKU TELAH BERADA DALAM SANG JALAN ATAU MASIH BERMAIN-MAIN DAN MENIKMATI RODA SAMSARA INI?

Ditulis dalam Kemasyarakatan | Leave a Comment »

Mahasi Sayadaw, The Last Arahat of Theravada

Ditulis oleh Mahavatar di/pada September 2, 2008

mahasi_sayadaw

MAHASI SAYADAW LAHIR PADA 29 JULI 1904 di Seikkhun, sebuah perkampungan makmur yang cukup luas dengan penduduk yang ramah, terhampar kira-kira tujuh mil ke arah barat dari kota sejarah Shwebo di Upper Myanmar. Orang tuanya, U Kan Taw dan Daw Oke,menjaga sebuah toko kecil. Pada usia 6 tahun, Beliau dikirim untuk menerima pendidikan awal kebiaraan di bawah bimbingan U Adicca, ketua bhikkhu dari Vihara Pyanmana di Seikkhun. Enam tahun kemudian, Beliau diajukan sebagai samanera di bawah bimbingan guru yang sama, dan diberi nama Shin Sobhana (yang berarti ‘menguntungkan’). Nama tersebut diberikan atas dasar keberanian sifatnya dan sikapnya yang bermartabat.

Sayadaw adalah murid yang pandai, membuatnya mencapai kemajuan yang luar biasa dalam memelajari kitab suci. Pada waktu U Adicca meninggalkan Sangha, Shin Sobhana melanjutkan pendidikannya di bawah bimbingan Sayadaw U Parama dari Vihara Thugyi-kyaung, Ingyintaw-taik. Pada usia 9 tahun, Beliau harus memutuskan apakah ingin tetap dalam Sangha dan mencurahkan seluruh sisa hidupnya untuk melayani Buddhasasana atau kembali pada kehidupan sebagai umat awam/orang biasa. Shin Sobhana mengetahui dengan baik isi hati nuraninya sendiri dan Beliau pun memilih pilihan yang pertama, yakni untuk tetap berada dalam Sangha dan mengabdi demi Buddhasasana.

Beliau ditahbiskan sebagai bhikkhu pada tanggal 26 November 1923, dengan Sumedha Sayadaw Ashin Nimmala sebagai guru pembimbingnya. Dalam 4 tahun, Shin Sobhana telah menamatkan ketiga kelas dari ujian Kitab Suci Pali yang diadakan oleh pemerintah.

Mingun Jetavan Sayadaw

Bhikkhu Shin Sobhana selanjutnya pergi ke kota Mandalay, yang dikenal karena keunggulannya dalam pembelajaran Buddhis, untuk memelajari kitab suci secara lebih mendalam di bawah bimbingan para Sayadaw yang mengetahui dengan sangat baik apa yang ingin mereka pelajari.Bhikkhu Shin Sobhana tinggal di Vihara Khinmakan Barat untuk tujuan ini, akan tetapi, waktu belajar Beliau sangat singkat tak sampai lebih dari setahun karena Beliau dipanggil ke Moulmein. Kepala Vihara Taik-kyaung di Taungwainggale (yang berasal dari desa yang sama dengan Bhikkhu Sobhana) ingin Beliau membantunya untuk mengajar para muridnya.

Sementara mengajar Taungwainggale, Bhikkhu Sobhana melanjutkan sendiri belajar kitab suci, dan menjadi sangat tertarik untuk mempelajari Mahasatipatthana Sutta. Ketertarikan yang begitu mendalam terhadap metode satipatthana dari meditasi vipassana membawa Beliau ke Thaton, di mana Mingun Jetavan Sayadaw yang terkenal mengajarkan hal itu.

Praktek Meditasi Vipassana

Di bawah instruksi Mingun Jetavan Sayadaw, Bhikkhu Sobhana mengambil latihan meditasi vipassana intensif. Dalam 4 bulan, Beliau telah mendapat hasil yang begitu baik di mana Beliau bisa mengajarkan meditasi ini kepada 3 murid pertama Beliau di Seikkhun pada waktu Beliau berkunjung ke sana pada tahun 1938. Setelah Beliau kembali dari Thaton ke Taungwainggale(yang disebabkan karena sakitnya dan kemudian kematian dari Taik-kyaung Sayadaw) untuk melanjutkan pekerjaan mengajarnya dan untuk memimpin Vihara, Bhikkhu Sobhana duduk dan menamatkan ujian Dhammacariya (Dhamma Teacher) yang diadakan pemerintah pada tahun 1941.

Pada malam serangan Jepang ke Myanmar, Bhikkhu Sobhana harus meninggalkan Taungwainggale dan kembali ke desa asalnya Seikkhun. Hal ini mendatangkan kesempatan baginya untuk mencurahkan seluruh waktunya pada latihannya sendiri, yaitu meditasi Satipatthana Vipassana, dan untuk mengajar sejumlah murid yang makin bertambah. Vihara Mahasi di Seikkhun (yang membuat Beliau lebih dikenal sebagai Mahasi Sayadaw)untungnya tetap bebas dari ketakutan dan kekacauan karena perang. Selama periode ini para murid Sayadaw membujuk Beliau untuk menulis buku Manual of Vipassana Meditation, sebuah pekerjaan berwewenang dan meliputi banyak hal yang menguraikan secara terperinci doktrin maupun aspek-aspek praktis dari meditasi Satipatthana.

Undangan ke Rangoon

Tidak membutuhkan waktu lama sebelum reputasi Mahasi Sayadaw sebagai seorang guru meditasi yang ahli menyebar di seluruh wilayah Shwebo-Sagaing dan mengundang perhatian seorang umat Buddha yang beriman dan kaya, Sir U Thwin. U Thwin ingin memromosikan Buddhasasana dengan membangun sebuah pusat meditasi yang diarahkan langsung guru yang terbukti kebajikan dan kemampuannya. Setelah mendengarkan kursus vipassana yang diberikan oleh Sayadaw, dan mengamati sikap Sayadaw yang tenang, mulia, dan bersahaja, U Thwin tidak merasa kesulitan memutuskan bahwa Mahasi Sayadaw adalah guru meditasi yang dia cari-cari.

Pada tanggal 13 November 1947,Buddhasasana Nuggaha Association yang didirikan di Yangon dengan Sir U Thwin sebagai presiden pertamanya. Tujuan dari asosiasi tersebut adalah untuk meningkatkan pembelajaran kitab suci dan mempraktekkan Dhamma. Sir U Thwin mendanakan sebidang tanah di Hermitage Road, Rangoon, berukuran lebih dari 2 hektar pada asosiasi tersebut, yang ditujukan untuk membangun pusat meditasi. Pada tahun 1978, luas pusat meditasi tersebut bertambah menjadi 9,1 hektar, dimana banyak gedung telah dibangun dan bangunan-bangunan tambahan sedang didirikan.Sir U Thwin mengatakan pada para anggota asosiasi bahwa dia telah menemukan seorang guru meditasi yang cocok, dan dia mengajukan usul bahwa berikutnya Perdana Menteri Myanmar yang mengundang Mahasi Sayadaw ke pusat meditasi tersebut.

Setelah Perang Dunia ke-2, Sayadaw berpindah-pindah tempat tinggal antara desa asalnya, Seikkhun, dan Taungwainggale di Moulmein. Sementara itu, Myanmar telah memperoleh kemerdekaan pada 4 Januari 1948. Pada Mei 1949, selama persinggahan pertama Beliau di Seikkhun, Sayadaw menyelesaikan sebuah terjemahan nissaya Mahasatipatthana Sutta yang baru. Pekerjaan ini melampaui rata-rata terjemahan nissaya dari sutta ini, yang sangat penting bagi siapa saja yang berharap untuk berlatih meditasi vipassana,tetapi membutuhkan bimbingan/petunjuk.

Pada November 1949, berdasarkan undangan pribadi dari Perdana Menteri berikutnya, U Nu, Mahasi Sayadaw turun dari Shwebo dari Sagaing menuju ke pusat meditasi di Rangoon,ditemani oleh 2 orang murid seniornya. Demikianlah awal perwalian Mahasi Sayadaw oleh Sasana Yeiktha di Rangoon. Pada 4 Desember 1949, untuk pertama kali Mahasi Sayadaw secara personal mengajar sebanyak 25 meditator dalam suatu latihan vipassana. Karena pertambahan jumlah meditator, hal itu menjadikan tuntutan bagi Sayadaw untuk memberikan permulaan ceramah yang panjang pada mereka semua. Karena itu, dari Juli 1951 sebuah tape perekam ceramah diputarkan setiap kali ada meditator baru, dengan suatu uraian singkat dari Sayadaw. Dalam kurun waktu 5 tahun dari pembangunan Sasana Yeiktha di Rangoon, banyak pusat meditasi serupa yang dibuka di negara bagian yang lain di mana para anggota Sangha, yang telah berlatih menurut petunjuk latihan meditasi vipassana dari Mahasi Sayadaw, menjadi guru-guru meditasinya.

Pusat-pusat meditasi ini tidak dibatasi untuk Myanmar,tetapi juga termasuk negara-negara Buddhis Theravada lainnya, seperti Thailand dan Sri Lanka. Ada juga pusat-pusat meditasi di Kamboja dan India. Menurut sensus tahun 1972, total jumlah meditator terlatih di semua pusat-pusat meditasi ini (termasuk di Myanmar dan di luar Myanmar) melebihi 700.000 orang. Sebagai penghargaan atas ilmu pengetahuannya yang terkenal dan hasil-hasil spiritual yang dicapai, Mahasi Sayadaw dianugerahi oleh Presiden dari Myanmar Bersatu pada tahun 1952 dengan gelar terhormat ‘Aggamahapandita’ (The Exalted Wise One ~Manusia Agung yang Bijaksana).

Konsili Buddhis keenam Chattha Sangayana

Segera setelah memperoleh kemerdekaan, pemerintah Myanmar memulai rencana pengadaan Konsili Buddhis ke-6 (Sangayana) di Myanmar, di mana empat negara-negara Buddhis Theravada lainnya (Sri Lanka, Thailand, Kamboja, dan Laos) ikut berpartisipasi. Untuk tujuan ini, pemerintah mengirim sebuah utusan ke Thailand dan Kamboja, yang terdiri dari Nyaungyan Sayadaw, Mahasi Sayadaw, dan 2 orang awam pria. Para utusan itu mendiskusikan rencana pemerintah Myanmar tersebut dengan para bhikkhu ketua Buddhis dari dua negara itu.

Dalam sejarah Konsili Buddhis ke-6, yang mana dibuka dengan kemegahan dan upacara pada 17 Mei 1954,Mahasi Sayadaw memegang peranan yang sangat penting, mengerjakan tugas berat yang membutuhkan ketepatan dan keahlian, yaitu sebagai Final Editor (Osana) dan Questioner (Pucchaka). Ciri khas dari konsili ini adalah pengeditan terhadap kitab komentar (Atthakatha) dan kitab subkomentar (Tika), sebaik mungkin dikerjakan menurut Teks Canon.

Dalam pengeditan terhadap literatur kitab komentar ini, Mahasi Sayadaw bertanggung jawab untuk membuat analisa kritis, tafsiran dugaan, dan merekonsilisasi sepenuhnya beberapa bagian yang krusial, tetapi berlainan bagian. Hasil yang signifikan dari Konsili Buddhis ke-6 ini adalah kebangkitan kembali minat dalam mempelajari ajaran Buddhis Theravada di antara para Buddhis Mahayana. Pada tahun 1955, sementara konsili sedang berlangsung, 12 bhikkhu dan seorang awam wanita dari Jepang tiba di Myanmar untuk belajar ajaran Buddhis Theravada. Para bhikkhu tersebut resmi masuk ke Sangha Buddhis Theravada sebagai samanera sedangkan yang wanita menjadi umat Buddha. Kemudian pada Juli 1957, pada pembentukan Asosiasi Buddhis Moji, Konsili Buddha Sasana Myanmar mengirim sebuah utusan Buddhis Theravada ke Jepang. Mahasi Sayadaw adalah salah satu yang mewakili Sangha Birma dalam utusan itu.

Pada tahun 1957 itu, Mahasi Sayadaw juga mengerjakan tugas dalam menulis sebuah pengantar dalam bahasa Pali untuk Visuddhimagga Atthakatha, untuk menyanggah pernyataan-pernyataan tertentu yang salah yang dibuat oleh pengarang sebelumnya, Bhikkhu Buddhaghosa. Sayadaw menyelesaikan tugas sulit ini pada tahun 1960,pekerjaannya menghasilkan setiap nilai khusus yang mempelajari dan memperdalam pemahaman. Kemudian Sayadaw juga menyelesaikan 2 volume (dari 4 volume) terjemahan Birma-nya terhadap kitab komentar yang terkenal ini dan pekerjaan klasik mengenai meditasi Buddhis.

Misi-Misi Dunia

SRI LANKA

Berdasarkan permintaan pemerintah Sri Lanka, sebuah misi khusus yang dipimpin oleh Sayadaw U Sujata, seorang wakil yang terkemuka dari Mahasi Sayadaw, pergi ke Sri Lanka pada bulan Juli 1955 untuk mempromosikan meditasi Satipatthana. Utusan yang tinggal di Sri Lanka selama lebih dari setahun tersebut melakukan pekerjaan yang mengagumkan,dengan membangun 12 pusat meditasi permanen dan 17 pusat meditasi sementara.

Mengikuti selesainya pembangunan sebuah pusat meditasi di suatu tempat yang diberikan oleh pemerintah Sri Lanka, sebuah misi yang lebih besar yang dipimpin oleh Mahasi Sayadaw meninggalkan Myanmar menuju ke Sri Lanka pada 6 Januari 1959, melalui India. Misi tersebut berada di India selama kira-kira 3 minggu, yang mana selama waktu itu para anggota misi menggunakannya untuk mengunjungi beberapa tempat suci yang berhubungan dengan kehidupan dan karya Sang Buddha. Mereka memberikan ceramah Dhamma pada saat yang sesuai, dan melakukan interview dengan Perdana Menteri Shri Jawaharlal Nehru, Presiden India Dr. Rajendra Prasad, dan Wakil Presiden Dr. S. Radhakrishnan.

Suatu peristiwa yang dapat menjadi catatan kunjungan tersebut adalah adanya sambutan hangat yang diterima dari orang-orang golongan tertekan, yang merupakan pemeluk agama Buddha di bawah sistem pemerintahan pemimpin mereka sebelumnya, Dr. Babasaheb Ambedkar. Misi tersebut kemudian meninggalkan Madras menuju Sri Lanka pada 29 Januari 1959 dan tiba di Kolombo pada hari yang sama. Pada Minggu tanggal 1 Februari, pada upacara pembukaan sebuah pusat meditasi bernama ‘Bhavana Majjhathana’, Mahasi Sayadaw menyampaikan pidato dalam bahasa Pali setelah Perdana Menteri Bandaranayake dan beberapa yang lainnya berbicara. Para anggota utusan selanjutnya pergi ke pulau pada tour yang diperpanjang, mengunjungi beberapa pusat meditasi di mana Mahasi Sayadaw memberi pembahasan mengenai meditasi vipassana. Mereka juga melakukan pemujaan pada beberapa tempat ziarah Buddhis yang terkenal, seperti Polonnaruwa, Anuradhapura dan Kandy.

Kunjungan misi Birma ke tempat bersejarah ini di bawah inspirasi kepemimpinan oleh Mahasi Sayadaw,merupakan suatu simbol pertalian persahabatan yang erat dan klasik di antara dua negara Buddhis Theravada ini. Hal itu membawa keuntungan bagi pergerakan agama Buddha di Sri Lanka yang merupakan kebangkitan minat kembali terhadap meditasi, yang nampaknya telah menurun.

INDONESIA

Pada Februari 1954, seorang pengunjung datang ke Sasana Yeiktha yang tampaknya merupakan seorang anak muda keturunan China untuk mempraktekkan meditasi vipassana. Meditator tersebut adalah seorang guru agama Buddha dari Indonesia yang bernama Bung An yang menjadi tertarik terhadap meditasi vipassana. Di bawah bimbingan Mahasi Sayadaw dan Sayadaw U Ñanuttara, Bung An telah membuat kemajuan yang sangat pesat di mana dalam waktu kurang dari 1 bulan, Mahasi Sayadaw memberi dia pembahasan terperinci mengenai perkembangan pengetahuan. Kemudian Bung An ditahbiskan sebagai bhikkhu dan diberi nama Bhikkhu Jinarakkhita, dengan Mahasi Sayadaw sebagai guru pembimbingnya.

Setelah kembali sebagai bhikkhu Buddhis ke Indonesia, Buddha Sasana Council menerima permintaan untuk mengirim seorang bhikkhu Birma untuk meningkatkan pekerjaan pembabaran ajaran Buddha di Indonesia. Dari permintaan itu diputuskan bahwa Mahasi Sayadaw, sebagai pembimbing dan penasehat dari Ashin Jinarakkhita, harus pergi. Dengan 13 orang bhikkhu Theravada yang lain, Mahasi Sayadaw melakukan kegiatan-kegiatan misionari yang begitu penting seperti mengabdikan batas-batas pentahbisan (simas), menahbiskan bhikkhu-bhikkhu,meresmikan anggota baru Sangha, dan memberikan kursus atau ceramah Dhamma, khususnya yang berkaitan dengan meditasi vipassana.

THAILAND

Pada awal-awal tahun 1952,berdasarkan permintaan dari Menteri Thailand bagi Persamuan Sangha, Mahasi Sayadaw telah mengirim Sayadaw U Asabha dan U Indavamsa ke Thailand untuk mempromosikan Satipatthana Vipassana. Berterima kasih atas usaha-usaha mereka,metode Mahasi Sayadaw mendapat penerimaan luas di Thailand. Dari tahun 1960, banyak pusat meditasi yang telah dibangun dan jumlah meditator Mahasi melebihi 100 ribu orang.

NEPAL

Sudah menjadi ciri khas dari Sayadaw yang memiliki ketaatan pemikiran tunggal dan tidak memihak yang ditujukan terhadap Buddhasasana di mana, tanpa menghiraukan usianya yang semakin tua dan kesehatan yang melemah, Beliau tetap mengemban misi ke Inggris, Eropa, dan Amerika pada tahun 1979 dan 1980, serta ke India dan Nepal pada tahun 1981.

Aktivitas Lainnya

Abhidhajamaharatthaguru Masoeyein Sayadaw, yang memimpin Sanghanayaka Executive Board pada Konsili Buddhis ke-6, mendesak Mahasi Sayadaw untuk mengajar 2 kitab komentar kepada Sangha di Sasana Yeiktha. Kitab Komentar Visuddhimagga Atthakatha dari Bhikkhu Buddhaghosa dan Kitab Komentar Visuddhimagga Mahatika dari Bhikkhu Dhammapala adalah 2 kitab yang berhubungan terutama dengan teori dan praktek meditasi Buddhis, meskipunmereka juga menawarkan penjelasan yang bermanfaat tentang nilai-nilai ajaran yang penting, sehingga kedua kitab tersebut amat diperlukan bagi para calon guru meditasi.

Mahasi Sayadaw memulai pekerjaan ini pada 2 Februari 1961, selama satu setengah atau dua jam sehari. Berdasarkan pada catatan ceramah yang dibuat oleh para muridnya, Sayadaw yang mulai menulis terjemahan nissaya dari Visuddhimagga Mahataka, menyelesaikannya pada 4 Februari 1966.Nissaya ini adalah sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Bagian dari kitab tersebut jika dilihat menurut sudut pandang yang berbeda oleh agama-agama yang lain(samayantara) sebagian besar sangat tepat karena Sayadaw membiasakan dirinya dengan filosofi dan istilah Hindu kuno dengan memelajari semua referensi yang ada, termasuk karya-karya dalam bahasa Sankrit dan Inggris.

Hingga tahun 1978 Mahasi Sayadaw telah menyumbang 67 volume ke dalam daftar literatur Buddhis Birma. Jarak tidak memungkinkan bagi kita untuk mendaftarkan semua volume buku tersebut ke sini, tetapi sebuah daftar lengkap yang terbaru dari volume tersebut telah dilampirkan ke buku terbitan Sayadaw,yaitu A Discourse on Sakkapañha Sutta (yang diterbitkan pada bulan Oktober 1978).

Pada suatu ketika, Mahasi Sayadaw dikritik berat di beberapa tempat atas anjurannya yang menurut dugaan orang menyimpang dari metode pencatatan timbul dan lenyapnya gerakan dinding perut dalam meditasi vipassana. Hal itu disimpulkan secara salah yang mana metode ini dianggap merupakan sebuah inovasi dari Sayadaw, mengingat hal itu telah dibuktikan beberapa tahun sebelum Mahasi mengadaptasinya, di mana tak ada yang lebih ahli dari Yang Mula (orisinal) Mingun Jetavan Sayadaw, dan bahwa topik mengenai subjek itu tidak bertentangan dengan ajaran Sang Buddha. Alasan pemilihan Mahasi Sayadaw terhadap metode ini adalah bahwa rata-rata para meditator menemukan kemudahan dalam mencatat manifestasi dari elemen yang bergerak ini (vayodhatu). Walaupun dikatakan memermudah, akan tetapi ternyata cukup membebankan semua yang datang berlatih di berbagai pusat meditasi yang mengajarkan teknik Mahasi.

Seseorang mungkin, jika dia suka, akan melatih anapanasati. Mahasi Sayadaw sendiri menahan diri dari keikutsertaan mempermasalahkan kritik-kritik terhadap dirinya mengenai poin ini, tetapi dua orang yang telah memelajari metode Sayadaw mengeluarkan buku masing-masing untuk memertahankan metode Mahasi, dengan demikian memungkinkan mereka yang tertarik dalam kontroversi ini untuk dapat memertimbangkan diri mereka dalam memilih metode yang sesuai dan benar. Kontroversi ini meluas di Sri Lanka di mana beberapa anggota Sangha, yang tidak berpengalaman dan tidak memiliki pengetahuan yang baik dalam praktek meditasi, menyerang dengan mempublikasikan metode Mahasi Sayadaw di koran dan majalah-majalah. Karena kritik ini dituliskan dalam bahasa Inggris yang mencakup seluruh dunia, kedamaian tidak bisa dipertahankan lagi, dan karena itu Sayadaw U Ñanuttara dari Kaba-aye (Kampus World Peace Pagoda) berusaha sekuat tenaga merespon kritik-kritik tersebut di halaman koran Buddhis Sri Lanka yang terbit berkala, World Buddhism.

Reputasi internasional Mahasi Sayadaw telah menarik banyak perhatian pengunjung dan para meditator dari luar negeri, beberapa mencari pencerahan bagi permasalahan kehidupan beragama mereka dan sebagian lagi bermaksud untuk mempraktekkan meditasi di bawah bimbingan langsung Sayadaw. Di antara meditator pertama dari luar negeri ada pendiri British Rear-Admiral E.H. Shattock yang datang meninggalkan Singapura dan berlatih meditasi di Sasana Yeiktha pada tahun 1952. Sekembalinya ke Inggris, dia menulis dan menerbitkan sebuah buku, An Experiment in Mindfulness yang berhubungan dengan pengalamannya mengikuti latihan meditasi. Turis asing lainnya, yaitu Robert Duvo, seorang Perancis kelahiran Amerika dari California. Dia datang dan berlatih meditasi di suatu pusat meditasi, di mana kedatangan pertamanya hanya sebagai meditator awam tetapi berikutnya dia datang sebagai seorang bhikkhu. Dia kemudian menerbitkan sebuah buku dalam bahasa Perancis mengenai pengalaman-pengalaman meditasinya dan metode satipatthana vipassana.

Fakta-fakta menyebutkan bahwa seharusnya pembuatan Anagarika Shri Munindra dari Buddha Gaya di India, yang menjadi murid terdekat Mahasi Sayadaw, yang juga menghabiskan beberapa tahun dengan beliau, mempelajari Kitab Injil dan berlatih vipassana. Kemudian dia mengarahkan meditasi kepada banyak orang dari Barat yang datang di International Meditation Centre di Buddha Gaya. Salah satu di antara mereka yaitu anak muda Amerika, Joseph Goldstein, yang menulis sebuah buku yang mudah dimengerti tentang vipassana yang berjudul The Experience of Insight: A Natural Unfolding.

Beberapa dari hasil karya Sayadaw telah diterbitkan di luar negeri, seperti Satipatthana Vipassana Meditation dan Practical Insight Meditation oleh Unity Press, San Francisco, California, USA, serta The Progress of Insight oleh Buddhist Publication Society, Kandy, Sri Lanka. U Pe Thin (sekarang almarhum) dan Myanaung U Tin, dua orang meditator handal, tanpa pamrih dan tidak mementingkan diri sendiri membantu dalam menghubungkan Sayadaw dengan para pengunjung dan meditatornya dari luar negeri serta dalam menerjemahkan beberapa kursus yang diberikan oleh Sayadaw mengenai meditasi vipassana ke dalam bahasa Inggris.

Akhir Perjuangan

Sosok seorang Mahasi Sayadaw sangatlah dipuja-puja oleh para muridnya yang berterima kasih pada Beliau, yang jumlahnya tak terhitung di Myanmar maupun di luar negeri. Walaupun itu adalah doa yang sangat diharapkan dari para muridnya yang tekun yang berharap Mahasi Sayadaw bisa hidup untuk beberapa tahun dan dapat melanjutkan menunjukkan berkah dari Buddha Dhamma pada semua makhluk yang mencari kemerdekaan dan pelepasan, tentang hukum yang tidak dapat ditawar-tawar mengenai akhir yang tidak kekal, dengan kesekonyong-konyongan yang tragis, tidak mementingkan diri sendiri, dan mengabdikan hidupnya sampai pada 14 Agustus 1982. Seperti layaknya seorang putra Sang Buddha, Beliau hidup dengan keberanian, menyebarkan ajaran Sang Guru ke seluruh penjuru dunia, dan membantu ribuan orang untuk memasuki Jalan Pencerahan dan Pelepasan.

His long carrier of teaching through the spoken and printed word had a beneficial impact on many hundreds of thousands in the East and the West.
His personal stature and his life’s work rank him among the great figures of contemporary Buddhism.

Ditulis dalam Kemasyarakatan | 7 Komentar »