Tanda-Tanda Pencerahan
Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 26, 2009
![]()
Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di atas, para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada saat permulaan latihan. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana, terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. Di dalam hal Samatha-Kammatthana, tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara, namun mereka seyogyanya ditekan, dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan, sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. Setelah perenungan dengan cara ini, maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek ‘naik’, ‘turun’ seperti semula. Ini adalah satu dari butir-butir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana).
Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. Oleh karena itu tidak diperlukan untuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul.
Namun demikian, di dalam vipassana-bhavana, semua fenomena batin dan jasmani yang muncul melalui enam pintu indera harus diamati. Oleh karena itu apabila dan ketika rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenungan semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga harus direnungkan. Apabila mereka tidak direnungkan, maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal, menyenangkan dan atta (aku) akan muncul; oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. Objek vipassana akan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya.
Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama, maka hampir tidak akan ada lagi faktor batin yang mengembara. Segera setelah faktor batin mengembara ke objek lain, batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. Di dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul.
Pada tahapan perenungan ini, ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. Terkonsentrasinya batin terhadap objeknya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang).
Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (nivarana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin, maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin).
Kemudian fenomena fisik seperti naik, turun, menekuk, meregang, dan seterusnya, yang sedang direnungkan, dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk yang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. Fenomena batin, seperti merenungan berpikir, melihat, mendengar, dan seterusnya, juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah tanpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. Pada setiap saat bernafas, jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan terpisah sebagai dua hal yang berbeda. Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisik dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani).
Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu periode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan, maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena ‘hanya terdiri dari proses batin dan fisik’. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui, menaikkan, menurunkan, menekuk, memindahkan, dan seterusnya. Namun batin memiliki kemampuan merenungkan, memikirkan, melihat, mendengar, dan sebagainya. Terpisah dari dua faktor ini, tidak terdapat aku atau Atta. Pengertian jelas ini disebut ‘Ditthi-visuddhi’ (Kemurnian Pandangan).
Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut, dicerap bahwa fenomena materi/fisik dan batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab yang bersesuaian dengannya.
Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh, maka muncul aksi atau tindakan membungkuk, meregang, bergerak, atau mengubah posisi tubuh; dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu, maka selalu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas; dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihatan dan objek penglihatan, indera pendengaran, objek pendengaran, dan seterusnya, maka muncullah kesadaran melihat, mendengar, dan seterusnya, dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan, maka batin mencapai objeknya. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin), yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah), semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan, dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuatan tersebut yang telah dilakukan, maka muncullah, di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan, kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran; dan lahir adalah munculnya sebuah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini, tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut “Paccaya-pariggaha-nana” (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena).
Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticca-samuppada) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa “hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin, yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang”. Pandangan murni seperti ini disebut “Kankha-vitarana visuddhi” (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan).
Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa “kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas ’sebab-musabab yang terkait’ terdapat banyak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau, apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang” dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah “ATTA” atau “DIRI”. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi.
Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh, dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. Pengertian bijaksana ini disebut “Anicca-sammassana-Nana” (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam).
Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam, bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh “muncul dan padam” mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi, namun hanya merupakan dukkha, tidak memuaskan. Pengetahuan bijaksana ini disebut “Dukkha-sammassana-nana” (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan).
Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya, namun muncul dan padam sesuai dengan sifat alamiah dan kondisi relatifnya, maka direalisasi bahwa mereka bukan “atta” atau “diri”. Pengertian bijaksana ini disebut “Anatta-sammassana-nana” (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri).
Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan, siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus dengan jelas. Pada tahap ini, seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh, yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa), seperti :
-
Cahaya yang gemilang (Obhasa)
-
Kegiuran batin (Piti)
-
Sikap batin tenang (Passaddhi)
-
Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha)
-
Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha)
-
Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha)
-
Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca, dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana)
-
Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana)
-
Keseimbangan batin (Upekkha)
-
Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 – 9 (Nikanti)
Oleh karena itu, siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menjaga mulutnya, umumnya ia menceritakan pengalamannya. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. Inilah indikasi awal atau tahap permulaan dari ‘Udayabbaya-nana‘ (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang salah (Amagga).
Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya, dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Ia tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari pengalaman atau sesuai dengan petunjuk gurunya.
Keputusan murni ini adalah indikasi “Maggamagga-nana-dassana-visuddhi” (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan).
Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secara bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu gerakan membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah, setiap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Inilah kematangan atau tahap akhir dari “Udayabbaya-Nana”. Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari “Upakkilesa” (ketidakmurnian).
Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat, pencerapan terhadap objek-objek dijumpai lebih cepat. Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan “Upacara” (pendekatan) dan “Anuloma” (adaptasi). Ini adalah “nana” atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan “Magga-nana” (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya.
Pandangan terang mulai dari “Udayabbaya-Nana” yang masak sampai dengan “Anuloma-nana” secara kolektif dikenal sebagai “Patipada-nana-dassana-visuddhi” (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar).
Setelah Anuloma Nana, muncullah “Gotrabhu-Nana” (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya, dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara total. Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan “Puthujjana” (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan “Ariya” (makhluk suci).
Kemudian muncul “Sotapati Magga Nana dan Phala Nana” (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Magga Nana disebut “Nana-dassana-visuddhi” (Kemurnian pandangan).
Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus “Magga, Phala dan Nibbana”. Ini adalah “Paccavekkhana-nana” (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam).
Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut sebagai makhluk “Sotapanna” (Pemenang arus).
Khas Anicca, Dukkha, Anatta, dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Ini adalah “Patisankha-nana” (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut).
Ketika “Patisankha-nana” ini masak, perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebuah jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. Dilanjutkan dengan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin – hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-objek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam, dua jam atau tiga jam; dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama, tanpa lelah atau bosan. Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah objek-objek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan, disebut “Sankharupekkha-nana” (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara).
Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumnya merealisasi objek, muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan aktif. Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang juga dikenal sebagai “Vuitthana” (elevasi) adalah “Vutthana-gamini-vipassana-nana” (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur).
Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal, tidak memuaskan, dan bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah “Anuloma-nana” (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga “javana” (saat-saat dorongan) disebut “Parikamma” (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas.
Mahavatar berkata
BODHIPAKKHIYA DHAMMA (37 Faktor Pencerahan):
A. 4 Satipathana (landasan kesadaran)
a. Kayanupassanasatipathana
b. Vedananupassana
c. Cittanupassanasatipathana
d. Dhammanupassana
B. 4 Sammappadhana (usaha yang benar) :
1. Samvarappadhana, berusaha terus menerus agar keadaan* atau pikiran jahat atau buruk tidak muncul dalam diri seseorang
2. Pahanappadhana,usaha yang terus menerus untuk menghilangkan pikiran jahat atau buruk yang telaha muncul dalam diri seseorang.
3. Bhavanappadhana, usaha yangterus menerus untuk menimbuulkan pikiran baik dalam diri seseorang.
4. Anurakkhanappadhana, usaha yang terus menerus untuk mengembangkan serta tidak membiarkannya lenyap pikiran baik yang telah muncul.
C. 4 Iddhipada (jalan kesuksesan) :
1. Candha, kepuasan & kegembiraan di dalam mengerjakan hal-halyang sdengan dikerjakan
2. Virya, semangat dalam mengerjakan sesuatu.
3. Citta, konsentrasi pikiran yang kuat &a memperhatikan dengan sepenuh hati pada hal-hal yang sdengan dikerjakan.
4. Vimamsa, merenungkan & menyelidiki sesuatu yang dikerjakan & berusaha memperbaiki sehingga mencapai hasil yang baik
D. 5 indariia (kemampuan)
1. Saddhindariiya, kemampuan dari keyakinan
2. Viriyindariiya, kemampuan dari usaha atau semangat.
3. satindariiya, kemampuan dari kesadaran
4. samadhindariiya, kemampuan dari meditasi.
5. pannindariiya, kemampuan dari kebijaksanaan.
E. 5 Bala (kekuatan)
1. Saddhabala, kemampuan dari keyakinan
2. Viriyabala, kemampuan dari usaha atau semangat.
3. satibala, kemampuan dari kesadaran
4. samadhibala, kemampuan dari meditasi.
5. pannabala, kemampuan dari kebijaksanaan.
F. 7 Bojjhanga (faktor penerangan sejati) :
1. Sati : kesadaran, kemampuan untuk mengingat
2. Dhammavicaya : penyelidikan dhamma
3. Virya : semangat
4. Piti : kegiuran
5. Passaddhi : ketenangan batin dari hal-hal yang mengganggu perasaan
6. Samadhi : konsentrasi pikiran yang sempurna
7. Upekkha : keseimbangan batin yang tak tergoyahkan
G. 8 magga (Delapan ruas jalan utama) :
1. Samma Dithi (Pandangan benar)
2. Samma Sankappa (Pikiran benar)
3. Samma Vacca (Pembicaraan benar)
4. Samma kamanta (Perbuatan benar)
5. Samma Ajiva (Matapencaharian benar)
6. Samma Vayama (Usaha benar)
7. Samma Sati (Perhatian benar)
8. Samma Samadhi (Meditasi benar)
Secara ringkas, 7 faktor pencerahan:
1. karena rajin melakukan latihan itu, anda punya Sati/perhatian penuh/kewaspadaan terhadap segala sesuatu di sekeliling anda. cocok untuk pekungfu.
2. karena punya sati, ia menjadi tertarik untuk menyelidiki fenomena-fenomena alam (diri pun alam juga). ini disebut Vicayo/punya kemampuan investigasi.
3. karena suka bervicayo, muncul Viriya/energy Dhamma.
- Viriya ini dapat dipakai untuk ilmu pengobatan agama buddhi.
- Viriya ini penimbul semangat untuk terus beragama. karena cuma orang beragama yang bisa melakukan latihan itu. atheist tak bisa, karena atheist tak punya tujuan hidup.
- Viriya adalah tenaga ilmu tapak buddha.
Viriya cuma muncul sesudah keyakinan/iman/saddha muncul.
4. Karena ada Viriya, ada gairah hidup (Piti), sehingga tak stress, atau bunuhdiri. karena itu orang buddhist mentalnya lebih sehat dari muslim.
5. Karena sudah ada piti, ia tak perlu lagi buku-buku motivasi yang cuma bersifat doping semata. ia sudah tenang (Passadhi).
6. beban tak ada, tubuh menjadi tenang. akibatnya jadi mudah dalam berkonsentrasi (Samadhi) mengerahkan jurus.
7. karena sudah terkonsentrasi, ia tak akan mengejar kenyamanan dan tak terganggu oleh ketaknyamanan lagi (Upekkha).
“pikiran yang menderita adalah pikiran yang mengejar kenyamanan. pikiran yang bahagia adalah pikiran yang sudah berhenti mengejar kenyamanan. kebahagiaan adalah ketaktergangguan, bukan kenyamanan. kenyamanan adalah saat di mana 6 indra melemah sehingga berat sebelah saat memahami segala Dhamma. orang cuma bahagia jika bervipassana, bukan karena ia muslim, karena ia hindu, karena ia kristen” – Ratu Adil.
Mahavatar berkata
Cara mencapai pencerahan itu sendiri adalah sebagai berikut:
1. Kayanupassana (watch your body)
“Bergerak” diamati sebagai “bergerak”, “jalan” diamati sebagai “jalan”..
“buahdada bergoyang” tak diamati sebagai “buah dada indah”, melainkan tetap sebagai “buahdada bergoyang”. Sehingga tak terbawa emosi, sehingga merasa ada “aku/diri” pada buah dada bergoyang. Yaitu keakuan yang berpikir, “aku senang buahdada, karena indah, karena membuatku nyaman. aku ingin cari istri sehingga bisa setiap hari bersama buahdada bergoyang”. Ia sudah merasa tak berarti tanpa buahdada indah.
2. Vedananupassana (watch your emotion)
“Aku ingin buahdada” diamati sebagai “aku ingin buah dada”. Bukan diamati sebagai “buahdada kan cuma kelenjar kewanitaan”, “Allah kan lebih tinggi dari buahdada”. Bukan Saya melarang, tapi cara seperti itu tak pernah berhasil. Lihat saja AA Gym dan para kiyai lain. “Aku” memang tak pernah muncul dari perasaan. Karena sifat dari vedana, cuma sebagai pembangkit dan penyempurna pikiran saja (sempurna sebagai manusia maksudnya), karena itu keakuan tak akan muncul dari perasaan, vedananupassana cuma untuk pengambilan kebijakan dari kosmos (akan diketahui saat mendapat nyana yang berkaitan)
3. Cittanupassana (watch your thoughts)
“uang membuat orang jadi kaya” diamati sebagai “uang membuat orang jadi kaya”. Bukan diamati sebagai “aku harus kerja, aku harus menabung, aku harus investasi”.
Saat seseorang bervipassana terus pada uang, maka ia akan mendapat nyana tentang pengetahuan tentang timbul-tenggelam (uang tergantung pada fluktuasi ekonomi), sehingga tak ada aku/diri pada uang. bukan uang pendukung tetap hidup manusia.
4. Dhammanupassana (watch your knowledge)
“islam” diamati sebagai “islam”, bukan diamati sebagai “islam itu kan baik, cuma orangnya saja..”. “atta/atman” dari hindu diamati sebagai “atta/atman” bukan diamati sebagai “pikiran itu atta” atau “meditasi mengenal diri” atau “atta adalah ilusi”.
Dst.
Mahavatar berkata
Point nomor 4 ini ada segelintir orang yang mengatakan bahwa bagian ini salah. mengatakan saya salah.
Sebenarnya ada, yaitu pada Dhammanupassana, bagian “konsentrasi tepat”, yang didukung oleh Mulapariyaya Sutta.
“seseorang tak mengindentifikasi agama ini sebagai ‘agamaku’” – Mulapariyaya Sutta.
Kenapa demikian? Karena jika sudah diidentifikasi sebagai ‘agama’ku maka ia tak membiarkan agama itu dipaparkan sebagaimana adanya, tapi akan diubah-ubah:
1. Jika agama itu radikal, maka karena sudah diindentifikasi sebagai agama-ku. maka saat membuat blog, tulisan tentang agama itu akan dipuji-puji agar ia tak terancam.
2. Jika agama itu agamanya, dan ia dibesarkan dalam keluarga yang baik, maka arah agama itu yang tadinya jalan tengah ditariknya menjadi jalan baik. semua diubah, hubungan anak-ortu pun diubah. ayat-ayat utama tak lagi dipasang.
jadi kalau saya bilang latihan vipassana nomor 4 adalah misalnya “melihat ‘bioskop’ sebagai ‘bioskop’” ya benar saja.
Kenapa tak benar, jika memang itu benar-benar Dhammanupassana dan Anda mengerti apa yang hendak disampaikan Mulapariyaya Sutta.
Mahavatar berkata
Semua fenomena dhamma yang secara ilusif dianggap ini-ku, maka uraiannya akan diutak-atik sesuai maunya dia. bukan lagi arti dari dhamma itu yang sebenarnya.
dan jika orang membaca tulisan dhammaraja di sini maka ia akan tahu bahwa dengan berbuat begitu sama sekali tak akan menjadikannya sebagai kenyataan, karena:
1. Ilusi adalah bawahsadar (sub consiousness)
Pengalaman adalah sadar (consiousness)
Kenyataan adalah supersadar (superconsciousness)
Dhamma adalah kosmos (cosmic consciousness)
Pemrograman bawahsadar BUKAN kenyataan.
2. Anda belum memperoleh pengetahuan murni “anatta-sammassana-nana” (bahwa sesuatu tanpa aku).
Anda masih berkhayal “dunia ini aku. aku bertanggungjawab atas dunia. aku bisa membuat dunia begini begitu dengan aku begini begitu”. Padahal Anda bagian dari arus energy saja. Jika Anda mengajar orang, orang itu pintar karena memang buah kamma pintarnya sendiri sudah masak. Anda cuma pelakon saja sebagai guru. sama seperti dia pelakon sebagai murid. Meski nanti Anda menjadi dewa lalu Buddha pun kebenaran ini tak akan berubah. Anda tetap pelakon meski Anda Buddha.
3. Orang mau mengubah-ubah arah agama jalan tengah menjadi agama jalan baik atau jalan positif, karena ia SUKA akan ide itu. Dipikirnya, “yang seperti ini kan baik”, “saya kan mau mengubah orang”. Sedangkan level kenyataan baru terjadi di Jhana 4 pikiran, yang mensyaratkan ketiadaan SUKA.
Jadi, penjadian tak sama dengan kenyataan. Cuma karena sesuatu itu exist bukan berarti itu nyata, dan bisa dikembalikan tiap saat oleh orang yang pikirannya sudah level 4.
Mahavatar berkata
Bukti bahwa Agama Buddhi dan Agama Buddhi bukan agama berpikir positif:
1. “Apa pentingnya jika kukatakan berpikir positif atau negatif” – Culamalunkyaputta Sutta.
(yang penting tentang duka, asal duka, akhir duka, cara berakhirnya duka.)
2. “Mengindentifikasi positif sebagai positif. Tak mengindentifikasi sebagai aku berpikir positif” – Mulapariyaya Sutta.
(jika ‘aku’ yang berpikir positif, maka jalan yang hendak menuju kebenaran, menuju Nibbana, akan dibelokkan menuju hal-hal positif, hal-hal yang mengundang kenikmatan hidup, mengarah pada penjadian dan kelahiran. misalnya masuk dan berdiam pada milis spiritulalis).
3. “o para bhikku, meski kamu sudah positif pun, itu pun dibuang. biar kamu cepat maju” – Alagaddupama Sutta.
(jangan dulu sok tahu menyamakannya dengan no-mind. no-mind itu tak ada. Nibbana bukan no-mind. Nibbana masih mind, yaitu perfect mind. Menyuruh membuang persepsi artinya, menyuruh tak menghidupkan dan memperkaya persepsi. begitu pula kesadaran, thougts, dan perasaan. Sedang menyuruh membuang pikiran artinya menyuruh bunuhdiri. Makanya Sang Buddha belum pernah suruh orang agar no-mind, karena ia tak mau orang bunuh diri).
Mahavatar berkata
“Para bhikkhu, dengan alasan apa, apa yang bukan milikmu, enyahkanlah. Dengan mengenyahkan itu akan menjadi lama bagi kesejahteraan serta kebingungan-mu. Dan apa, para bhikkhu, apa-apa yang bukan milikmu itu? Bentuk materi, para bhikkhu, adalah bukan milikmu, enyahkanlah, dengan mengenyahkan itu akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagiaanmu. Perasaan, para bhikkhu, adalah bukan milikmu; enyahkanlah, dengan mengenyahkannya akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagiaan bagimu. Pencerapan atau persepsi, para bhikkhu, adalah bukan milikmu; enyahkanlah, dengan mengenyahkan itu akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagianmu. Kecenderungan-kecenderungan yang merupakan kebiasaan, para bhikkhu, adalah bukan milikmu; enyahkanlah mereka itu, dengan mengenyahkannya itu akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagiaan bagimu. Kesadaran adalah bukan milikmu; enyahkanlah mereka itu, dengan mengenyahkan itu akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagiaan bagimu. Kesadaran adalah bukan milikmu; enyahkanlah serta kebahagiaan bagimu. Apa yang kamu pikirkan tentang ini, para bhikkhu? Apabila seseorang akan berkumpul atau membakar atau akan berbuat sesuatu yang ia senangi dengan rumput, ranting-ranting, cabang-cabang serta daun-daun di dalam Hutan Jeta ini, apakah akan terjadi padamu: orang itu akan mengumpulkan kita, akan membakar kita, ia akan berbuat apa yang ia senangi terhadap kita?”
“Tidak, Bhante. Apa alasan untuk ini? Bhante, sesungguhnya, adalah bukan pribadi kita juga bukan termasuk pribadi.”
“Para bhikkhu, sekalipun demikian, apa yang bukan milikmu, enyahkanlah mereka itu; dengan mengenyahkan mereka itu akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagiaan bagimu. Dan apa, para bhikkhu, yang bukan milikmu itu? Bentuk-bentuk materi, para bhikkhu, adalah bukan milikmu; enyahkanlah mereka itu, dengan mengenyahkan mereka itu akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagiaanmu: Perasaan, persepsi, kecenderungan-kecenderungan yang merupakan kebiasaan … kesadaran, para bhikkhu, adalah bukan milikmu, enyahkanlah, dengan mengenyahkan mereka itu akan lama waktunya bagi kesejahteraan serta kebahagiaanmu.”
Mahavatar berkata
Jadi jelas kan, maksudnya kepemilikan yang ilusif atas lima kelompok tubuh yang dibuang. Bukan lima kelompok tubuh itu.
Mahavatar berkata
Dengan membuang itu, makhluk akan menjadi Buddha akibat, dinding pembatas antara bawahsadar-sadar-supersadar sudah didobrak. akhirnya cuma tinggal pikiran kosmos. atau cosmic mind (kebuddhaan).
Mahavatar berkata
Tapi berhubung isi dari otak Buddha tak ada lagi persepsi, thoughts, dan perasaan (perasaan netral pun lenyap di jhana 9), maka isi dari pikiran itu cuma kesadaran saja, karena itulah:
orang hindu menyebutnya cosmic consiousness.
orang buddha menyebutnya cosmic mind, karena masih membawa ciri-ciri mind.
Horee Agama Buddha tetap benar. No-mind tetap salah. Horee.
Mahavatar berkata
Horeee
Mahavatar berkata
Cukup sekian untuk hari ini.
Adi berkata
Dipikir-pikir benar juga..
Mula-mula mind itu isinya kesadaran + persepsi + perasaan + thoughts.
kalau… ini kalau ya.. isinya tinggal kesadaran, berarti masih mind dong.
Anda benar.
Mahavatar berkata
Ya.
Buddha memang hebat.
Y.M. Dhammaraja Mahavatar Buddha Vama berkata
Hahahaha…. Hahahaha…. Agama Buddhi memang hebat. Hahahaha….
Semua bentuk pelajaran motivasi yang berbau tulalit sehingga terkategori dalam spiritulalism tak ada gunanya.
Kenapa demikian?
Karena mereka masih diam pada sesuatu. Masih duduk pada sesuatu.
Misalnya, mereka pegang buku “7 sifat mencerahkan” tapi mereka masih diam pada sesuatu. masih sebagai pekerja, orang rumahtangga. lalu menggunakan buku-buku itu agar tak stress atau agar bahagia (maunya).
Tapi karena, masih ada sisa lobha dosha moha pada mereka, yang diakibatkan setiap hari tak mau bangun-bangun. Tak mau bersih. Cuma mau bersih sebagian, maka sisa pikiran mereka yang masih kotor tetap memancing munculnya masalah-masalah baru dalam kehidupan mereka. Hehehe Saya pintar dan sungguh bijak. maklum sudah buddha. tak ada guru bisa menyamai saya.
hehehe.. hehehe.
hahahahahaha…
Mahavatar berkata
Ya ya Anda sungguh bijak.
hehe.
ini sudah malam. kita sambung lagi kapan-kapan.
Mahavatar berkata
Sekedar menimpali, makanya kata Buddha “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, segala sesuatu dibentuk oleh pikiran. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikuti dirinya, bagai bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.”
(Dhammapada 1,2)
Mahavatar berkata
Jadi, jika pikiran terpecah dua, mau tahu agama sekaligus tetap sebagai hedonist, alias spiritulalist, maka pikiran akan tetap menghasilkan suka dan duka baginya. sukanya dari bagian pikiran dia yang ia pakai baca-baca buku agama. dukanya dari sikap dia yang tak mau meneladani apa yang ia baca.
“orang yang mendengar dhamma tapi tak melaksanakannya bagaikan orang yang menghitung ternak orang lain” – Dhammapada.
Mahavatar berkata
Menjadi spiritulalist sebenarnya tak bisa dikatakan pintar atau elit, karena itu masih tahap hewani. Hewan itu kan mencicip ini itu tapi tak menelaah apa yang ia cicip.
Jadi, bukanlah hebat gaya hidup seperti itu.
Saya cuma mau ikuti kalau memang itu elit, kalau cuma sok elit gak deh.
Sampai jumpa dilain waktu.