Perbedaan Mahayana dan Theravada
Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 26, 2009
![]()
Kekosongan
Mahayana: makhluk-makhluk dianggap ilusi dan tak nyata, karena yang ada cuma kosong.
Theradava: makhluk-makhluk tetap nyata dan bukan ilusi, karena dianggap kosong cuma karena tak ada intinya.
Pencapaian tertinggi
Mahayana: Menolong orang baru menolong diri sendiri.
Theravada: Menolong diri sendiri baru menolong orang.
Interpretasi
Mahayana: Cenderung tak seimbang dan hasil pemikiran tak terlatih.
Theravada: Selalu seimbang dan hasil pemikiran terlatih.
Dasar asli manusia
Mahayana: Zat Buddha.
Theravada: Bodoh, tamak, benci.
Vegetarian
Mahayana: Mengatakan Buddha menyuruh menjadi vegetarian.
Theravada: Mengatakan Buddha tak menyuruh menjadi vegetarian.
Kebahagiaan
Mahayana: Banyak ceria dan menolong orang.
Theravada: Ketaktergangguan.
Diri
Mahayana: Dibagi menjadi diri kecil, yang diartikan “pikiran yang mementingkan kepentingan sendiri” (sama seperti filsafat psikology barat) dan diri besar yaitu zat Buddha.
Theravada: Tak ada, selain kebenaran yang bersifat duniawi tentang panggilan terhadap lima aggregat. Selain itu tak ada lagi Diri Besar.
Kosmos
Mahayana: Ada tiga tubuh.
Theravada: Tak ada pembagian tubuh. Sang Buddha cuma pernah menyebut dirinya sebagai tubuh Dhamma.
Perbuatan tertinggi
Mahayana: Kasih.
Theravada: Vipassana.
Buddha sesudah Nibbana
Mahayana: Masih ada entah dimana.
Theravada: Tak ada lagi, selain kekosongan itu sendiri.
Buah latihan
Mahayana: Filsuf dan bhikku-bhikkuan.
Theravada: Bhikku dan Buddha.
Dalam rangka berat sebelah pada ide akan kebaikan (berhubung ketiadaan upekkha) para bhikku keduabelah pihak lalu bersama-sama berkumpul mencari kesamaan. Misalnya, sama-sama punya dua mata, dua telinga, dst.
Sugimo berkata
“Dasar asli manusia
Mahayana: Zat Buddha.
Theravada: Bodoh, tamak, benci.”
Memang Theravada lebih masuk akal. Karena jika memang dasar asli manusia adalah zat Buddha, kenapa Gotamabuddha tetap meninggalkannya dalam rangka mencapai Nibbana.
Mahavatar berkata
Mereka memang tolol.
Kita cuma bisa tersenyum dalam hati.
Mahavatar berkata
Tak ada mahayanist yang mencapai jhana 7, di seluruh dunia tak ada.
Jhana 6 pun tak ada.
Seorang Theravadin bisa dengan mudah mencapai Jhana 7, karena ia tahu apa “Kekosongan” yang sebenarnya.
Seorang ‘bhikku’ mahayana akan berkata, “siapa yang tertawa, siapa yang menangis, kan semuanya kosong”. Tapi jika kita mentrawang bawahsadar Mingyur rinponche, penulis joy of life, maka tampak dibawahsadarnya gambar Saya. pertanda ia masih akan terlahir lagi, karena kemelekatannya akan duduk dan ngomong-ngomong bersama orang suci.
Tak ada seorang pun di dunia ini yang kesedihannya hilang karena alasan semua kosong. Biasanya bhikku mahayana yang seperti itu sedang tak sedih karena memang pikirannya sedang fokus menulis buku “joy of life” misalnya, atau sedang sibuk menghafal sutta misalnya. karena itu ia tak sedih. tapi sekedar lempar philosophy “siapa tertawa, siapa menangis, semua kan kosong”.
Jhana 7 yang sebenarnya bukan begitu. Melainkan, Kita tak mikir untuk ketawa, kita tak mikir untuk menangis. kita tak punya alasan untuk ketawa atau menangis, karena pikiran kita selalu maju membelakangi moment-moment.
misalnya, saat anda sedang ajak saya ngobrol tentang halaman ini, Anda sudah tak bisa saya jawab lagi, karena berhubung topik ini tak mendukung pembebasan anda, dan saya tak mengkoleksi moment tentang terjadinya halaman ini, maka semua ini kosong alias gak ada inti atau topik yang perlu untuk disimpan di mental. kita semua sudah lebih maju dari waktu yang ini. Inilah Kekosongan yang sebenarnya.
Mahavatar berkata
Buddhism bukanlah philosophy. Tak pernah merupakan philosophy.
Karena Sang Buddha melarang kita untuk berpikir.
Pemikiran dan perenungan tak pernah ada di buddhism yang asli.
“Siang dan malam aku berpikir tentang baik dan buruk. karena berpikir aku capek. karena capek aku gak bisa konsentrasi. karena gak bisa konsentrasi aku gak punya kebijakan. karena itu aku mengganti berpikir dengan cukup menempatkan pikiran pada obyek tertentu secara terus-menerus (meditasi).” – dvhedhavitakka sutta.
satipatana bukanlah perenungan artinya.
apa anda akan bilang mengamati “duduk, jalan, dsb” sebagai merenung? Satipatana = pengamatan berkelanjutan.
sedang merenung artinya = pengkhayalan + pemikiran berkelanjutan.
Abdul berkata
Kenapa gambarnya seperti itu?
Mahavatar berkata
Kehabisan gambar.
mettaboy berkata
“Memang Theravada lebih masuk akal. Karena jika memang dasar asli manusia adalah zat Buddha, kenapa Gotamabuddha tetap meninggalkannya dalam rangka mencapai Nibbana.”
Lupakah Anda, bahwa pada akhirnya Gotama berhasil mencapai Pencerahannya, dan ia mengikis semua lobha, dosha, dan mohanya, sehingga yang ada cuma pikiran murninya?
Berarti mahayana benar.
Mahavatar berkata
Saya tak lupa itu. Anda lah yang lupa ayat ini:
“Aku bukan manusia” – Dona Sutta.
Jadi, saat Gotama tercerahkan menjadi Buddha. Pikiran murninya, bukan lagi bagian dari kemanusiaan.
Ia bukan lagi manusia, “suatu sebutan bagi makhluk yang mengidentifikasi dirinya dengan aggregat-aggregatnya” – Buddha pada Vasejjha.
Theravadalah yang tetap benar. Zat asli manusia adalah lobha, dosha, moha. Saat semua ini dikikis, ia bukan lagi manusia.
Sugimo berkata
Saya teringat lagi rekan saya ratnakumara, tanpa ada Hiri dan Otappa sedikitpun, ia menulis:
semua makhluk pada dasarnya memiliki benih-benih ke-Buddha-an didalam dirinya. Disebabkan oleh kekotoran-kekotoran batin, maka ia senantiasa terjebak dalam ilusi-ilusi duniawi. Sebagaimana dinyatakan dalam Anguttara Nikaya I.10 :
“ Batin pada mulanya sesungguhnya adalah suci bersih, tetapi dicemari oleh kekotoran batin yang timbul kemudian, sehingga batin menjadi kotor. Ummat awam tidak menyadari hal ini, sehingga mereka tidak melatih batinnya. Akan tetapi batin dapat dibersihkan dari kotoran yang timbul, sehingga batin kembali suci. Siswa Buddha menyadari hal itu sehingga mereka melatih batinnya. “
Padahal isi Anguttara Nikaya I.10 samasekali bukan itu.
Mahavatar berkata
Anak itu memang terkutuk!! Terkutuk saya katakan!!
Isi A.N. I.10 yang sebenarnya:
http://www.intratext.com/IXT/ENG0228/_P1.HTM
Mahavatar berkata
Ia tak akan pernah terlahir sebagai manusia, atau dewa, atau lebih dari itu. Kecuali ia segera mengubah pandangannya sebelum mati.
Syarat untuk jadi manusia adalah: Mengerjakan pancasila buddhist.
Tanpa Hiri dan Otappa berarti ia tak pernah mengerjakan pancasila buddhist. yaitu, ia SUKA BERBOHONG.
Dan jika ketahuan berbohong ia tak mau meralat, tapi sekedar berkata, “sudah tak perlu kita perdebatkan ketiadaan ucapan buddha ini. yang penting kita sama-sama berbuat baik.”
Mahavatar berkata
TERKUTUK !!!
Mahavatar berkata
TERKUTUK SAYA KATAKAN !!
Mahavatar berkata
Begini cara ratnakumara dalam menganalisa sutta:
“belum pernah o bhikku, saya lihat dahsyatnya serbuan pada pikiran hitler, seperti lewatnya tubuh wanita.” – Buddha.
Maka ngebloglah rekanmu ratnakumara seperti ini, “buddha pun sudah berkata dalam anguttara nikaya, sebelum lewat wanita, hitler pada dasarnya baik. cuma karena ia tak teliti saja maka ia jadi buruk”.
Tak heran, telinganya tak terlalu peyot. cuma peyot sedikit.
hehe.
Mahavatar berkata
Sang Buddha tak pernah mengeluarkan teori benih buddha, karena manusia adalah kumpulan kesadaran sebelumnya.
Benih buddha/tathagarbha cuma sekedar filsafat pencarian kebenaran. sama seperti seseorang yang berkata, “pada dasarnya aku adalah atlet olimpiade” tapi ia harus betul-betul datang ke olimpiade itu untuk jadi atlet. Lebih tepatnya, ia mempunyai benih kekuatan. tapi bukan benih atlet, benih pilot, benih dokter, dsb.
Yang lebih tepat disebut kumpulan benih-benih itu adalah sumber belajar kita:
- guru-guru.
- buku-buku.
- meditasi.
jika meditasi adalah benih buddha, benar. tapi jika manusia adalah benih buddha atau punya benih buddha salah.
Mahavatar berkata
Hahaha… Hahahaha… Hahahaha.
Sekali lagi Saya benar. Hahahaha.
Hahahaha… Hahahaha…
Mahavatar berkata
Hahahahahahaha…. Hahahaha….
Mahavatar berkata
Semua ide-ide yang setuju bahwa kekuatan itu diperoleh dari dalam adalah salah.
Begitu juga yang mengatakan kekuatan itu diperoleh dari luar.
Inilah kehebatan dan kebenaran jhana 8 “bukan dalam bukan luar, tapi apa yang terbentuk sebelumnya.”
Mahavatar berkata
bagaimana mungkin seorang bayi bermeditasi untuk berjalan?
tentu saja ia membutuhkan masaknya kamma menjadi besar baru bisa berjalan.
inilah yang disebut “kekuatan manusia itu sebenarnya dari dalam ADALAH SALAH”.
Mahavatar berkata
bagaimana mungkin seseorang menggantungkan kemuliaannya, kepintarannya, dan kesuciannya dari pemberian orang lain?
tentusaja ia membutuhkan masaknya kamma meditasi jhana demi jhana baru bisa hebat semuanya.
inilah yang disebut “kekuatan manusia itu sebenarnya dari luar ADALAH SALAH”.
Mahavatar berkata
Juga membuktikan:
1. kita tak membutuhkan teman sebagai syarat kemuliaan, kepintaran, kesucian kita.
“satu-satunya temanmu cuma kamma baikmu” – Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.
2. kita tak tergantung oleh alur kamma orang lain, tak ada sesuatu yang disebut kamma gabungan/collective kamma.
3. kita lahir sendiri, hidup sendiri, mati sendiri. yang melihat kebenaran ini bahagia, yang menyangkal menderita.
Mahavatar berkata
Saat kita mendapat makanan dari orang:
1. pandangan salah adalah “karena orang itu saya mendapat makanan”.
2. pandangan benar adalah “karena kamma baik saya sudah masak, saya bertemu orang yang sudah saatnya membuat kamma baik dengan memberi saya makanan.”
Mahavatar berkata
Sedangkan mengenai kebenaran dari contoh itu adalah:
1. Kebenaran sehari-hari: “karena orang itu saya mendapat makanan”.
2. Kebenaran kosmos/dhamma: “bukan karena orang itu saya mendapat makanan”.
Itulah sammuti sacca dan paramatha sacca dari contoh di atas.
Mahavatar berkata
Hahahaha… saya pintar… Hahahaha..
Hahahaha… Hahahaha….
Mahavatar berkata
“kekuatan manusia itu sebenarnya dari kammanya sendiri. bukan luar bukan dalam.” – Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu
Mahavatar berkata
Hahahaha… Hahahaha….
Hahahahaha….
Mahavatar berkata
Karena kekuatan manusia itu sebenarnya hasil pemompaan kamma-kamma baik terus-menerus, maka hidup taklah begitu menarik. Hidup sederhana saja. Anda pikir, ucap, buat hal-hal tertentu maka arah hidup menjadi seperti yang diarahkan.
Sugimo berkata
Memang pada hakekatnya bhikku-bhikku mahayanist tak pintar dalam mengajar.
Lihat saja cara mengajarnya Mahadeva, pemimpin Mahasangika, cikalbakal Mahayana:
Chat ‘TIADA-DIRI” terjadi antara seorang Bhikkhu terpelajar dan Mahadeva, sebagai berikut ini :
Bhikkhu terpelajar ( B ) : “Selamat pagi, siapakah kamu ? “
Mahadeva ( M ) : “Mahadeva”
(B) : “ Siapakah “Mahadeva” ? “
(M) : “ Aku “.
(B) : “ Siapakah “AKU” ? “
(M) : “ Anjing “.
(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “
(M) : “ KAMU!”
(B) : “ Siapakah “KAMU” ? “
(M) : “ Mahadeva ”
(B) : “ Siapakah “MAHADEVA” ? “
(M) : “ Aku “
(B) : “ Siapakah “AKU” ? “
(M) : “ Anjing “.
(B) : “ Siapakah “ANJING” ? “
(M) : “ KAMU!”
Demikianlah debat tersebut berlangsung berulang-ulang hingga terciptalah ledak tawa para pemirsa yang akhirnya memberikan pandangan-cerah kepada si Bhikkhu terpelajar itu, ia menyadari bahwa ia telah membiarkan dirinya beberapa kali disebut sebagai “ANJING” oleh Mahadeva yang lebih mengutamakan mengejek daripada mengajar.
Bahkan ratnakumara yang senang dengan cara mengajarnya, lalu sering berprasangka buruk terhadap orang lain. Misalnya, jika ada seseorang memberi usul-usul baik, maka ia akan menimpali “itu kan maunya si mas hehe”
Mahavatar berkata
Seorang Buddha tak pernah mengajar dengan cara menyindir atau merendahkan. Baca ulang tulisan suprememaster di:
http://suprememaster.wordpress.com/2009/01/09/tips-berbicara-dengan-baik-dan-benar/
Misalnya saja, Sang Buddha akan memilih menjawab, “jika itu alasan kamu, maka seharusnya dalam kasus ini yang terjadi adalah…” daripada menjawab “kamu itu salah. yang sebetulnya…”. Adapun kenapa Saya memilih pendekatan kedua pada masyarakat Indonesia adalah dikarenakan pikiran mereka masih belum terlatih mengikuti alur Dhamma, jadi memang harus ditembak dengan jawaban “kamu salah..”. Nanti jika mereka sudah bersih, baru Saya mulai menjalankan Tip-tip pada halaman itu. Hehe.
Umumnya murid akan meniru guru. Jika Sang Buddha yang sudah terlatih dalam menjawab dan memilih menjawab dengan sindiran (yang mana tak mungkin dilakukannya) apa jadinya, jika muridnya yang baru punya mata dewa (belum mata buddha) menirunya.
Misalnya saja: muridnya ini baru tahu bahwa self itu ada. belum mendengar ajaran tiada self. lalu ketemu orang yang hendak diajarnya, berkatalah ia “buaya itu cerdik, tapi masih kalah melawan kancil” lalu melengganglah ia dengan pikiran ia sedang mengajar.
Besoknya, barulah ia mendapat ajaran tiada self. Paling cuma tersenyum nyengir “oh iya, kemarin saya salah”.
Karena itulah Sang Buddha tak pernah mengajar orang seperti cara-cara mahayanist atau Zen. karena diperkirakan akan dipraktekkan oleh orang yang benar saja belum.
Sugimo berkata
Tapi bukankah Sang Buddha pernah mengajar tanpa suara, yaitu dengan tiba-tiba datang ke mahakasyapa sambil menyerahkan setangkai bunga karena cuma mahakasyapa yang mengerti.
Mahavatar berkata
Itu adalah kisah palsu yang dikarang oleh orang Zen untuk memperkuat kedudukan aliran Zen di mata masyarakat dengan menjadikan Mahakasyapa sebagai patriarch/pendiri pertama Zen.
Mahakasyapa adalah murid Buddha yang unggul dalam kesaktian. Sariputta yang unggul dalam kebijakan. Seharusnya saat mengarang kisah itu, bunga itu diberikan pada Sariputta.
Saya pun menjadikan diri Saya sebagai Nabi ke 29 Agama Buddhi, tapi Saya tak perlu membuat cara-cara kotor untuk menghalalkan diri Saya naik pentas, seperti mengarang-ngarang kisah atas diri para Ariya seperti Mahakasyapa.
Ngomong-ngomong, Saya pun dulu pernah terlahir sebagai Hui Neng, patriarch ke-6 Zen. Cuma di tangan Saya, Zen itu jadi bagus.
Zen artinya meditasi. Tapi karena namanya itu, bukan berarti meditasi sebenarnya ada di situ.
Sama jika Saya membuat aliran baru bernama Jhana. Jika salah urutan ya salah. Tak ada jaminan dari nama.
Sama juga saat ada kelompok tak suka aturan minggat dari Theravada dan menamakan dirinya Mahayana (kereta besar. kamilah yang tujuannya lebih besar. untuk menolong orang) apa betul-betul menjadikan dirinya aliran yang lebih hebat? Tak.
Mahavatar berkata
Agama Buddhi sudah ada sejak jaman dinosaurus.
Tak percaya? dulu pernah ada dinosaurus berwirid Bud.. dhi..
Jadi, Dinosaurus adalah pendiri pertama Agama Buddhi.
Agama Buddhi sudah ada sejak jaman dinosaurus.
Mahavatar berkata
Itulah perbedaan paranormal bermata dewa dengan bermata buddha.
paranormal bermata dewa akan sering berkisah di milis-milis, “satu saat muhammad dalam perjalana israq mikrajnya menemukan pohon yang berurat 108, ternyata itu menyiratkan garis-garis nadi kundalini yang jika diaktifkan akan membuat…”
lalu mengajari orang yang sedang mengajak bicara “sekarang saya tanya. apa tujuan hidup? mencari ridho allah”.
Paranormal bermata buddha bisa berkisah hal yang sama di milis-milis tapi juga sekaligus benar saat berceramah.
Sehingga dalam menangani masyarakat, tak ada kesalahan sedikitpun. Baik di bidang pengobatan maupun pendidikan.
Mahavatar berkata
Bisa melihat energy eterik belum apa-apa jika masih bodoh dalam mendefinisikan dhamma.
Mahavatar berkata
Kita bisa melihat pintar bodohnya orang dari arah ilmunya. Jika wajahnya putih bersih karena sering wudhu atau main energy bukan berarti ia sudah pintar, tapi menunjukkan ia sedang mengarah pada bhava tanha (kemelekatan untuk menjadi).
Hal-hal yang termasuk ciri-ciri orang yang ingin hidup lama:
1. Mengumpulkan sebisa mungkin daftar makanan super seperti flaxseed, blueberry, dsb.
2. Ikut Hatha Yogya. (olahraga itu baik, tapi batas seorang buddhist adalah TAK MELAKUKAN YOGA. Jika ia sampai ikut yoga berarti ia terkategori orang dengan bhava tanha).
Dalam berusaha menjaga kondisi fisik dan mental agar tetap fit, kita harus selalu ingat pada Jalan Tengah. Selalu ingat untuk tak terpuruk dalam hedonism semata. Yoga, yang merupakan usaha yang disengaja untuk hidup lebih lama adalah satu diantara ciri-ciri orang hedonist.
Jika mengaku bhikku/pengikut buddha, ia tak akan melakukan yoga.
Jika mengaku puthujana/penonton buddha, ia boleh melakukan yoga.
Olahraga hendaknya semata, menjaga kondisi dikala melakukan dua macam praktek:
1. Samatha Bhavana.
2. Vipassana Bhavana.
Kungfu termasuk olahraga yang dibolehkan.
Mahavatar berkata
“bukan karena air/energy, seseorang disucikan” – Buddha.
“Ia yang menempuh kehidupan brahmacari/suci, ialah yang disucikan” – Buddha.
Mahavatar berkata
Adapun mengenai Hatha Yoga itu sendiri, ada 5 keburukannya:
1. Mengarahkan orang agar menganggap bahwa tamak akan umur panjang itu sesuatu yang positif.
2. Tak seefektif kungfu es api kalacakra. karena hatha yoga artinya yoga mentari dan bulan. tapi ia tak akan memberi anda energy es dan api, kecuali anda mendapat hatha yoga yang masih asli, yaitu yang masih ditujukan untuk menyembah dewa mentari dan bulan. itupun akan mengarah pada ilmu es api versi lain, yang tetap akan kalah jika beradu tenaga dengan Kungfu Es Api Kalacakra dari Perguruan Peremuk Tulang.
3. Tak seefisien meditasi jika tujuannya untuk memperbagus tubuh. Karena hatha yoga adalah memicu fisik untuk mendoping fisik-mental. Sedang meditasi memicu mental untuk menghasilkan mental yang bisa tiap saat mendoping fisik-mental.
4. membuat orang terlupa akan tujuan hidup sebenarnya, yaitu belajar agar tahu dan terbebaskan dari masalah.
5. tak mengembangkan mata buddha, tapi cuma mengembangkan mata dewa.
Mahavatar berkata
Jadi, dengan ini, Agama Buddhi menfatwakan bahwa Hatha Yoga HARAM hukumnya bagi seluruh buddhist.
Mahavatar berkata
Apa bukti meditasi bisa mendoping fisik-mental?
Satu contoh, jika hendak begadang, bisa menjadikan fisik anti ngantuk dan anti lesu, dengan mencatat “ngantuk” sebagai “ngantuk”. Ngantuk terjadi karena ada penolakan terhadap ketaknyamanan saat begadang.
Begitu anda mencatatnya, emosi tak suka Anda berubah menjadi emosi netral sehingga Anda tak lagi mengidentifikasi “ngantuk” sebagai anda. untuk beberapa saat Anda naik level bukan manusia lagi.
Yang Mulia Shakhyamunibuddha tidur cuma 1 jam sehari. Itupun bukan karena alasan ngantuk, melainkan ia sedang memperhatikan dunia dengan mata Buddha nya, dan berkomunikasi dengan dewa-dewa.
Pada level manusia berlaku banyak aturan hidup agar sehat, misalnya:
- tubuh yang kekurangan energy perlu tidur.
- minum perlu 8 gelas sehari.
(karena itulah disebut Buddha, hidup itu duka. karena untuk hidup perlu terus memompa perbuatan baik.)
Tapi tak bagi makhluk yang tak mengidentifikasi semua ini sebagai dirinya.
“aku bukan manusia” – Buddha pada pertapa Dona.
“manusia cuma panggilan untuk makhluk yang mengidentifikasi pancakhandha sebagai dirinya. aku sebagai makhluk terbebas bukan lagi manusia” – Buddha pada Vasejjha.
Mahavatar berkata
apa yang disebut “mengidentifikasi pancakhandha/tubuh sebagai diri” itu?
Adalah saat seseorang:
Berdiam pada kesadaran mata, yang dianggapnya menyenangkan karena bisa melihat berbagai rupa.
Berdiam pada kesadaran telinga, yang dianggapnya menyenangkan karena bisa mendengar berbagai suara.
Berdiam pada kesadaran hidung, yang dianggapnya menyenangkan karena bisa mencium berbagai bau.
Berdiam pada kesadaran lidah, yang dianggapnya menyenangkan karena bisa mengecap berbagai rasa.
Berdiam pada kesadaran fisik, yang dianggapnya menyenangkan karena bisa meraba berbagai bentuk.
Berdiam pada kesadaran pikiran, yang dianggapnya menyenangkan karena bisa mengetahui berbagai ilmu.
Karena senang mengolah dan mengembangkan 6 indra, tak mau kesenangannya diganggu. Ini milikku. Ia akan bekerja, mengumpulkan makanan-makanan super, dan ikut latihan-latihan fisik yang dapat memperpanjang umur.
Karena adanya kesadaran, yang lalu diikuti persepsi itu. Lalu dibanding-bandingkan, dan ide-idenya merasa senang dan membentuk fisik untuk seluruh kebutuhan itu.
Inilah yang disebut manusia. Inilah yang disebut hidup. Inilah yang disebut duka. Manusia disebut hidup karena dari manusialah alam itu ada, dan hidup disebut duka karena dihasilkan oleh kesenangan yang mengakibatkan akan susah jika bertemu kebencian.
“Darimanakah jalan memutus duka itu, o para bhikku? Dari pancakhanda” – Buddha.
Jadi, meditasi bermula dari pancakhanda. Dari pancakhanda semua itu bermula dan dari situ pula pengakhirannya.
Mahavatar berkata
Tubuh itu diri jika sudah melekat pada bagian kesenangannya.
Tubuh itu bukan diri jika meninjau seluruh sisinya, dari kesenangan dan kebenciannya.
Misalnya, “ya memang betul tubuh itu ada bagian tahi, tapi sekadang aku sedang ngeseks, gak usah pikir itu, nanti gak enak”. Ini namanya cuma melihat satu sisi. Karena kawatir jika tubuhnya ternyata bukan diri. bukan sesuatu yang bisa untuk dipertahankan kelangsungannya.
Mahavatar berkata
Sekian untuk hari ini.
Mahavatar berkata
Jadi, tak ada hubungannya dengan ‘diri’ di luar sana. entah namanya Brahman kek, paramatman/higherself kek.
self atau higherself. sekali self tetap self. alias bohong.