Agama Buddhi

Ciwwabuddha.

Hiri dan Otappa

Ditulis oleh Mahavatar di/pada April 1, 2009

Untuk menunjang pelaksanaan sila pada seseorang, Hiri dan Ottapa akan banyak membantu.

Yang dimaksud dengan Hiri adalah perasaan malu, sikap mental yang merasa malu bila melakukan kesalahan atau kejahatan. Ottapa artinya tak mau berbuat salah atau jahat, sikap mental yang merasa enggan merasakan akibat dari perbuatan salah mapun jahat, baik melalui pikiran, ucapan, atau perbuatan.

Sang Buddha bersabda, “Ada 2 hal yang jelas, Oh Bhikkhu, untuk melindungi dunia. Hiri dan Ottappa (malu dan enggan), jika kedua hal ini tak menjadi pelindung dunia, maka seseorang tak menghargai ibunya, tak menghargai bibinya, tak menghargai kakak iparnya, tak menghargai istri gurunya…..” – (Anguttara Nikaya II.7)

Hiri dan Ottappa disebut juga Dhamma pelindung dunia (Lokapala). Hiri dan Ottappa termasuk dalam 7 Kekayaan Ariya atau 7 kekuatan Dhamma.

7 Kekayaan Ariya:
1. Saddha = memiliki keyakinan
2. Sila = menjaga ucapan dan perbuatan salah
3. Hiri = mental yang malu melakukan kejahatan
4. Ottappa = mental yang tak mau merasakan akibat perbuatan jahat
5. Bahusacca = mendengarkan Dhamma dan memahami kegunaannya
6. Caga = melepaskan, meninggalkan, dan membagi-bagikan barang-barang pada orang-orang yang membutuhkan
7. Panna = mengetahui yang berguna dan yang tidak berguna (bijakasna)

7 kekuatan Dhamma (Bala Tujuh):
1. Saddha-Bala = kekuatan dari keyakinan.
2. Viriya-Bala = kekuatan dari semangat (usaha).
3. Hiri-Bala = kekuatan dari malu jika berbuat salah (jahat).
4. Ottappa-Bala = kekuatan dari menjaga agar tak berbuat salah (jahat).
5. Sati-Bala = kekuatan dari kesadaran.
6. Samadhi-Bala = kekuatan dari konsentrasi.
7. Panna-Bala = kekuatan dari kebijaksanaan.

Contoh memiliki Hiri dan Ottappa dalam pelaksanaan sila:

Memiliki Hiri;
Karena malu disebut orang jahat, kita menghindari pembunuhan.
Karena malu disebut miskin dan hina, kita menghindari pencurian.
Karena malu disebut tak pintar cari cewek, kita menghindari perbuatan zina.
Karena malu disebut tak pintar berkisah, kita menghindari ucapan dusta.
Karena malu disebut kurang kreatif, kita menghindari minuman keras.

Memiliki Ottappa;
Karena tak mau dibunuh, kita menghindari pembunuhan.
Karena tak mau kehilangan barang, kita menghindari mencuri.
Karena tak mau mendapat masalah dalam rumahtangga, kita menghindari perbuatan zina.
Karena tak mau ditipu, kita menghindari kata-kata dusta.
Karena tak mau hilang kesadaran, kita menghindari minuman keras. 

 
Hiri bersumber dari dalam diri sendiri, sedangkan ottappa lebih dipengaruhi hal-hal yang di luar diri kita.
Hiri bersifat otonom, timbul sendiri (attadhipati) , sedangkan Ottappa bersifat heteromus; lebih dipengaruhi oleh lingkunagn dan masyarakat (lokadhipati)

Hiri terbentuk oleh rasa malu, sedangkan Ottappa dibentuk oleh rasa waspada.

Hiri ditandai dengan adanya sifat yang konsisten, sedangkan Ottappa ditandai dengan adanya kemampuan mengenal bahaya dan tak mau merasakan akibat kesalahan.

Sumber subyektif dari Hiri adalah pandangan dan ide-ide yang berhubungan dengan kelahiran, usia, kedudukan, sosial atau kehormatan diri, dan tingkat pendidikan. Maka seseorang yang memiliki Hiri akan berpikir, “hanya orang-orang kampung, anak-anak dan orang-orang tak berpendidikan yang akan berpandangan dan berbuat demikian”, maka oleh karena itu ia akan menghindari pandangan yang sempit dan perbuatan yang salah.

Sumber eksternal dari Ottappa adalah pandangan dan ide-ie bahwa sesuatu yang berkuasa (Tuhan, makhluk-makhluk agung, polisi, orang tua, guru, atasan dan sebagainya) akan mempersalahkannya, maka oleh karenanya ia menghindari perbuatan-perbuatan yang salah.

Dengan Hiri, seseorang bercermin kepada kehormatan dirinya, kelahirannya, gurunya, kedudukannya, sosialnya, perguruannya, atau masyarakat dimana ia berada. Sedangkan dengan Ottappa, seseorang menjaga dirinya sendiri, tak mau dipersalahkan orang-orang, tak mau mendapat balasan Hukum karma, dan tak mau menerima akibatnya pada kehidupan mendatang.

Jika seseorang memiliki Hiri, maka ia sendiri yang paling tepat menjadi guru dan pengawas yang terbaik. Apabila seseorang lebih sensitif terhadap Ottappa, maka ia sebaiknya mengikuti bimbingan dan peraturan dari seseorang ataupun dari suatu ajaran yang baik dan diyakininya.

 

cewek_air_terjun

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Pencerahan Sang Buddha

Ditulis oleh Mahavatar di/pada April 1, 2009

buddha_on_top

 

Pada mulanya pertapa Gotama berguru kepada Âïâra Kâlâma. Tak berapa lama, Beliau berhasil mencapai meditasi lv 7: Kekosongan.  Tak puas dengan pencapaian ini, Beliau pun pergi berguru kepada Uddaka Râmaputta. Pertapa ini hanya mampu menghantarkan Beliau pada pencapaian meditasi lv 8:  Bukan Persepsi Bukan Pula Non-Persepsi.
 
Karena semua petunjuk yang diperoleh dari guru-guru lain tidak mampu membawa pada pembebasan mutlak dari penderitaan, Beliau selanjutnya pergi dan bertinggal di Hutan Uruvelâ. Di sinilah, dengan ditemani oleh lima orang pertapa lainnya (pañcavaggiya), Beliau melakukan praktek penyiksaan diri (attakilamathânuyoga) selama bertahun-tahun. Ini bukan saja tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, malah hampir mematikan Beliau.

Akhirnya Beliau menempuh Jalan Tengah (Majjhimâ Paöipadâ) yang terbebas dari ekstrim, dan menembus Nibbana saat mencapai meditasi final level: Lenyapnya Persepsi dan Harapan.

Berikut ini adalah peristiwa saat-saat pencerahan Siddharta menjadi Buddha:

“Saya berpikir: Apa yang ada ketika ketuaan dan kematian muncul?  Apa yang menjadi kondisi atau sebab ketergantungan (paccaya)?”
Dengan pengarahan batin yang benar, Beliau memahami secara arif bahwa: “Manakala ada kelahiran (jâti), ketuaan dan kematian muncul. Ketuaan dan kematian muncul karena adanya kelahiran sebagai sebab ketergantungan.”

Selanjutnya Beliau merenungkan Sebab Musabab yang Saling Bergantungan (Paöiccasamuppâda) dalam rangkaian teringkas berikut:
“Manakala ada perwujudan (bhava), kelahiran muncul. Kelahiran muncul karena adanya perwujudan sebagai sebab ketergantungan. Manakala ada kemelekatan (upâdâna), perwujudan muncul. Perwujudan muncul karena adanya kemelekatan sebagai sebab ketergantungan. Manakala ada keinginan (taóhâ), kemelekatan muncul.

Kemelekatan muncul karena adanya keinginan sebagai sebab ketergantungan. Manakala ada perasaan (vedanâ), keinginan muncul. Keinginan muncul karena adanya perasaan sebagai sebab ketergantungan. Manakala ada sentuhan (phassa), perasaan muncul. Perasaan muncul karena adanya sentuhan sebagai sebab ketergantungan.

Manakala ada enam landasan indera (saïâyatana), sentuhan muncul. Sentuhan muncul karena adanya enam landasan indera sebagai sebab ketergantungan. Manakala ada batin dan jasmani (nâma-rûpa), enam landasan indera muncul. Enam landasan indera muncul karena adanya batin dan jasmani sebagai sebab ketergantungan.
Manakala ada kesadaran [bertumimbal lahir] (viññâóa), batin dan jasmani muncul. Batin dan jasmani muncul karena adanya kesadaran [bertumimbal lahir] sebagai sebab ketergantungan. Manakala ada perpaduan berkehendak (saõkhâra), kesadaran [bertumimbal lahir] muncul. Kesadaran [bertumimbal lahir] muncul karena adanya perpaduan berkehendak sebagai sebab ketergantungan. Manakala ada ketaktahuan (avijjâ), perpaduan berkehendak muncul. Perpaduan berkehendak muncul karena adanya ketaktahuan sebagai sebab ketergantungan.”

“Jika tidak ada ketaktahuan, tak ada pula perpaduan berkehendak. Jika tidak ada perpaduan berkehendak, tak ada pula kesadaran bertumimbal lahir. Jika tidak ada kesadaran bertumimbal lahir, tak ada pula batin dan jasmani. Jika tidak ada batin dan jasmani, tak ada pula enam landasan indera. Jika tidak ada enam landasan indera, tak ada pula sentuhan. Jika tidak ada sentuhan, tak ada pula perasaan. Jika tidak ada perasaan, tak ada pula keinginan. Jika tidak ada keinginan, tak ada pula kemelekatan. Jika tidak ada kemelekatan, tak ada pula perwujudan. Jika tidak ada perwujudan, tak ada pula kelahiran. Jika tidak ada kelahiran, tak ada pula ketuaan dan kematian; tak ada pula kesedihan (soka), keluhkesah (parideva), penderitaan (dukkha), kekecewaan (domanassa), keputus-asaan (upâyâsa).”

“Timbullah pandangan, pengetahuan, kebijaksanaan, ketahuan dan penerangan yang belum pernah Saya dengar sebelumnya… Saya berpikir: ‘Inilah jalan menuju Pencerahan yang telah Saya raih…’ Apakah jalan itu? Yakni Jalan Mulia Berfaktor Delapan: 1. Pandangan Benar (Sammâdiööhi), 2. Pikiran Benar (Sammâsaõkappa), 3. Ucapan Benar (Sammâvâcâ), 4. Tindakan Benar (Sammakammanta), 5. Penghidupan Benar (Sammââjiva), 6. Upaya Benar (Sammâvâyâma), 7. Penyadaran Benar (Sammâsati), 8. Pemusatan Benar (Sammâsamâdhi).”

“Tatkala batin Saya terpusatkan, suci, cemerlang, tanpa kekotoran, bebas dari noda-noda halus, lunak [cocok untuk dipergunakan], mantap, takbergeming; Saya mengarahkan batin Saya demi pengetahuan dalam menelusuri kehidupan-kehidupan lampau (pubbenivâsânusatiñâóa).
Saya mengingat banyak kehidupan lampau, yakni satu kelahiran, dua, tiga, … seratus, seribu, seratus ribu, banyak masa penyusutan dunia, pengembangan dunia, penyusutan dan pengembangan dunia: ‘Pada kehidupan itu Saya mempunyai nama, keturunan, penampilan, makanan, pengalaman suka duka, rentang usia; dan setelah meninggal dari sana, Saya terlahirkan kembali di tempat lain, dan di situ Saya mempunyai nama, … ; –demikianlah secara terinci dan khusus Saya menelusuri banyak kehidupan lampau Saya. Inilah pengetahuan pertama yang Saya raih pada waktu permulaan malam hari.”

“Tatkala batin Saya terpusatkan, … ; Saya mengarahkan batin Saya demi pengetahuan atas kematian dan kelahiran kembali makhluk hidup (cutûpapâtañâóa). Dengan mata kedewaan yang suci dan melampaui mata manusia biasa, Saya melihat makhluk-makhluk hidup yang sedang mati, lahir kembali, yang hina, yang luhur, yang cantik, yang buruk, yang sejahtera, yang sengsara. Saya memahami secara jelas bahwa kehidupan semua makhluk berlangsung sesuai dengan perbuatan (kamma) masing-masing: ‘Makhluk-makhluk yang jahat dalam tindakan, ucapan, pikiran, yang melecehkan orang-orang suci, yang berpandangan sesat, yang melakukan perbuatan berdasarkan pandangan sesat itu, setelah kehancuran tubuh jasmaniah, setelah kematian; terlahirkan kembali di alam kemerosotan, alam kesengsaraan, alam kejatuhan, atau alam neraka. Sementara itu, makhluk-makhluk yang baik dalam tindakan, … , setelah kehancuran tubuh jasmaniah, setelah kematian; terlahirkan kembali di alam bahagia, alam surga.’ Inilah pengetahuan kedua yang Saya raih pada waktu pertengahan malam hari.”

“Tatkala batin Saya terpusatkan, … ; Saya mengarahkan batin Saya demi pengetahuan atas lenyapnya kekotoran batin (âsavakkhayañâóa).
Saya memahami berdasarkan kenyataan sesungguhnya bahwa: ‘Ini adalah penderitaan, ini adalah sebab penderitaan, ini adalah lenyapnya penderitaan, ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan; ini adalah noda batin, ini adalah sebab noda batin, ini adalah lenyapnya noda batin, ini adalah jalan menuju lenyapnya noda batin.’ Dengan pemahaman demikian, batin Saya terbebaskan dari noda batin berupa nafsu inderawi, perwujudan, ketaktahuan. Tatkala batin terbebaskan, timbullah pengetahuan bahwa: ‘Saya telah terbebaskan. Saya memahami bahwa kelahiran telah terputuskan, kehidupan suci telah tertamatkan, tugas yang layak dikerjakan telah tertunaikan, tidak ada tugas lain lagi demi pencapaian ini. Inilah pengetahuan ketiga yang Saya raih pada waktu pengakhiran malam hari.

Ketaktahuan telah tersingkirkan, pengetahuan telah terbangkitkan; kegelapan telah tersingkirkan, pencerahan telah terbangkitkan; ini terjadi tatkala Saya berada dalam kewaspadaan, bersemangat, dan penuh pengendalian diri. Namun Saya tidak membiarkan perasaan bahagia yang timbul dalam diri Saya menguasai batin Saya.’”

“Meski Saya sendiri mengalami kelahiran, ketuaan, kesakitan, kesedihan, dan [masih memiliki] kekotoran batin, [setelah] menyadari bahaya dari semua itu dan kemudian mencari Nibbâna yang tiada taranya, yang tidak mengalami kelahiran, ketuaan, kesakitan, kematian, kesedihan, dan yang terbebas dari segala kekotoran batin; Saya [akhirnya berhasil] meraihnya. Timbullah pengetahuan serta pandangan terang (ñâóadassana) dalam diri Saya: ‘Tercapailah Pembebasan (Vimutti) bagi diri Saya. Inilah kelahiran Saya yang terakhir; tidak ada lagi kelahiran bagi Saya.’”

“Karena belum menemukan Pencipta rumah [tubuh] ini, Saya mengembara dalam daur Saæsara [kelahiran dan kematian] yang tak terhitung jumlahnya. Kelahiran yang berulang-ulang adalah suatu penderitaan. O Pencipta rumah, Engkau sekarang telah Saya temukan. Engkau tak akan dapat menciptakan rumah lagi. Seluruh kerangkamu [noda batin] telah Saya patahkan, dan atapmu [ketaktahuan] telah Saya bongkar. Mental Saya telah menembus Nibbâna, dan mencapai akhir dari semua keinginan.”

Sewaktu sendirian dalam penyepian, timbullah pikiran dalam diri Buddha Gotama: “Kebenaran (Dhamma) yang telah Saya raih ini bersifat mendalam, sukar ditembus serta dipahami, penuh kedamaian dan merupakan tujuan terluhur bagi semua [makhluk], tak terjangkau oleh pemikiran biasa (spekulasi), halus, hanya dapat dimengerti oleh orang bijak. Namun, masyarakat umumnya bergembira serta terpukau dalam kerinduan. Sukar bagi mereka untuk dapat melihat Sebab Musabab yang Saling Bergantungan dari semua ini. Amatlah sulit untuk dapat memahami kebenaran yang merupakan kepadaman dari segala perpaduan, penanggalan dari sifat-sifat pokok kehidupan, yang merupakan akhir dari keinginan; kejenuhan, pelenyapan dan pembebasan dari nafsu, Nibbâna. Apabila Saya mengajarkan Kebenaran tetapi orang-orang lain tidak memahami sesuai dengannya; ini niscaya menimbulkan kesukaran serta kelelahan pada diri Saya semata. Duhai Para Bhikkhu, syair menakjubkan yang tidak pernah Saya dengar sebelumnya menjadi jelas bagi Saya sebagai berikut: ‘Kebenaran yang sulit Saya tembus ini tidaklah layak untuk dibabarkan. Sebab, ini bukanlah suatu kebenaran yang dapat dipahami oleh orang-orang yang dipenuhi oleh nafsu dan kebencian. Orang yang bernafsu besar, yang diliputi oleh kegelapan batin, niscaya tidak dapat menembus kebenaran yang menghantarkan makhluk hidup pada tujuan yang melawan arus dunia, yang halus, yang mendalam, yang pelik (abstruse).’”

1. Jika seseorang kaya ia tak mau menjadi buddhist, karena ia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan ia merasa itu cukup.
Jika seseorang miskin ia tak mau menjadi buddhist, karena ia ingin kaya dulu.
2. Jika seseorang terkenal ia tak mau menjadi buddhist, karena lebih memilih aktifitas-aktifitas yang meningkatkan popularitasnya sebagai icon masyarakat.
Jika seseorang tak terkenal ia tak mau menjadi buddhist, karena ia merasa masih belum menemukan tujuan hidupnya.
3. Jika seseorang tak punya teman ia tak mau menjadi buddhist, karena tak punya kenalan untuk menyampaikan ucapan, pikiran, dan pandangannya.
Jika seseorang punya teman ia tak mau menjadi buddhist, karena merasa jika sakit pasti ada yang merawat, jika sepi ada yang mengajak bermain, jika tua ada yang menjaga.
4. Jika seseorang nyaman ia tak mau menjadi buddhist, karena segalanya sudah tersedia.
Jika seseorang tak nyaman ia tak mau menjadi buddhist, karena untuk duduk nyaman saja belum bisa, bagaimana mau meditasi.

Mengetahui keengganan Buddha Gotama dalam membabarkan Dhamma yang sulit dipahami, Brahmâ Sahampati segera pergi mengunjungi Beliau untuk mengundang Beliau membabarkan Kebenaran demi kebahagiaan banyak orang:

“Sejak dahulu kala hingga sekarang ini, di daerah Magadha terdapat ajaran yang tidak murni, yang digagasi oleh orang-orang yang masih terliputi oleh noda. Bukalah pintu gerbang Kekekalan. Berilah makhluk-makhluk hidup kesempatan untuk mendengarkan Kebenaran yang ditembus oleh orang yang terbebas dari segala noda. Ibarat orang yang berada di puncak bukit, yang dapat melihat orang-orang yang berada di sekeliling; demikian pula Yang Mulia, yang memiliki pengetahuan serta mata kebijaksanaan yang menyeluruh, hendaknya sudi menaiki istana kebijaksanaan yang terbentuk dari Kebenaran. Jelajahilah masyarakat yang diliputi oleh kesedihan, yang dicengkeram oleh kelahiran dan ketuaan. O Sang Penakluk yang penuh semangat, yang memimpin para makhluk hidup, yang terbebas dari kekotoran batin; mohon sudi kiranya pergi berkelana mengasihani orang-orang di dunia ini. Babarkanlah Kebenaran Dhamma, O Sang Bhagavâ, karena akan ada yang memahaminya.”

Setelah mempertimbangkan permohonan Brahmâ Sahampati dan karena perasaan Welas Asih terhadap makhluk-makhluk hidup, Sang Buddha kemudian menjelajahi dunia ini dengan kewaskitaan-Nya. Beliau menyadari bahwa ada makhluk yang diliputi oleh banyak debu kekotoran batin tetapi ada pula yang hanya sedikit; ada yang lemah kemampuannya tetapi ada pula yang kuat; ada yang memiliki kecenderungan jahat tetapi ada pula yang baik; ada yang sulit dibina tetapi ada pula yang mudah; ada yang tidak melihat noda serta bahaya dari dunia mendatang tetapi ada pula yang melihatnya –ibarat dalam rumpun teratai ada bunga yang muncul dalam air, berkembang dalam air, berada dan masih tenggelam dalam air, yang dihidupi oleh air; ada pula bunga yang berada di permukaan air, dan ada pula yang tegak menjulang di atas permukaan air sehingga tidak terbasahi oleh air. Karena alasan-alasan inilah, Saya menyanggupi permohonan Brahmâ Sahampati:

“Terbuka-lebarlah pintu gerbang [menuju] Kekekalan. Bagi mereka yang mau mendengar, yang memperlihatkan keyakinan.”

Lalu diadakanlah Vinaya/peraturan bhikku yang sifatnya mengkondisikan mental orang-orang untuk bisa menjadi bhikku dengan baik dan mencapai Kebuddhaan.

Ketika mengetahui bahwa dua pertapa yang pernah menjadi guru-Nya telah meninggal dunia dan berada di alam nirbentuk, Beliau berniat untuk membabarkan Dhamma kepada lima pertapa yang pernah bersama-sama melakukan praktek penyiksaan diri. Di tengah perjalanan menuju Bârâóasî, Sang Buddha berjumpa dengan pertapa telanjang Upaka Âjîvaka. Menjawab pertanyaan Upaka, Beliau menguncarkan syair berikut:

Saya adalah penguasa segala Dhamma, penembus segala Dhamma, yang tidak melekat pada keinginan atas segala sesuatu, yang telah menanggalkan segala sesuatu, yang terbebas, yang telah sampai pada kepadaman keinginan. Karena menembus dengan kebijaksanaan sendiri, siapa pula yang patut Saya akui sebagai guru? Tidak ada guru bagi diri Saya. Tidak ada orang baik yang menyamai Saya. Tidak ada orang yang menyetarai Saya di seluruh dunia, termasuk dunia kedewaan. Sebab, Saya adalah Arahanta Sammâsambuddha –yang Mahasuci, yang telah meraih Pencerahan Agung secara mandiri–, guru yang paling unggul, yang telah memadamkan seluruh kekotoran batin. Saya akan berangkat menuju Kota Kâsî untuk memutar roda Dhamma, untuk menabuh genderang Kekekalan dalam dunia yang diliputi oleh kegelapan ini.”

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »

Kelahiran Kembali (III): Proses Kelahiran Kembali

Ditulis oleh Mahavatar di/pada April 1, 2009

Berdasarkan pada uraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali, karena hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut :

Patisandhi Vinanna
Bhavanga Citta
Manodvaravajjana
Javana
Bhavanga Citta

1. Patisandhi Vinanna
Adalah kesadaran kelahiran kembali, dalam uraian tentang proses kematian, Patisandhi vinanna disebutkan pada urutan proses bagian akhir. Penyebutan ini bukan berarti bahwa patisandhi vinanna terjadi pada pikiran dari orang yang akan meninggal dunia itu, tetapi penyebutan patisandhi vinanna dalam uraian proses kematian adalah untuk menunjukan proses sebab akibat yang berkesinambungan dalam proses kematian dan kelak yang akan terlahir kembali.
Patisandhi vinanna hanya merupakan akibat dari maranasanna janaka citta. Patisandhi vinanna hanya muncul atau ada pada batin atau pikiran dari makhluk yang baru terlahir kembali. Jika makhluk yang terlahir kembali sebagai manusia maka patisandhi vinanna muncul pada ovum yang baru dibuahi oleh sperma dalam kandungan atau tabung ( untuk bayi tabung ). Bersamaan dengan adanya patisandhi vinanna terjadi pula kelompok sepuluh dari jasmani ( kaya dasaka ), kelompok sepuluh dari kelamin ( bhava dasaka ) dan kelompok sepuluh dari kedudukan kesadaran ( vatthu dasaka ).
Kaya dasaka terdiri dari :
elemen
elemen cair
elemen panas
elemen gas
wana
bau
ras
sari makanan
inderiya kehidupan
tubuh

Bhava dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti pada kaya dasaka dan ke 10 adalah kelamin. Sedangkan vatthu dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti kaya dasaka dan ke 10 adalah kedudukan kesadaran.
Menurut pandangan Buddhis, kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dihasilkan oleh karma. Walaupun kelamin telah ditentukan namun kelamin belum berkembang pada saat pembuahan tetapi potensi kelamin adalah laten.
Jadi dengan ada patisandhi vinanna maka kombinasi jasmani – batin baru mulai berkembang dalam kandungan. Sperma ovum orang tua menyiapkan materi sedangkan patisandhi vinanna menyiapkan batin. Patisandhi vinanna yang berhubungan dengan kehidupan yang lalu dan kehidupan yang baru. Proses kesadaran tidak pernah berhenti, kesadaran terakhir dari makhluk yang meninggal berproses terus dan menghasilkan kesadaran lain tetapi bukan dalam tubuh yang sama. Kesadaran lain itu adalah patisandhi vinanna yang hanya bergetar sesaat lalu lenyap dan langsung diikuti oleh bhavanga citta.

Dinyatakan pula bahwa ada empat macam cara kelahiran dari makhluk – makhluk yaitu :
Jalabuja yaitu makhluk yang lahir melalui kandungan seperti manusia dan binatang binatang tertentu.
Andaja yaitu makhluk yang lahir melalui telur seperti unggas, ular, buaya dan binatang lain.
Samsedaja yaitu makhluk yang lahir di tempat yang lembab atau bukan cara jalabuja atau andaja seperti binatang tingkat rendah
Opapatika yaitu makhluk yang lahir secara spontan. Biasanya makhluk yang lahir secara spontan adalah makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Contohnya : para dewa, peta atau setan, asura dan makhluk di alam brahma.

2. Bhavanga Citta
Setelah Patisandhi vinanna lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar selama 16 saat. Pada tahap embrio maka ia masih merupakan bagian tubuh ibu, itu sebabnya bhavanga citta berproses dengan lancar tanpa ada gangguan.

3. Manodvaravajjana
Telah disebutkan diatasbahwa bhavanga citta hanya berlangsung selama 16 saat dan lenyap, kemudian muncul manodvaravajjana. Bhavanga citta memberikan jalan untuk proses berpikir berlangsung berdasarkan pada keinginan yang muncul dalam batin dari embrio karena kehidupan barunya.

4. Javana
Setelah manodvaravajjana lenyap, javana atau impuls kesadaran muncul. Javana melangsungkan kesadaran yang terjadi pada manodvaravajjana yaitu keinginan pada kehidupan baru. Javana mengembangkan keinginan makhluk baru ( bhavana nikanti javana ), javana bergetar selama 7 saat lenyap.

5. Bhavanga citta
Ketika javana lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar. Bhavanga citta bergetar terus hingga ada sesuatu yang menghentikannya. Pada waktu bayi lahir, ia mulai berhubungan dengan dunia luar maka proses berpikir normal mulai berfungsi.

 

baby

Sumber : Buku Intisari Agama Buddha

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kelahiran Kembali (II): Proses Kematian

Ditulis oleh Mahavatar di/pada April 1, 2009

Setelah kita mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dapat dengan mudah mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.

Pengaruh Kelahiran Pada Jasmani

Manusia terdiri dari kombinasi antara jasmani dan batin ( nama rupa ). Hubungan antara jasmani dan batin bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan anatar dua faktor ini. Bilamana orang berada pada saat saat menjelang kematian, jasmani dan batinnya lemah, mungkin seseorang kuat selalu tetapi pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah. Hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran dan pada saat getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arus listriknya diputuskan sehingga tidak ada tenaga lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap. Jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk, jasmani atau materi tak dapat lenyap tetapi akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen ini tak akan lenyap tetapi bentuk elemen elemen itu saja yang berubah.

Pengaruh Kematian Pada Batin
Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal ? batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap batin ini adalah tetap keka. Kematian tidak menghentikan proses batin.

Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum saat kematian yang disebut maranasanna javana citta walaupun lemah dan tak dapat membuat buah pikiran baru namun memiliki suatu potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga objek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang yang segera akan meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak, munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru muncul. Pemunculan salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi berdasarkan pada perbuatan perbuatan ( karma ) orang tersebut selama hidupnya. Karma yang bekerja pada saat seperti ini disebut Janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatannya sendiri.

Proses Kematian

Menurut pandangan Buddhis, kematian terjadi karena salah satu dari empat hal yaitu :
Kammakkhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma.
Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan.
Ubhayakkhaya atau habisnya janaka kamma dan masa kehidupan secara bersama sama.
Upacchedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan masa kehidupan belum selesai, orang tersebut meninggal dengan cepat.

1. Kammakkhaya
Jika potensi dari janaka kamma atau karma yang mengatur tentang kelahiran telah habis, maka aktivitas organis jasmani yang memiliki daya hidup ( javitindriya ) mati walaupun batas usia kehidupan di alam tertentu itu belum habis. Hal ini biasanya terjadi pada makhluk makhluk yang lahir di alam menyedihkan ( apaya ), neraka, binatang, peta dan asura, tetapi hal ini terjadi juga di dalam alam alam lain.
2. Ayukkhaya
Habisnya masa kehidupan makhluk, Hal ini terjadi sesuai dengan batas usia kehidupan makhluk di masing masing alam.

3. Ubhayakkhaya
Bersamaan habisnya kekuatan janaka kamma dan batas usia kehidupan dari makhluk.

4. Upacchedaka kamma
Kematian seseorang terjadi karena ia telah melakukan perbuatan yang buruk sekali sehingga walaupun janaka kamma maupun usia kehidupannya belum selesai, Ia tiba tiba meninggal dunia sebagai akibat perbuatan buruk tersebut. Suatu kekuatan tertentu dapat menghentikan kendaraan yang sedang melaju, demikian pula karma yang kuat dapat melenyapkan potensi dari arus proses berpikir dan mengakibatkan seseorang meninggal.

Kammakkhaya, Ayukkhaya dan Ubhayakkhaya disebut sebagai “ meninggal pada waktunya ” ( kala marana ) sedangkan meninggal karena Upacchedaka kamma disebut “ meninggal bukan pada waktunya ” ( akal marana ). Untuk memperjelas keempat hal diatas tentang kematian, dimisalkan makhluk itu adalah lampu minyak, lampu akan padam karena empat hal yaitu jika minyak habis, sumbu habis, minyak dan sumbu sama sama habis atau karena ada angin kencang.

Uraian diatas tentang kematian secara umum, sedangkan kematian secara khusus dilihat pada proses kematian yang berlangsung pada batin seseorang. Uraian berikut ini akan membicarakan tentang proses kematian yang berhubungan erat dengan proses berpikir.

Proses kematian hanya berbeda sedikit dengan proses berpikir dalam keadaan biasa atau normal. Proses batin dan dalam hal ini yang dibicarakan adalah proses pikiran pada kematian adalah sebagai berikut :
Bhavanga Atita
Bhavanga Calana
Bhavanga Upaccheda
Manodvaravajjana – kesadaran mengarah pada pintu inderiya pikiran
Maranasanna Javana Citta – Impuls javana mendekati kematian
Tadalambana
Cuti Citta – kesadaran kematian
Patisandhi Vinnana – kesadaran kelahiran kembali yang terjadi pada kehidupan berikut.

1. Bhavanga Atita
Keadaan kesadaran ini tak berbeda dengan pada kesadaran proses berpikir biasa
2. Bhavanga Calana

3. Bhavanga Upaccheda
Ketentuan kedua bhavanga ini seperti diatas, tapi karena disini membicarakan proses kematian jadi yang ditentukan adalah proses pikiran orang yang akan segera meninggal. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.

4. Manodvaravajjana
Adalah kesadaran mengarah ke pintu inderiya pikiran. Pada waktu membicarakan proses berpikir normal dibicarakan tentang Pancadvaravajjana, yang terjadi jika rangsangan dapat dikenal atau diketahui oleh salah satu dari lima inderiya melalui salah satu pintu inderiya inderiya itu yaitu melihat, mendengar, membau, merasa, atau menyentuh. Tetapi dalam kasus tentang proses berpikir pada kematian rangsangan yang muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dalam yang merupakan pikiran atau ingatan yang hanya dapat dikenal melalui pikiran.

5. Marana Javana Citta
Adalah impuls javana mendekati kematian yang merupakan tahap psikologis yang penting. Dalam membicarakan tentang proses berpikir normal ada 7 impuls javana tetapi pada orang yang akan meninggal hanya ada 5 impuls javana. Salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian muncul pada tahap javana ini. Pada saat salah satu objek ini muncul, getaran bhavanga terhenti. Kesadaran berproses melalui manodvaravajjana and tiba pada javana. Pada saat ini kesadaran pikiran atau pikiran dapat mengetahui dengan jelas rangsangan yang ada.
Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah :
Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik atau buruk, hebat atau penting yang pernah dilakukan seseorang sebelum meninggal muncul padanya walaupun kematian itu terjadi secara tiba tiba. Bila ia telah melakukan salah satu dari karma berat buruk ( akusala garuka kamma ) atau telah melakukan karma berat baik ( Kusala garuka kamma ) misalnya mencapai jhana jhana maka ia akan mengingat atau mengalami kamma tersebut sebelum saat kematian. Karena karma berat ini sangat kuat sehingga karma karma lain tertekan dan karma berat itu akan jelas dalam ingatannya. Bila ia tak pernah melakukan garuka kamma, yang menjadi objek ingatannya adalah perbuatan yang ia lakukan menjelang kematiannnya ( asanna kamma ) yang disebut “ karma menjelang saat kematian “. Jika asanna kamma tidak dilakukan maka suatu perbuatan yang sering atau biasa dilakukan ( Acinna kamma atau Bahula kamma ) akan muncul dalam ingatannya seperti memberikan dana karena ia dermawan, memberi khotbah karena ia dharmaduta atau mencuri karena ia maling dan seterusnya. Jika garuka kamma, assana kamma dan accinna kamma tidak ada maka perbuatannya tertentu yan tak berarti dan hanya sekali dilakukan apakah itu perbuatan baik atau buruk yang dikenal sebagai katatta kamma yang akan teringat olehnya. Jika ingatannya itu tentang karma baik ia akan terlahir kembali di alam yang menyenangkan. Tapi bila ingatannya itu tentang karma buruk maka ia akan terlahir kembali dalam keadaan yang lebih buruk daripada keadaan sekarang atau terlahir kembali di alam menyedihkan.
Kamma Nimitta
Pada orang yang dalam proses akan meninggal, kadang kadang suatu ingatan muncul dengan sendiri yang bukan merupakan ingatan tentang suatu perbuatan baik atau buruk tetapi suatu simbol dari perbuatannya. Kamma adalah perbuatan sedangkan nimitta adalah bayangan. Demikianlah bagi seorang tukang jagal mungkin ia melihat pisau, pemabuk melihat botol, orang saleh malihat altar. Hal ini dilihat dengan mata batin dan bukan mata fisik.
Gati Nimitta
Objek pikiran dari orang yang akan meninggal dunia dapat pula berupa simbol dari atau harapan akan tempat dimana ia akan terlahir kembali. Misalnya munculnya bayangan api maka orang itu akan terlahir kembali di alam neraka sedangkan orang yang melihat bunga yang indah akan terlahir di alam surga.
6. Tadalambana
Setelah tahap kesadaran impuls dari maranasanna javana citta muncul tahap kesadaran tadalambana

7. Cuti Citta – Kesadaran kematian
Kesadaran ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang. Cuti adalah lenyap atau mati. Pada tahap ini proses kematian berakhir, keadaan cuti citta sama dengan bhavanga citta. Kesadaran ini merupakan kesadaran bhavanga yang terakhir dan kesadaran ini mengambil bhavanga citta pertama dari kelahiran berikut yaitu Patisandhivinnana. Cuti citta secara psikologis tidak terlalu penting karena cuti citta hanya merupakan kesadaran kematian. Akhir dari proses pikiran bukan cuti citta tetapi Maranasanna javana citta, pada saat cuti citta muncul maka kematian tiba.

8. Patisandhi Vinnana
Pada saat cuti citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus dengan munculnya Patisandhi Vinanna atau Patisandhi citta pada kelahiran berikut pada kehidupan baru. Cuti citta dan Patisandhi citta adalah nama khusus yang diberikan pada bhavanga citta. Pemberian nama teknis ini digunakan untuk mempermudah kita mempelajari dan mengerti proses kematian dan proses kelahiran kembali. Karena dua citta tersebut adalah sama yaitu kesadaran bhavanga yang berproses dan sebab proses tersebut berlangsung dalam seri urutan sama serta berkesinambungan maka objek dari kedua kesadaran ( cuti citta dan patisandhi citta ) adalah sama.

 

kematian

 

Sumber : Buku Intisari Agama Buddha

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kebenaran, Makanan Apa Itu?

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 27, 2009

Kebenaran bukanlah kenyataan.
Kebenaran tetap sesuatu yang sifatnya sementara. Bahkan kebenaran kosmos sekalipun.

Kebenaran adalah langkah menemukan kenyataan. Dimana akhirnya kenyataan membuahkan Dhamma/Ajaran Benar.

Ditinjau dari sisinya, ada dua sisi kebenaran:
1. Kebenaran tentang satu kebaikan.
2. Kebenaran tentang satu keburukan.

Ditinjau dari jenisnya, ada dua jenis kebenaran:
1. Kebenaran sehari-hari.
2. Kebenaran kosmos.

Menurut Buddha, kebenaran taklah dapat ditemukan dengan iman semata, namun “iman yang terbaik adalah iman berdasarkan pemahaman” – buddha.

Kebenaran tak bisa ditemukan cuma karena:
- sesuatu yang sudah merupakan tradisi
- sesuatu yang didesas-desuskan
- tertulis di dalam kitab-kitab suci
- sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka
- sudah direnungkan dengan seksama
- cocok dengan pandanganmu
- ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu

Dan hendaklah kamu menolak satu hal jika hal itu mengandung satu dari 4 hal di bawah ini:
1. Hal ini tidak berguna.
2. hal ini tercela.
3. hal ini tidak dibenarkan oleh para Bijaksana.
4. hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan.

Cara mencari kebenaran? Ya, bagaimana cara mencari kebenaran? Lihat, bagaimana cara Siddharta Gotama mencari kebenaran. Yaitu dengan hidup dalam kenyataan. Cuma dengan hidup dalam kenyataan kita bisa mendapatkan kebenaran.

Inilah 8 tingkat kenyataan:
Meditasi lv 1: Vitakka, Vicara, Piti, Sukkha, Ekaggata.
Meditasi lv 2: Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi lv 3: Sukkha, Ekagatta.
Meditasi lv 4: Ekagatta (manunggaling kawulo gusti) karena adanya Upekkha (bukan menyakitkan bukan menyenangkan).
Meditasi lv 5: Alam Tak Terbatas.
Meditasi lv 6: Kesadaran atas Alam Tak Terbatas.
Meditasi lv 7: Kekosongan.
Meditasi lv 8: Kesadaran atas Kekosongan (bukan persepsi bukan pula non persepsi).
Meditasi final lv: Lenyapnya Persepsi dan Perasaan.

Di level 4, terdapat kebenaran sehari-hari.
Di level 8, terdapat kebenaran kosmos.
Dan di level 9, Anda jadi Buddha (Sang Maha Benar).

_____________________________________________________________________

 

Dalam setiap hal, selalu ada dua sisi pandang, dimana yg satu adalah lawan dari yang lain.

misalnya, saudara ketabrak.
sisi buruk, ketabraknya. tapi sisi baik, adalah jika dia tak ketabrak sekarang,
besok ketabrak lebih parah lagi, karena merasa “ah ini kan sudah biasa, paling-paling cuma keserempet sedikit”.

contoh lain, cewek cantik.
sisi baik, cantiknya.
sisi buruk, mulai ada usaha baru yg sebelumnya tak ada ada, yaitu mempertahankannya.

pokoknya dalam segala hal selalu ada dua sisi pandang, dimana satu sisi adalah lawan dari lainnya. islam belum tahu ajaran ini. paling banter kita cuma diminta tabah, atau dibuat-buat.

saya baru menerapkan pemrograman supersadar saat baru masuk wc kotor.
yaitu,
satu sisi, sisi buruk, wc itu kotor.
satu sisi, sisi baik, saya gak kebelet lagi.
maka saya dengan menggunakan ajaran buddha, memilih persepsi tentang sisi baik dari pengalaman di wc itu.
sebenarnya bisa lebih jauh lagi, yaitu dengan meninggalkan moment itu, dan langsung jalan ke moment aktifitas berikutnya. inilah yang disebut Upekkha/emosi netral.

jadi upekha bukanlah “ya sudahlah, gak usah dipikir.” bukan itu, melainkan cukup sekedar tak tinggal di moment itu/tak mengkoleksi moment itu sebagai bagian bawahsadar.

karena selalu ada dua sisi pandang dalam semua hal. (sebuah kebenaran, bukan philosophy semata), maka tak ada alasan untuk bersedih dalam menjalani semua moment kehidupan.

misalnya: lahir pincang.
sisi baik: pincang, sehingga utang kamma selesai sebagian.
masih sisi baik: masih ada kehidupan mendatang, sehingga peluang si pincang ini untuk dapat cewek seksi sama dengan orang normal lainnya.
sisi buruk: dipermalukan, dihina, direndahkan orang, minder dengan cewek.
sisi buruk: susah dapat kerja.

Dengan ajaran buddha, seseorang dapat memilih persepsi yang baik, atau seorang bhikku buddhist memilih melanjutkan moment vipassana berikutnya.

kalo islam belum sampai ini. paling banter, cuma disuruh bilang “kakiku lima hehehe”

lalu saat sedang sendiri, sedih lagi. sama saja.

 

butterfly

Ditulis dalam Kemasyarakatan, Meditasi | 20 Komentar »

Perbedaan Mahayana dan Theravada

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 26, 2009

sex_taoist

 

Kekosongan
Mahayana: makhluk-makhluk dianggap ilusi dan tak nyata, karena yang ada cuma kosong.
Theradava: makhluk-makhluk tetap nyata dan bukan ilusi, karena dianggap kosong cuma karena tak ada intinya.

Pencapaian tertinggi
Mahayana: Menolong orang baru menolong diri sendiri.
Theravada: Menolong diri sendiri baru menolong orang.

Interpretasi
Mahayana: Cenderung tak seimbang dan hasil pemikiran tak terlatih.
Theravada: Selalu seimbang dan hasil pemikiran terlatih.

Dasar asli manusia
Mahayana: Zat Buddha.
Theravada: Bodoh, tamak, benci.

Kebahagiaan
Mahayana: Banyak ceria dan menolong orang.
Theravada: Ketaktergangguan.

Diri
Mahayana: Dibagi menjadi diri kecil, yang diartikan “pikiran yang mementingkan kepentingan sendiri” (sama seperti filsafat psikology barat) dan diri besar yaitu zat Buddha.
Theravada: Tak ada, selain kebenaran yang bersifat duniawi tentang panggilan terhadap lima aggregat. Selain itu tak ada lagi Diri Besar.

Kosmos
Mahayana: Ada tiga tubuh.
Theravada: Tak ada pembagian tubuh. Sang Buddha cuma pernah menyebut dirinya sebagai tubuh Dhamma.

Perbuatan tertinggi
Mahayana: Kasih.
Theravada: Vipassana.

Buddha sesudah Nibbana
Mahayana: Masih ada entah dimana.
Theravada: Tak ada lagi, selain kekosongan itu sendiri.

Buah latihan
Mahayana: Filsuf dan bhikku-bhikkuan.
Theravada: Bhikku dan Buddha.

 
Dalam rangka berat sebelah pada ide akan kebaikan (berhubung ketiadaan upekkha) para bhikku keduabelah pihak lalu bersama-sama berkumpul mencari kesamaan. Misalnya, sama-sama punya dua mata, dua telinga, dst.

Ditulis dalam Kemasyarakatan | 8 Komentar »

Tanda-Tanda Pencerahan

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 26, 2009

enlightement

 

Bila tidak berupaya kuat untuk melaksanakan perenungan seperti disebutkan di atas, para siswa akan gagal untuk mengamati banyak aktivitas jasmani dan batin pada saat permulaan latihan. Seperti ditunjukkan di dalam bagian Samatha-Kammatthana, terdapat banyak rintanan batin (Nivarana) yang menyebabkan batin mengembara ke arah objek lain. Di dalam hal Samatha-Kammatthana, tidak ada perlakuan khusus untuk merenungkan faktor batin yang mengembara, namun mereka seyogyanya ditekan, dan perenungan dikembalikan kepada objek semula secara berkesinambungan, sementara itu di dalam Vipassana-Kammathana perenungan juga harus dilakukan terhadap faktor batin yang mengembara itu. Setelah perenungan dengan cara ini, maka perenungan seyogyanya dikembalikan kepada objek ‘naik’, ‘turun’ seperti semula. Ini adalah satu dari butir-butir perbedaan antara samatha-bhavana dengan vipassana-bhavana di dalam hal mengatasi rintangan batin (nivarana).

Di dalam kasus samatha-bhavana seseorang harus merenungkan secara berkesinambungan terhadap objek semula dari samatha untuk membuat batin terkonsentrasi dengan kuat hanya kepada objek tersebut. Tidak dibutuhkan untuk mengamati fenomena batin dan fisik yang lain. Oleh karena itu tidak diperlukan untuk merenungkan rintangan batin seperti faktor batin yang mengembara yang muncul sewaktu-waktu. Hanya perlu menyingkirkannya sesegera mungkin saat mereka muncul.

Namun demikian, di dalam vipassana-bhavana, semua fenomena batin dan jasmani yang muncul melalui enam pintu indera harus diamati. Oleh karena itu apabila dan ketika rintangan batin seperti misalnya batin merenungkan sesuatu selain objek perenungan semula atau batin menikmati nafsu atau keserakahan dan sebagainya mereka juga harus direnungkan. Apabila mereka tidak direnungkan, maka kemelekatan dan pandangan keliru bahwa mereka kekal, menyenangkan dan atta (aku) akan muncul; oleh karena itu menghindari mereka tidaklah cukup seperti dalam kasus samatha. Objek vipassana akan lengkap hanya apabila seseorang merenungkan terhadap semua fenomena itu sehingga mengetahui dengan jelas sifat alamiahnya dan tidak melekat terhadapnya.

Apabila faktor batin yang mengembara ini direnungkan secara berkesinambungan dengan cara ini dalam jangka waktu yang cukup lama, maka hampir tidak akan ada lagi faktor batin yang mengembara. Segera setelah faktor batin mengembara ke objek lain, batin segera memperhatikan dan merenungkannya dan kemudian pengembaraan tersebut tidak berlangsung lebih jauh lagi. Di dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa perenungan dilaksanakan tanpa interupsi karena faktor batin dicerap segara saat faktor batin itu mulai muncul.

Pada tahapan perenungan ini, ditemukan bahwa batin yang merenungkan dan objeknya selalu datang bersama dan terkonsentrasi. Terkonsentrasinya batin terhadap objeknya ini disebut Vipassana-khanika-samadhi (konsentrasi sementara dari pandangan terang).

Sekarang batin terbebas dari kamacchanda (nafsu indera) dan rintangan batin (nivarana) lainnya dan oleh karena itu sama seperti pada tingkat seperti Upacara-samadhi (konsentrasi berdekatan) yang disebutkan di dalam bagian Samatha-kammatthana. Begitu batin tidak lagi bercampur dengan rintangan batin yang menyebabkan mengembaranya batin, maka hanya ada perenungan murni yang terpusat. Inilah yang disebut Citta-visuddhi (kemurnian batin).

Kemudian fenomena fisik seperti naik, turun, menekuk, meregang, dan seterusnya, yang sedang direnungkan, dicerap pada setiap saat perenungan di dalam setiap bentuk yang terpisah tanpa bercampur dengan batin yang merenungkannya atau dengan fenomena materi lain. Fenomena batin, seperti merenungan berpikir, melihat, mendengar, dan seterusnya, juga dicerap pada setiap saat perenungan di dalam keadaan terpisah tanpa dicampuri oleh fenomena materi lain atau fenomena batin lain. Pada setiap saat bernafas, jasmani dan batin yang mengetahui jasmani dicerap secara jelas dan terpisah sebagai dua hal yang berbeda. Pengetahuan bijaksana atas pembedaan fenomena fisik dan batin sebagai dua proses yang terpisah disebut Nama-rupa-pariccheda-nana (pengetahuan bijaksana yang dapat membedakan dengan jelas fenomena batin dan jasmani).

Dengan terealisasinya perkembangan pengetahuan bijaksana (nana) selama satu periode waktu yang baik di dalam latihan perenungan yang berkesinambungan, maka akan muncul sebuah pengertian jelas bahwa fenomena ‘hanya terdiri dari proses batin dan fisik’. Jasmani tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui, menaikkan, menurunkan, menekuk, memindahkan, dan seterusnya. Namun batin memiliki kemampuan merenungkan, memikirkan, melihat, mendengar, dan sebagainya. Terpisah dari dua faktor ini, tidak terdapat aku atau Atta. Pengertian jelas ini disebut ‘Ditthi-visuddhi’ (Kemurnian Pandangan).

Dengan meneruskan perenungan lebih lanjut, dicerap bahwa fenomena materi/fisik dan batin yang muncul di dalam jasmani merupakan efek atau hasil dari sebab-sebab yang bersesuaian dengannya.

Sebagai ilustrasi : Seorang siswa mencerap kenyataan bahwa dikarenakan batin menginginkan untuk membungkuk atau bergerak atau meregang atau mengubah posisi tubuh, maka muncul aksi atau tindakan membungkuk, meregang, bergerak, atau mengubah posisi tubuh; dikarenakan fluktuasi di dalam temperatur/suhu, maka selalu terdapat perubahan di dalam kondisi fisik apakah menjadi dingin atau panas; dan dikarenakan mengkonsumsi makanan maka akan selalu muncul energi fisik yang baru. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa dikarenakan kehadiran/adanya indera penglihatan dan objek penglihatan, indera pendengaran, objek pendengaran, dan seterusnya, maka muncullah kesadaran melihat, mendengar, dan seterusnya, dan dikarenakan kehendak untuk mengarahkan, maka batin mencapai objeknya. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa dikondisikan kehadiran Avijja (kegelapan/kebodohan batin), yang memandang kehidupan sebagai indah dan menyenangkan dan kehadiran Tanha (keinginan rendah), semua jenis perbuatan dipikirkan dan dilakukan, dan dikarenakan kemelekatan terhadap perbuatan-perbuatan tersebut yang telah dilakukan, maka muncullah, di dalam urutan yang sangat cepat dan berkesinambungan, kesadaran-kesadaran (vinnana) baru. Lagi, ia mencerap kenyataan bahwa kematian bukanlah kematian bukanlah sesuatu hanya padamnya kesadaran terakhir di dalam urutan kelangsungan kesadaran; dan lahir adalah munculnya sebuah kesadaran baru di dalam urutan kelangsungan kesadaran ini, tergantung atas formasi/bentukan materi/jasad yang baru. Pengetahuan bijaksana membedakan sebab musabab yang saling tergantung ini disebut “Paccaya-pariggaha-nana” (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari pengertian pengalaman penuh akan sebab-musabab fenomena).

Dengan mengerti kenyataan sebab-musabab yang saling tergantung (paticca-samuppada) ia akan datang pada satu kesimpulan bahwa “hidup di masa lampau adalah sebuah formasi materi dan batin, yang tergantung dari sebab musabab yang terkait dan dengan demikian akan ada proses yang mirip pada kehidupan di masa mendatang”. Pandangan murni seperti ini disebut “Kankha-vitarana visuddhi” (Kemurnian pandangan yang muncul setelah mengatasi keraguan).

Sebelum mengembangkan pengetahuan benar kenyataan bahwa “kehidupan terdiri dari batin dan jasmani yang tergantung atas ’sebab-musabab yang terkait’ terdapat banyak keraguan skeptis apakah terdapat SAYA di waktu lampau, apakah SAYA berada hanya dalam kehidupan ini atau apakah SAYA akan terus ada di waktu mendatang” dengan memegang pandangan bahwa formasi/perpaduan meteri/jasmani dan batin adalah “ATTA” atau “DIRI”. Sekarang keraguan ini tidak dapat muncul karena mereka telah diatasi.

Dengan melanjutkan perenungan lebih jauh, dicerap bahwa materi/jasmani dan batin muncul dan padam pada setiap saat perenungan. Pengertian bijaksana ini disebut “Anicca-sammassana-Nana” (Pengertian bijaksana akan ketidak-kekalan fenomena alam).

Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara konstan muncul dan padam, bahwa mereka secara konstan dicengkeram oleh “muncul dan padam” mereka dipandang sebagai bukan menyenangkan juga tidak patut digantungi, namun hanya merupakan dukkha, tidak memuaskan. Pengetahuan bijaksana ini disebut “Dukkha-sammassana-nana” (Pengertian bijaksana terhadap kondisi yang tidak memuaskan).

Dengan mencerap kenyataan bahwa fenomena materi/jasmani dan batin secara alamiah tidak mengikuti perintah keinginannya, namun muncul dan padam sesuai dengan sifat alamiah dan kondisi relatifnya, maka direalisasi bahwa mereka bukan “atta” atau “diri”. Pengertian bijaksana ini disebut “Anatta-sammassana-nana” (Pengertian bijaksana terhadap segala sesuatu yang bukan atta atau bukan diri).

Setelah merefleksikan kenyataan-kenyataan ini selama ia inginkan, siswa itu melanjutkan dengan perenungan tanpa refleksi lebih lanjut. Ia kemudian mencerap dengan sangat jelas permulaan dari setiap objek perenungannya. Ia juga mencerap dengan sangat jelas padamnya setiap objek perenungannya seolah-olah diputus dengan jelas. Pada tahap ini, seringkali muncul pengalaman-pengalaman aneh, yang mengkondisikan terhambatnya latihan vipassana sehingga menjadi kotor (vipassanupakkilesa), seperti :

  1. Cahaya yang gemilang (Obhasa)
  2. Kegiuran batin (Piti)
  3. Sikap batin tenang (Passaddhi)
  4. Keyakinan kuat tak terhingga terhadap Tiratana (Adhimokkho ti saddha)
  5. Semangat yang sangat tinggi atas pelaksanaan perenungan/meditasi (Paggaha)
  6. Kegembiraan yang mencakup ke seluruh tubuh (Sukkha)
  7. Pandangan yang tajam terhadap sifat alamiah anicca, dukkha dan anatta tanpa halangan (Nana)
  8. Kemampuan di dalam melaksanakan perhatian murni tanpa kehilangan objek (Upatthana)
  9. Keseimbangan batin (Upekkha)
  10. Melekat terhadap fenomena dhamma butir 1 – 9 (Nikanti)

Oleh karena itu, siswa tersebut dapat terbuai sehingga ia tidak dapat lagi menjaga mulutnya, umumnya ia menceritakan pengalamannya. Ia sering kali menganggap bahwa ia telah merealisasi pencerahan sempurna. Inilah indikasi awal atau tahap permulaan dari ‘Udayabbaya-nana‘ (pengetahuan bijaksana atas muncul dan padamnya fenomena) yang lemah. Namun demikian sepuluh fenomena ini adalah jalan yang salah (Amagga).

Kemudian siswa itu memutuskan pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya bukanlah perealisasian pencerahan sempurna yang sesungguhnya, dan bahwa metode perenungan yang tepat untuk merealisasi pencerahan sempurna adalah hanya dengan mengobservasi secara konstan terhadap semua fenomena yang muncul. Ia tiba pada keputusannya ini sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya dari pengalaman atau sesuai dengan petunjuk gurunya.

Keputusan murni ini adalah indikasi “Maggamagga-nana-dassana-visuddhi” (kemurnian pandangan benar terhadap jalan dan bukan jalan).

Setelah tiba pada keputusan ini dan diteruskan dengan melanjutkan perenungannya pengalaman-pengalaman melihat bayangan batin dan perasaan-perasaan lainnya secara bertahap akan berkurang dan pencerapan objek menjadi lebih jelas dan lebih jelas lagi. Muncul dan padamnya fenomena materi pada setiap gerakan di dalam hal satu gerakan membungkuk atau meregangkan tangan atau kaki atau di dalam hal satu langkah, setiap fregmen (bagian) dari satu gerakan akan dengan sangat jelas diamati. Inilah kematangan atau tahap akhir dari “Udayabbaya-Nana”. Perenungan itu mengalir tanpa hambatan seolah terbebas dari “Upakkilesa” (ketidakmurnian).

Setelah pengertian bijaksana (Nana) ini diperoleh cukup kuat, pencerapan terhadap objek-objek dijumpai lebih cepat. Akhir atau padamnya objek lebih jelas dicerap daripada permulaan “Upacara” (pendekatan) dan “Anuloma” (adaptasi). Ini adalah “nana” atau pengertian bijaksana yang tepat bagi 8 vipassana nana yang mendahuluinya dan “Magga-nana” (Pengertian bijaksana atas Jalan) yang mengikutinya.

Pandangan terang mulai dari “Udayabbaya-Nana” yang masak sampai dengan “Anuloma-nana” secara kolektif dikenal sebagai “Patipada-nana-dassana-visuddhi” (Kemurnian dengan pengertian bijaksana dan pandangan terang yang muncul akibat telah mengikuti latihan yang benar).

Setelah Anuloma Nana, muncullah “Gotrabhu-Nana” (Pengertian bijaksana memenangkan kesucian) dimana Nibbana adalah objeknya, dimana duka cita dan ketidakpuasan yang berhubungan dengan fenomena fisik dan batin padam secara total. Ini adalah pengertian bijaksana yang memotong kekerabatan “Puthujjana” (makhluk awam duniawi) dan memasuki kekerabatan “Ariya” (makhluk suci).

Kemudian muncul “Sotapati Magga Nana dan Phala Nana” (Pengetahuan bijaksana dari Jalan Suci pemenang arus dan buahnya) yang merealisasi Nibbana. Magga Nana disebut “Nana-dassana-visuddhi” (Kemurnian pandangan).

Saat kemunculan Magga dan Phala Nana tidak berjeda waktu sedetik pun. Kemurnian segera disusul kemunculan refleksi atas pengalaman khusus “Magga, Phala dan Nibbana”. Ini adalah “Paccavekkhana-nana” (Pengertian bijaksana dari retropeksi/perenungan mendalam).

Seseorang yang telah merealisasi Paccavekkhana-nana sesuai urutan itu disebut sebagai makhluk “Sotapanna” (Pemenang arus).

Khas Anicca, Dukkha, Anatta, dengan kejelasan khusus yaitu dukkha. Ini adalah “Patisankha-nana” (Pengertian bijaksana yang muncul dari perenungan yang lanjut).

Ketika “Patisankha-nana” ini masak, perenungan berlanjut secara otomatis mirip sebuah jam tanpa upaya khusus bagi pencerapan dan pengertian bijaksana. Dilanjutkan dengan perenungan atas objek-objek dengan keseimbangan batin – hanya memperhatikan objek tanpa terlarut di dalam kesenangan maupun ketidaksenangan. Perenungan ini begitu damai dan tanpa upaya khusus saat itu dan dilanjutkan dengan mengetahui objek-objek begitu otomatis dan dapat berlangsung lebih dari satu jam, dua jam atau tiga jam; dan bahkan dapat berakhir dalam jangka waktu yang begitu lama, tanpa lelah atau bosan. Pencerapan yang muncul dalam jangka waktu lama ini merealisasi sifat alamiah objek-objek perenungan secara otomatis dan tanpa terlibat di dalam kesenangan dan ketidaksenangan, disebut “Sankharupekkha-nana” (Pengetahuan bijaksana yang muncul dari keseimbangan batin terhadap sankhara).

Keluar dari perenungan ini yang dilanjutkan secara otomatis dan dengan momentumnya merealisasi objek, muncullah pengertian bijaksana yang khusus sangat cepat dan aktif. Pengertian bijaksana yang muncul langsung menuju sebuah jalan mulia ini yang juga dikenal sebagai “Vuitthana” (elevasi) adalah “Vutthana-gamini-vipassana-nana” (Pengetahuan bijaksana menuju elevasi yang lebih luhur).

Pengertian bijaksana ini muncul merealisasi bahwa fenomena fisik dan batin yang muncul melalui enam pintu indera pada saat itu tidak kekal, tidak memuaskan, dan bukan diri/aku. Pengertian bijaksana terakhir adalah “Anuloma-nana” (Pengertian bijaksana atas adaptasi) yang terdiri dari tiga “javana” (saat-saat dorongan) disebut “Parikamma” (persiapan), seyogyanya melaksanakan latihan meditasi sesuai dengan petunjuk yang diberikan di atas.

 

Ditulis dalam Vipassana Bhavana | 2 Komentar »

Tentang Tantra

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 25, 2009

shiva dan parvati

 

Apa yang Anda dan pasangan harapkan ketika melakukan hubungan seksual? Mungkin salah satunya adalah merasakan kenikmatan orgasme. Namun hubungan seksual tidak hanya mencapai orgasme tetapi juga cara untuk saling mendekatkan hati, emosi dan seksualitas Anda agar tetap bisa merasakan kebahagiaan seksual. Ada berbagai macam cara untuk mencapai kondisi tersebut, salah satunya adalah dengan tantra.

Tantra tercipta di India kuno kurang lebih 6000 tahun lalu. Dalam bahasa Sangsekerta, tantric atau tantra berarti mengembangkan, meluaskan,  menjelaskan, atau menunjukkan. Tantra lebih hebat dari kamasutra. Tantra adalah cara mengembangkan kesadaran dan mempererat dua individu, laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan yang harmoni. Tantra mengajarkan bagaimana cinta suci bisa dicapai melalui hubungan saling mencintai antara laki-laki dan perempuan, tidak hanya dalam hal seks namun juga menyatukan keintiman di segala level.

Hal yang membuat tantra istimewa adalah Anda tidak hanya akan mencapai orgasme, namun juga meningkatkan kesehatan seksual Anda.
Aktivitas keseharian yang padat terkadang membuat Anda tidak memperhatikan kesehatan seksual, atau tidak memperhatikan kebutuhan pasangan. Selain karena kesibukan, keengganan dalam melakukan hubungan seksual dikarenakan ketakutan tidak dapat memuaskan pasangan. Hal inilah yang menjadi fokus utama tantra, yang mengajarkan bahwa seks tidak hanya penyatuan secara fisik antara laki-laki dan perempuan, namun juga membuat pasangan saling menghargai tubuh, gairah, dan kekuatan masing-masing sehingga mendekatkan Anda dengan pasangan Anda tanpa rasa malu atau takut.

Di sisi lain, kesehatan seksual Anda dan pasangan akan menjadi prima, karena orgasme yang kuat dan sering meningkatkan produksi hormon oxytocin dalam tubuh. Jenis hormon ini berhubungan dengan kepribadian, gairah, kemampuan sosial, dan emotional quotient (EQ), yang kemudian akan mempengaruhi karier, pandangan terhadap pernikahan, kehidupan sosial, dan emosi seseorang.

Tantra juga memiliki efek awet muda. Orgasme yang dicapai saat melakukan tantra menstimulasikan saraf otak, yang akan mengubah senyawa kimia dalam tubuh sehingga depresi dan stres akan hilang, sirkulasi darah lancar, memperkuat kardiovascular, dan meningkatkan kekebalan tubuh sehingga harapan hidup meningkat dan menjadi awet muda.

Tantra juga bisa melatih seseorang untuk menggunakan kekuatan diri sendiri sehari-hari. Hal yang membedakan orgasme yang dihasilkan tantra dengan orgasme biasa adalah orgasme tantric sex melibatkan seluruh tubuh, pikiran dan jiwa sehingga efeknya tidak hanya pada saat mencapai puncak, namun berjam-jam setelahnya.
 
Satu hal yang menjadi pegangan utama dalam tantra adalah membagi peran sama besar saat melakukan hubungan seksual. Saling mempercayai adalah kuncinya. Anda harus saling menyerahkan diri, menanggalkan semua ketakutan dan saling mempercayai sampai pada zona aman, maka Anda berdua baru bisa merasakan penyatuan jiwa dalam hubungan seksual Anda berdua dan mencapai tantra.

Ditulis dalam Tantra | 2 Komentar »

Samvara (Pengontrolan Diri)

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Maret 23, 2009

buddha_leshan_statue

5 Pengontrolan Diri

Secara harfiah, istilah Samvara berarti menutup atau menyumbat sesuatu aliran. Arti yang dibawakan di sini adalah menutup atau menyumbat aliran pikiran-pikiran tidak baik atau jahat dengan 5 cara:

1. Pengontrolan diri dengan moral (Sila-samvara)
Sila Pertama: Tak membunuh makhluk hidup.
Sila Kedua: Tak mencuri.
Sila Ketiga: Tak berzina.
obyek zina seperti yang terdapat dalam Anggutara Nikaya V, 266 adalah:
1. Anak dibawah umur
2. Pasangan hidup orang lain
3. Orang hukuman
4. Saudara kandung
5. Bhikku.

Sila Keempat:  Tak menipu.
Sila Kelima: Tak minum minuman keras.

2. Pengontrolan diri dengan perhatian (Sati-samvara)

1. Kayanupassana (watch your body)
“Bergerak” diamati sebagai “bergerak”, “jalan” diamati sebagai “jalan”..
“buahdada bergoyang” tak diamati sebagai “buah dada indah”, melainkan tetap sebagai “buahdada bergoyang”. Sehingga tak terbawa emosi, sehingga merasa ada “aku/diri” pada buah dada bergoyang. Yaitu keakuan yang berpikir, “aku senang buahdada, karena indah, karena membuatku nyaman. aku ingin cari istri sehingga bisa setiap hari bersama buahdada bergoyang”. Ia sudah merasa tak berarti tanpa buahdada indah.
 
2. Vedananupassana (watch your emotion)
“Aku ingin buahdada” diamati sebagai “aku ingin buah dada”. Bukan diamati sebagai “buahdada kan cuma kelenjar kewanitaan”, “Allah kan lebih tinggi dari buahdada”. Bukan Saya melarang, tapi cara seperti itu tak pernah berhasil. Lihat saja AA Gym dan para kiyai lain. “Aku” memang tak pernah muncul dari perasaan. Karena sifat dari vedana, cuma sebagai pembangkit dan penyempurna pikiran saja (sempurna sebagai manusia maksudnya), karena itu keakuan tak akan muncul dari perasaan, vedananupassana cuma untuk pengambilan kebijakan dari kosmos (akan diketahui saat mendapat nyana yang berkaitan)
 
3. Cittanupassana (watch your thoughts)
“uang membuat orang jadi kaya” diamati sebagai “uang membuat orang jadi kaya”. Bukan diamati sebagai “aku harus kerja, aku harus menabung, aku harus investasi”.
Saat seseorang bervipassana terus pada uang, maka ia akan mendapat nyana tentang pengetahuan tentang timbul-tenggelam (uang tergantung pada fluktuasi ekonomi), sehingga tak ada aku/diri pada uang. bukan uang pendukung tetap hidup manusia.
 
4. Dhammanupassana (watch your knowledge)
“islam” diamati sebagai “islam”, bukan diamati sebagai “islam itu kan baik, cuma orangnya saja..”. “atta/atman” dari hindu diamati sebagai “atta/atman” bukan diamati sebagai “pikiran itu atta” atau “meditasi mengenal diri”.

3. Pengontrolan diri dengan pengetahuan langsung (Nana-samvara)
merenungkan hakekat dari empat kebutuhan-kebutuhan hidup (pakaian, makanan, tempat tinggal, obat-obatan) dan tujuan sesungguhnya dalam menggunakan mereka, tidak terseret oleh keinginan serakah. Menggunakan atau menempatkan pandangan terang yang telah dicapai sewaktu berhubungan dengan orang-orang atau sewaktu menghadapi persoalan adalah arti dari bentuk pengendalian diri ini juga.

4. Pengontrolan diri dengan sabar (khanti-samvara)
Sang Buddha bersabda: Khantî paramam tapo titikkha, Sabar adalah tapa tertinggi.
Sabaran ada 2:
a. Adhivasasana Khanti (sabar fisik). Yang dimaksud sabar fisik adalah suatu sikap tenang dan wajar tidak mudah merengek-rengek atau berteriak-teriak dan marah-marah bila kita sedang lapar, haus, kepanasan, kedinginan dan kecapaian. Misalnya di saat kita sedang kerja bakti di vihâra atau melakukan perjalanan jauh (Dhammavisata), mendengarkan ceramah Dhamma, latihan meditasi dan aktivitas lainnya. Kekuatan kesabaran akan tumbuh dan berkembang dalam diri kita bilamana ada latihan dengan cara setahap demi setahap. Sehingga lambat laun daya tahan fisik akan terbentuk dan memberikan perisai atau pelindung pada diri kita.
b. Titikha khanti (sabar mental). Hal ini, merupakan tahapan yang lebih tinggi dari sabar fisik. Jika seseorang telah memiliki sabar mental, ia tidak akan mudah tergoyah dan akan selalu waspada bila ada fitnahan, caci maki dan hinaan, tidak akan mudah marah dan kesal karena perbedaan paham. Tidak akan mudah tersinggung dan mendendam bila ditunjukkan kesalahannya.

5. Pengontrolan diri dengan energy (Viriya-samvara)
a. Berusaha menghindari kejahatan yang belum ada pada mental.
b. Berusaha mengatasi kejahatan yang sudah ada pada mental.
c. Berusaha mengembangkan 7 faktor pencerahan agar kebaikan muncul pada mental.
d. Berusaha menyempurnakan kebaikan yang sudah terwujud pada mental.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kamma (Part 2)

Ditulis oleh Mahavatar di/pada Februari 17, 2009

swimming_girl

 

Terdapat 12 jenis bentuk-bentuk kamma . Bentuk kamma yang lebih berat (bermutu) dapat menekan — bahkan menggugurkan — bentuk-bentuk kamma yang lain. Ada orang yang menderita hebat karena perbuatan kecil, tetapi ada juga yang hampir tidak merasakan akibat apapun juga untuk perbuatan yang sama. Mengapa? Orang yang telah menimbun banyak kamma baik, tidak akan banyak menderita karena perbuatan itu, sebaliknya orang yang tidak banyak melakukan kamma-kamma baik akan menderita hebat.
Singkatnya kamma vipaka dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.
12 macam kamma tersebut dibagi berdasarkan 3 kelompok yakni berdasarkan waktu berbuahnya, berdasarkan kekuatan karma dan berdasarkan fungsinya.

Kamma berdasarkan jangka waktu berbuahnya:
1. Ditthadhamma Vedaniya Kamma adalah Kamma yang berbuahnya juga dalam kehidupan sekarang.
2. Upajja Vedaniya Kamma adalah Perbuatan yang kita lakukan sekarang, hasilnya tepat di kehidupan yang akan datang.
3. Aparapara Vedaniya Kamma adalah Perbuatannya itu hasilnya berturut-turut selama kehidupannya berlansung.
4. Ahosi Kamma adalah Kamma yang tidak bisa berbuah lagi, karena jangka waktu berbuah dan kondisi pendukungya sudah habis.

Kamma berdasarkan kekuatannya:
1. Garuka Kamma adalah Perbuatan yang akibatnya paling besar atau kuat. Yang termasuk Akusala Garuka Kamma.
2. Asañña Kamma adalah Perbuatan yang dilakukan menjelang kematian yang kekuatnnya paling kuat. Jadi misalnya saat kita berada pada menjelang kematian maka setelah itu kita akan dilahirkan di alam sesuai dengan pkiran pada saat menjelang kematian itu, misalnya saja marah maka setelah itu akan terlahir di alam Neraka. Namun itu sesuai dengan karma baik kita juga. Jika karma baik kita menopang maka terlahir di alam Neraka hanya sebentar. Begitu pula sebaliknya.
3. Aciñña Kamma adalah Perbuatan yang dilakukan terus menerus yang akhirnya akan menjadi watak atau kebiasaan ( karena kebiasaan yang dilakukan ).
4. Katatta Kamma adalah Kekuatan yang paling ringan atau cetananya ringan.

Kamma berdasarkan Fungsinya:
1. Janaka Kamma adalah Kamma yang berfungsi untuk mendorong kelahiran suatu makhuk (potensi).
2. Upatahmbaka Kamma adalah Kamma yang fungsinya untuk memperkuat, menambah Janaka Kamma jadi hasilnya bisa menjadi besar (kamma yang searah).
3. Upapilaka Kamma adalah Kamma yang mengurangi kekuatan Janaka Kamma yang arahnya berlawanan.
4. Upaghataka Kamma adalah Kamma yang berfungsi untuk menghancurkan kekuatan dari Janaka Kamma.
Kamma dapat dibagi dalam 3 golongan:
1. Kamma Pikiran (mano-kamma).
2. Kamma Ucapan (vaci-kamma).
3. Kamma Perbuatan (kaya-kamma).

10 kamma baik:
1. Gemar beramal dan bermurah hati akan berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang.
2. Hidup bersusila mengakibatkan terlahir kembali dalam keluarga luhur yang keadaannya berbahagia.
3. Bermeditasi berakibat dengan terlahir kembali di alam-alam sorga.
4. Berendah hati dan hormat menyebabkan terlahir kembali dalam keluarga luhur.
5. Berbakti berbuah dengan diperolehnya penghargaan dari masyarakat.
6. Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain berbuah dengan terlahir kembali dalam keadaan berlebih-lebihan dalam banyak hal.
7. Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
8. Sering mendengarkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
9. Menyebarkan Dhamma berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
10. Meluruskan pandangan orang lain berbuah dengan diperkuatnya keyakinan.

10 kamma buruk:
1. Pembunuhan akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya   senantiasa berada dalam ketakutan
2. Pencurian akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tak tercapai, penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain.
3. Perbuatan asusila akibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal perasaan seksnya.
4. Berdusta akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai.
5. Bergunjing akibatnya kehilangan sahabat-sahabat tanpa sebab yang berarti.
6. Kata-kata kasar dan kotor akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain.
7. Omong kosong akibatnya bertubuh cacat, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai.
8. Keserakahan akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan.
9. Dendam, kemauan jahat / niat untuk mencelakakan mahluk lain akibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela.
10. Pandangan salah akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela.

5 kamma baik yang berat (Kusala Garuka Kamma)
5 kamma sangat berat di bawah ini cuma bisa dilakukan sesudah sebelumnya memiliki 5 sila:
1. Kusala Kamma yang mengarah pada kelahiran di alam manusia (melakukan 5 sila) dan dewa (melakukan banyak kebaikan selain 5 sila).
2. Meditasi rupa jhana (Kusala Kamma yang mengarah pada kelahiran di alam materi (brahma yang bertubuh fisik)).
3. Meditasi arupa jhana (Kusala Kamma yang mengarah pada kelahiran di alam gaib (brahma yang bertubuh pikiran)).
4. Vipassana (Kusala Kamma yang mengarah pada pendapatan magga (buah kesucian), yang bisa mengakhiri kelahiran kembali, melalui pencapaian Nibbana).

5 kamma buruk yang berat (Akusala Garuka Kamma)
5 kamma sangat berat di bawah ini berakibat terlahir di neraka:
1. Membunuh ibu.
2. Membunuh ayah.
3. Membunuh seorang Arahat.
4. Melukai seorang Buddha.
5. Menyebabkan perpecahan dalam Sangha.

 

Tulisan Sebelumnya:
Kamma (Part 1).

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »